Era Baru News >> Iptek >> Iptek >> Penguin Raksasa Selandia Baru Direkontruksi
Penguin Raksasa Selandia Baru Direkontruksi Array Cetak Array  Surel
Ditulis oleh Era Baru   
Senin, 19 Maret 2012 16:27

altKeunikan struktur fisik dari spesies penguin raksasa yang hidup pada sekitar 25 juta tahun yang lalu di wilayah Selandia Baru, akhirnya terungkap.

Penguin prasejarah tersebut dijuluki Kairuku, yang berarti “penyelam yang kembali dengan makanan” dalam bahasa Maori (suku asli di Selandia Baru). Penguin itu dikenal memiliki paruh yang memanjang, dan merupakan penguin terbesar dari lima spesies penguin yang hidup di wilayah tersebut pada saat itu.

“Kairuku adalah penguin yang elegan, dengan tubuh langsing dan sirip panjang, namun badannya pendek, dan berkaki tebal,” ujar ahli paleontologi , Dan Ksepka di North Carolina State University dalam siaran pers.

Tulang-tulang fosilnya pada awalnya ditemukan pada 1977, namun para ahli paleontologi butuh waktu yang lama untuk dapat merekonstruksi seperti apa wujud sang penguin, karena bentuk tubuhnya yang tidak biasa, dan juga jumlah spesies penguin di daerah tersebut. Para ilmuwan menggunakan dua kerangka fosil Kairuku dan kerangka penguin modern, penguin raja, untuk menyimpulkan wujud fisiknya.

“Jika kita melakukan rekonstruksi dengan ekstrapolasi (proses pemanjangan melebihi data) dari panjang sirip, jika berdiri, kairuku akan memiliki tinggi lebih dari 1,8 meter,” jelas Ksepka. “Pada kenyataannya, Kairuku hanya memiliki tinggi badan sekitar 1,2 meter.”

Selandia Baru pada periode Oligosen (34-23 juta tahun lalu) merupakan lingkungan yang jauh lebih berair yang sangat cocok untuk tempat hidup penguin.

“Lokasi itu cocok untuk penguin, baik dari segi makanan maupun perlindungan diri,” kata Ksepka. “Sebagian besar wilayah Selandia Baru berada di bawah air pada saat itu, terisolasi, tanah karang itu membuat penguin aman dari predator dan memberikan mereka banyak suplai makanan.”

Dengan mengelusidasi (memperjelas) bentuk tubuh Kairuku ini, ahli paleontologi dapat belajar lebih banyak tentang fosil-fosil tidak biasa lainnya yang ditemukan di Selandia Baru, yang telah memainkan peran penting dalam meningkatkan pemahaman kita tentang keanekaragaman hayati laut kuno.

Penemuan ini dipublikasikan dalam Journal of Vertebrate Paleontology pada 27 Februari.  (Cassie Ryan / Epochtimes / osc)

 

Bagikan halaman ini ke :

|