Home

VIDEO NTDTV

This text will be replaced

 

Sebagai bagian dari "Proyek Angkatan Laut," bahan peledak tersebut diledakkan di Samudera Pasifik hingga berpotensi menciptakan tsunami dahsyat yang mampu membanjiri sebuah kota kecil, sebagaimana dilaporkan The Telegraph, yang dikutip dari penulis dan pembuat film Selandia Baru, Ray Waru, yang memperoleh informasi itu dari sejumlah file militer.

"Mungkin jika bom atom tidak bekerja sebagaimana yang diinginkan, kita mungkin mengalami tsunami orang," kata Waru kepada surat kabar tersebut.

Pada tahun 1999, pemerintah Selandia Baru memindahkan daftar rahasia "Proyek Angkatan Laut," yang pertama kali mengungkapkan adanya senjata pengujian untuk menimbulkan tsunami, namun laporan Telegraph, Rabu lalu menunjukkan untuk pertama kalinya bahwa tes tersebut kemungkinan benar-benar telah berhasil.

"Ini benar-benar menakjubkan. Pertama siapapun yang akan datang dengan gagasan mengembangkan senjata pemusnah massal berdasarkan tsunami ... dan juga bahwa Selandia Baru tampaknya telah berhasil mengembangkan ke tingkat yang mungkin telah bekerja, "kata Waru, yang mempublikasikan temuannya dalam sebuah buku baru, Secrets and Treasures.

The Telegraph melaporkan bahwa hampir 4.000 bom diledakkan di Semenanjung Whangaparaoa dan dekat wilayah pulau Perancis Kaledonia Baru dalam upaya untuk menghasilkan tsunami.

Waru mengatakan bahwa pengujian pertama memberikan hasil tetapi proyek ini ditutup pada tahun 1945. Sejumlah pejabat Selandia Baru di tahun 1950 terus bereksperimen dalam menghasilkan tsunami sebelum menyimpulkan bahwa bom tsunami yang berhasil akan membutuhkan sekitar 2 juta kilogram (4,4 juta pon) bahan peledak tersusun dalam baris untuk menghasilkan tsunami lima mil dari pantai.

"Jika Anda memasukkannya ke dalam film James Bond itu akan dipandang sebagai fantasi tapi itu hal yang nyata," kata Waru. "Saya hanya datang tepat karena mereka masih memeriksa laporan, jadi laporan itu didudukan di meja seseorang [dalam arsip]."

Toby Laing, salah satu korban yang selamat dari kelompok penguji senjata, menggambarkan pengalaman itu sebagai "Bang, bang, bang sepanjang hari, itu sebabnya aku sangat tuli sekarang," menurut situs berita Stuff yang berbasis di Selandia Baru. Dia berbicara dengan Stuff pada tahun 1999 setelah terungkapnya proyek itu.

Letnan Kolonel Thomas Leech, dari Universitas Auckland dan yang bertanggung jawab atas "Seal Proyek," katanya  pada saat itu gelombang tinggi 11 meter (36 kaki) dapat dihasilkan, seperti dilaporkan Stuff.

Namun, Laing mengatakan tes itu sebagian besar gagal.

"Jika Anda berada di sebuah perahu kecil, Anda bisa menaikan beberapa gelombang," kata Laing.

File-file tidak mengidentifikasi target ditujukan untuk bom, tapi Laing mengatakan mereka semua menduga targetnya adalah Jepang. (EpochTimes/sua)

 

Bagikan ke teman-teman :

berita kehidupan, nasional, internasional

erabaru footerErabaru (Epoch Times Indonesia) hadir dalam bentuk media cetak dan situs online. Kami menempatkan kepentingan pembaca sebagai prioritas utama. Semangat kami adalah memberikan kontribusi bagi pembaca agar dapat meningkatkan kehidupan mereka dan meningkatkan pemahaman dan penghargaan terhadap kehidupan sesama baik dalam lingkup lingkungan sekitar maupun lingkup dunia. Jaringan reporter kami tersebar di berbagai belahan dunia, meliput berita lokal yang otentik dan berhubungan dengan dunia global. Kemandirian kami memungkinkan kami dapat memberikan laporan secara luas, fakta yang dapat dipertanggungjawabkan dan menyajikan keberagaman pandangan.