Kehidupan

 

crimeaSejak berakhirnya referendum di Semenan­jung Crimea pada 16 Maret 2014 lalu, stasiun TV CCTV beserta media partai lainnya secara mutlak condong ber­pihak Rusia dan mendukung referendum tersebut.

Surat kabar Global Times yang se­belumnya mendukung penuh invasi Putin kembali menerbitkan artikel membela Rusia dengan menepis Eropa dan AS.

"Hasil referendum bukan akibat ancaman Rusia, me­lainkan keinginan dari 80% etnis Rusia yang berbahasa Rusia, dari lubuk hati mereka terdalam, sama sekali tidak perlu ancaman senjata."

Media partai hanya akan menyertai PKT (Partai Komunis Tiongkok) terus menipu pembaca, bahkan tidak ada pengetahuan sejarah yang paling mendasar sekali pun, ber­bohong tanpa mengedipkan mata.

Dalam sejarah, dengan alasan membasmi sisa Tentara 'Putih', Rusia masuk ke negeri Tiongkok di wilayah Tannu Uriankhai.

Pada Maret 1921 Rusia juga melakukan suatu 'referendum' memaksakan wilayah Tiongkok seluas 240.000 km2 (dua kali wilayah Austria) ini memisahkan diri dari Tiongkok dan menjadi ba­gian dari Federasi Rusia, dan kini telah menjadi "Otonomi Republik Tuva" (Tuva terletak di bagian ujung selatan dari Siberia atau berada di dekat Asia Tengah).

Oktober 1945, di bawah perencanaan Rusia, Mongolia juga didorong untuk melakukan referendum, dan hasilnya 98% warganya setuju unuk memerdekakan diri. Ru­sia pun sukses memisahkan Mongolia dari Tiongkok. Oleh karena itu, muncul sebuah negara Republik Rakyat Mongolia. Karena dua kali referendum yang direncanakan oleh Rusia, menyebabkan Tiongkok kehilangan wilayah negara se-luas 2 juta km2 (lebih besar se­dikit dari luas daratan RI yang 1.922.570 km2).

Pada masa kepemimpinan Stalin (pemimpin Uni Soviet pasca Lenin, memerintah antara 1925-1953), di Haišenwei berdiam ratusan ribu suku Manchuria dan suku Han. Atas instruksi Stalin yang disebut sebagai 'bapak' dan 'guru' oleh PKT, dilaku­kan pembersihan terhadap suku Han dan Manchuria. Ratusan ribu orang dibantai, atau dipaksa meninggalkan wilayah tersebut.

Selama ta­hun 1958 - 1991, pemerin­tahan Uni Soviet membuat peraturan hanya warga Soviet boleh berkunjung dan mene­tap di Haišenwei sehingga suku Han dan Manchuria se­lamanya terusir dari kampung halaman mereka. Lalu Jiang Zemin bertingkah royal, dengan memberikan wilayah Haišenwei termasuk Pulau Sakhalin pada Rusia sehing­ga tanah tersebut selamanya terpisah dari Tiongkok. Kini, Haišenwei juga telah berubah nama menjadi 'Vladivostok'.

Menanggapi rezim Rusia yang kembali mendorong referendum bagi Semenanjung Crimea memisahkannya dari Ukraina, tanpa menoleh pada sejarah 'aib' dicaploknya ta­nah Tiongkok dengan refer­endum yang disutradarai Uni Soviet, media partai seperti surat kabar Global Times dan CCTV justru ikut merayakan dan bersorak sorai atas ke­menangan perompak baru itu. Lagi-lagi media partai mengungkap paras asli PKT selaku pengkhianat bangsa.

Di tengah sorak sorai me­dia PKT mengelu-elukan ha­sil referendum Crimea, para politisi dan aktivis masyara­kat Rusia menorehkan tanda tangan mendeklarasikan se­jumlah pernyataan yakni: "Menentang agresi terhadap Crimea", "Menentang perang", dan "Menentang bangkitnya diktator".

