Home

Reuters: Kabur, Belum Terinci

Laporan Reuters pada 16 September 2013: APBS dipropagandakan oleh Partai Komunis China sebagai “ versi peningkatan dari ekonomi China .” juga diisyaratkan akan diberlakukan pembebasan penukaran mata uang di sana. Arena seluas 29 km2 ini sudah dipenuhi berbagai simbolisme tetapi belum punya arti sesungguhnya.

APBS menunjukkan kepada dunia luar adanya kontroversi yang sulit bisa diseimbangkan. Reuters mengutip analis dari Standard Chartered Bank yang menggambarkan  jika kebebasan hanya diberikan khusus  kepada perusahaan yang berada dalam zona tersebut, maka manfaatnya sangat kecil. Bila perusahaan yang berada di zona ini dapat memperluas liberalisasi jasa keuangannya kepada perusahaan di seluruh China, dapat dipercaya zona ini akan berlimpah modal.

Aturan pelaksanaan dalam APBS belum diterbitkan oleh pemerintah, jadi segalanya masih kabur, masih berupa dugaan.  APBS bukan zona ekspor barang-barang buatan China seperti yang pernah ada di tahun 80-an. APBS mungkin saja hanya menjadi terminal pelayanan perusahaan dalam negeri, mungkin juga jadi tempat penampung ide dan modal dari perusahaan asing, atau mungkin dijadikan objek untuk mengangkat kembali dari keterpurukan bisnis properti.
 
“Int’l Business Times”:  APBS Tidak Merubah Aturan dalam Permainan

“Int’l Business Times” pada 14 September 2014 melaporkan bahwa PM. Li Keqiang akan membuka secara resmi APBS pada 29 September nanti. Kalangan pengusaha dan analis sedang menunggu aturan permainan yang akan diberlakukan di Arena ini. Bertepatan pertumbuhan PDB saat ini sedang berada di titik terendah selama 20 tahun, mungkin APBS mampu berperan sebagaimana yang diharapkan oleh penguasa saat ini, yaitu reformasi dalam bidang ekonomi dan keuangan yang dapat diandalkan China untuk masa mendatang. Oleh sebab itu APBS sedang menjadi sorotan dari dalam dan luar negri.

Dapat dipahami kalau APBS sedang menjadi topik pembahasan di kalangan pengusaha, investor. Mereka tentu hendak memburu kesempatan untuk mengakuisisi unit-unit usaha yang bisa membawa manfaat. Tetapi beberapa analis memperingatkan bahwa itu tidak sama dengan siaran berita tentang reformasi.

“Wall Street Journal” mengutip berita “Capital Economics” : eksperimen ini tidak akan merubah aturan permainan seperti yang diduga orang.  Manfaat APBS baru bisa dirasakan setelah belasan tahun, tidak mungkin secara dramatis.

Perlu diketahui bahwa pelaksanaan APBS ini menjadi wewenang Dewan Negara yang mendapat mandat dari PKC untuk masa 3 tahun.  

 “Wall Street Journal”: Banyak Petir Tetapi Hujannya Hanya Rintik-Rintik  

Dilaporkan pada 16 September:  Malam hari, jam hitungan mundur dinyalakan di lokasi APB Shanghai. Seiring dengan itu, dunia luar menyambut dengan rasa pesimis.

Akhir pekan lalu, mantan wakil presidenn Bank sentral China memperingatkan agar otoritas  APBS tidak mempreoritaskan pelaksanaan kebebasan menentukan suku bunga yang akan menyebabkan datangnya arus modal spekulatif. Analis juga meremehkan pentingnya program itu.

Di waktu lalu, PKC pernah mengatakan bahwa kebijaksanaan yang diberlakukan di arena  ini akan berupa “kebebasan menentukan nilai tukar, kebebasan menentukan suku bunga dan memberi kelonggaran bagi perusahaan PMA.”

Mc Gregor mantan pimpinan cabang Wall Street Journal China menerbitkan buku yang berjudul ” No Ancient Wisdom, No Followers: The Challenges of Chinese Authoritarian Capitalism” dalam buku karangannya ia mengurai tentang konsep otoritatif kapitalisme China dan menunjuk mereka sebagai panglima-panglima yang menerima manfaat terbesar.

Forbes: PKC Tak Mampu Menghalangi Arus Dana yang Masuk / Keluar China

Berita di “Forbes” pada 16 September: Otoritas Beijing belum siap untuk membuka diri menerima kebebasan bertransaksi. Bila kebijakan Li Keqiang memungkinkan perusahaan dalam negri China yang berlokasi di APBS menikmati kebebasan keuangan, maka dapat diartikan kebebasan nilai tukar sudah di luar wewenang otoriter. Bila tidak demikian, maka nilai tukar yang bebas itu hanya bisa berlaku di dalam wilayah hukum APBS yang sangat terbatas.

Laporan menyebutkan juga bahwa peraturan-peraturan pemerintah China tidak dilaksanakan secara konsisten. Seperti kasus penipuan melalui faktur ekspor yang terjadi di awal tahun ini, menunjukkan bahwa aturan bisa dengan mudah dimanipulasi.

Bila Bank-Bank yang berlokasi di dalam APBS dapat menentukan sendiri penukaran mata uang, niscaya perusahaan-perusahaan di luar lokasi akan berusaha mencari terobosan untuk membuka jalur hubungan dagang guna ikut menikmati kemudahan dalam penerimaan / pengiriman uang masuk / keluar China. Nantinya arus dana akan sulit dikontrol.

Untuk memperjuangkan kebebasan perdagangan, menawarkan keunggulan demi persaingan. Para pejabat daerah juga sedang mempersiapkan diri mendirikan zona perdagangan bebas. Seperti Tianjin yang terkalahkan oleh Shanghai, sekarang sedang mempersiapkan kebijakan moneter untuk menggalakkan dunia properti mereka. Di wilayah selatan, Pulau Hengqin dan Nansha juga berharap membuat area super demi intergrasi keuangan dengan Hongkong.

Ketika nanti Arena Perdagangan  Bebas sudah berdiri di mana-mana, maka di sana menjadi tempat penukaran akun modal. (et/str/mat)

Bagikan ke teman-teman :

berita kehidupan, nasional, internasional

erabaru footerErabaru (Epoch Times Indonesia) hadir dalam bentuk media cetak dan situs online. Kami menempatkan kepentingan pembaca sebagai prioritas utama. Semangat kami adalah memberikan kontribusi bagi pembaca agar dapat meningkatkan kehidupan mereka dan meningkatkan pemahaman dan penghargaan terhadap kehidupan sesama baik dalam lingkup lingkungan sekitar maupun lingkup dunia. Jaringan reporter kami tersebar di berbagai belahan dunia, meliput berita lokal yang otentik dan berhubungan dengan dunia global. Kemandirian kami memungkinkan kami dapat memberikan laporan secara luas, fakta yang dapat dipertanggungjawabkan dan menyajikan keberagaman pandangan.