Era Baru News >> Kehidupan >> Keluarga >> Tersesat di Dasar Laut Selatan II
Tersesat di Dasar Laut Selatan II
Era Baru Rabu, 03 Februari 2010

surgaabadiTiga perahu tempel pun dikerahkan dalam pencarian itu. Delapan nelayan dan dua orang guru mencari ke tengah laut. Sementara dua warga lainnya, bersama dua Guru beserta pak Kadus melakukan penyisiran di sela-sela batu dan tebing karang. Karena ombak pantai semakin surut siang ini.

“Bima........, Virgo,.............Charles..............”

“David,...........Chalik,...........Erno,.........”

Sambil melakukan penyisiran,

“Apa iya pak, mereka disembunyikan penunggu laut selatan??!,” ujar pak Budi, guru matematika SD Pluto setengah tak percaya.

“Kepercayaan masyarakat dusun kami,” sahut pak Kadus.

“Biasanya setiap tahun mereka minta korban. Dua hingga empat orang, rata-rata anak muda. Tepatnya, setiap purnama kesepuluh. Dan itu adalah tadi malam. Orang-orang tua sudah sering mengingatkan, namun hanya dianggap cerita angin lalu”.

“Biasanya setiap bulan purnama keindahan pantai ini selalu membius para anak-anak muda untuk memadu kasih. Namun, tadi malam tak ada anak muda yang kesini, karena bertepatan dengan konser band ulang tahun kelurahan,” tutur pak Kadus meyakinkan.

Bulu kuduk pak Budi pun semakin merinding. Namun, dia tak ada pilihan lain, selain turut serta menyisir batu dan tebing karang.

“Tampaknya angin semakin kencang pak, saya khawatir ombak akan semakin besar,” ujar salah seorang warga.

“Baik, kita naik tebing di depan,” jawab pak Kadus enteng.

Pak Kadus pun kemudian mempercepat langkahnya, dan diikuti tiga orang lainnya. Mereka kemudian menaiki tangga yang tampaknya dibuat atau mungkin terbentuk secara alami pada tebing karang.

Usai menaiki tebing setinggi tiga meter itu, mereka pun terdiam dan menghela nafas. Sejurus, mata mereka menerawang ke arah air laut, dan ombak yang ternyata memang berangsur-angsur membesar. Tak jelas, apakah mereka berpikir seandainya jenasah enam orang siswa mengambang di air. Padahal, dalam hati mereka harap-harap cemas enam anak-anak yang hilang dapat ditemukan dalam keadaan selamat.

“Biasanya, kalau memang meninggal, jenasah mereka akan ditemukan paling cepat tiga hari dari sekarang. Konon katanya dikembalikan oleh penunggu Laut Selatan,” ujar pak Kadus sambil melangkah gontai, setapak demi setapak.

Namun kali ini, tak ada yang menyahut. Tampaknya tak sepenuhnya karena ke capai-an. Yang jelas, kecemasan mendalam semakin menggelayut dalam wajah empat lelaki paruh baya ini.

Mereka pun melangkah perlahan, di atas tebing karang, ke arah sebaliknya. Sesekali mereka berhenti sejenak, namun bukan untuk melepas lelah. Melainkan, memastikan pandangan mereka, ke arah air laut, ke arah tebing, dan tak lupa ke arah semak-semak di atas tebing.

Mentari senja hampir kembali ke peraduan, 15 lelaki paruh baya. 10 orang nelayan, empat guru SD Pluto dan juga pak Kadus, duduk terdiam seribu bahasa di atas rumput hijau diselingi pasir. Sebagian memandang sendu ke-arah laut lepas tanpa sadar dan tahu apa yang diterawang. Sebagian lagi tertunduk lemas.

“Kita pulang dulu. Besok pagi kita lanjutkan pencarian lagi,” ujar pak Kadus sambil terbangun dari duduknya. Sementara 14 lelaki lainnya hanya menjawab dengan bahasa badan, mengangguk dan bangun dari kesenduan dan duduknya.

”Pak guru tidur di rumah saya aja,” ujar pak Kadus dijawab anggukan oleh pak Budi.

“Kang, tolong buat pesanan grup Gambelan untuk besok pagi ya!!,” sambung pak Kadus sambil menoleh kepada salah seorang nelayan, yang juga dijawab anggukan tanpa bumbu kata-kata.

Akhirnya, mereka pun berjalan meninggalkan pantai yang diikuti langkah mentari seolah tenggelam di telan laut lepas.

Bersambung...

 

(NB : Cerita ini diambil dari sebuah eNovel 'Petualangan Menuju Surga Abadi' karya Wayan Adi. Dipublish bersambung Senin s/d Jum'at. Artikel sebelumnya bisa dibaca di Rubrik Kehidupan (Keluarga))


 

Bagikan halaman ini ke :

| |

Cari Artikel di Era Baru :

Ingin berita terkini EB muncul di Beranda Anda?

Ayo, gabung bersama ribuan penggemar lainnya!