Pernyataan bersama ini diterbitkan di su­rat kabar Daily News Rusia, dan menyerukan pada dunia, "Negara kami sedang men­jalani perilaku yang sangat berbahaya. Di bawah slogan 'melindungi bangsa Rusia di Crimea' sebenarnya telah ter­jadi invasi terhadap Crimea. Hal ini tidak hanya melang­gar hukum internasional, juga telah melanggar kesepakatan perdamaian dan stabilitas da­taran Eropa. Dan akibat dari tindakan agresi ini adalah suatu malapetaka."

Seorang politikus Ru­sia mantan anggota kongres Duma, Kennaji Gudkov, mengatakan bahwa saat hadir dalam penandatanganan kesepakatan kembalinya Crimea ke pangkuan Rusia pada 18 Maret lalu, Putin mengecam orang-orang yang menentang 'kembalinya' Crimea pada Rusia sebagai "pengkhianat negara."

"Pengkhianat negara" ini adalah ungkapan di masa Uni Soviet dulu. Saat mendengar kata-kata Putin ini, saya langsung teringat ke­jadian di era 1930-an, dimana dilakukan penangkapan ter­hadap "musuh-musuh rakyat" di berbagai perusahaan besar Uni Soviet kala itu. Istilah ini sangat populer di kamp kon­sentrasi GULAG, istilah ini mengisyaratkan tangkap dan tembak mati.

Gudkov menyatakan bahwa pro­paganda Rusia telah menye­babkan terpisahnya Crimea. Kini setengah dari warganya telah terpengaruh propagan­da media, bahkan tidak ka­lah seriusnya dibandingkan masa Stalin atau fasisme Jer­man - diperkirakan sebanyak 75% warga telah tertipu dan terjebak dalam propaganda media, mereka meyakini apa yang disebut kebenaran oleh pemerintahan Rusia. Tapi 25% selebihnya memahami, invasi terhadap Crimea akan berdam­pak teramat buruk bagi negara dan rakyat, akan menyebab­kan runtuhnya ekonomi Rusia, bahkan lebih dari itu semua.

Politikus Rusia Andre Pe­terkov mengatakan bahwa Putin ingin membuktikan, dari sebuah negara diktator yang sangat kejam Rusia akan melang­kah menuju ke suatu rezim totaliterisme. Putin mengejar impian kebangkitan imperi­alisme, mengejar berdirinya sebuah 'dunia Rusia' atau mengambil kembali seluruh "tanah Rusia dalam sejarah". Untuk itu Putin menciptakan suatu jaminan propaganda berupa legenda baru dan membuka opini publik.

Agresi secara terang-terangan dan 'referendum' yang disutradarai oleh rezim Putin sedang memecah wilayah Ukraina.

'Referen­dum' ibarat sebilah senjata tajam di tangah penyamun, seperti referendum yang diciptakan oleh Soviet dulu terhadap wilayah Tiongkok Kini rezim Putin yang meng­gunakan jurus lama hanya mengganti wilayah sasaran­nya saja, senjata tajam referendum ini digunakan untuk membelah Ukraina. Namun ingatan para warga pendahulu yang diwariskan turun temu­run dan catatan sejarah yang tak terkikiskan oleh zaman tidak akan bisa menghapus sejarah. Bukankah dikatakan "melupakan sejarah adalah semacam pengkhianatan?" (sud/rahmat)

 

Bagikan ke teman-teman :

berita kehidupan, nasional, internasional

erabaru footerErabaru (Epoch Times Indonesia) hadir dalam bentuk media cetak dan situs online. Kami menempatkan kepentingan pembaca sebagai prioritas utama. Semangat kami adalah memberikan kontribusi bagi pembaca agar dapat meningkatkan kehidupan mereka dan meningkatkan pemahaman dan penghargaan terhadap kehidupan sesama baik dalam lingkup lingkungan sekitar maupun lingkup dunia. Jaringan reporter kami tersebar di berbagai belahan dunia, meliput berita lokal yang otentik dan berhubungan dengan dunia global. Kemandirian kami memungkinkan kami dapat memberikan laporan secara luas, fakta yang dapat dipertanggungjawabkan dan menyajikan keberagaman pandangan.