Kesehatan

mainan-tiongkokWashington - Saat musim liburan tiba, banyak anak-anak akan menuju ke toko-toko dan membeli mainan. Dari manakah mainan-mainan itu berasal?

Sebagian besar dari kita bisa menebak bahwa mainan itu paling banyak dibuat di Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Namun terdapat sedikit kewaspadaan tentang bagaimana pekerja asal Tiongkok membuat mainan.

Bulan lalu, LSM hak buruh, China Labour Watch (CLW), menerbitkan sebuah laporan yang tidak menguntungkan bagi kondisi kerja dari empat pabrik mainan di Tiongkok selatan Provinsi Guangdong, dimana industri manufaktur mainan buatan Tiongkok paling terkonsentrasi.

Temuan itu berdasarkan penyidik CLW yang menyamar sebagai pekerja dan bekerja bersama pekerja lainnya dari Juni hingga November.

Pabrik-pabrik yang diselidiki ini membuat mainan untuk brand terkenal, seperti Mattel, Fisher-Price, Disney, Hasbro, dan Crayola, serta untuk pengecer besar, seperti Target, Kid Galaxy, Kids II, dan lain sebagainya.

Penyelidikan menemukan sebuah rentetan panjang pelanggaran hukum dan etika. Sebagian besar pelanggaran hak-hak buruh itu sama dengan yang ditemukan dalam penyelidikan CLW terhadap pabrik pemasok mainan pada tujuh tahun lalu.

Pada 11 Desember, Congressional-Exsecutive Comission on China (CECC) menggelar sidang untuk menilai tuduhan CLW tersebut, dan apa yang telah dilakukan oleh industri mainan Tiongkok untuk mengatasi laporan kondisi kerja yang buruk.

Bertajuk "Kondisi Kerja dan Audit Pabrik di Industri Mainan Tiongkok," sidang tersebut memperdengarkan kesaksian dari saksi ahli pada bidang efektivitas sektor swasta, sukarelawan, audit sosial pabrik mainan di Tiongkok.

Ketua CECC, Senator Sherrod Brown (D-Ohio) memberikan beberapa konteks untuk sidang. Dia mengatakan Bryan, Ohio, dengan bangga membuat Etch A Sketch, permainan yang telah diingatnya semasa kanak-kanak. Brown mengatakan kepada Wal-Mart bahwa pembuat mainan, Ohio Art Company, akan mengalami penurunan kuantitas produk yang dijual.

Pada 2001, produksi terbesar Etch A Sketch telah dipindahkan ke Shenzhen, Tiongkok. 100 orang kehilangan pekerjaan mereka untuk kategori pekerja upah rendah, yang bekerja di bawah kondisi pelanggaran hukum tenaga kerja yang umum.

"Tahun lalu, Amerika diperkirakan membeli 22 miliar dollar AS mainan, 80 persen di antaranya dibuat di RRT. Konsumen Amerika memiliki hak untuk mengetahui bagaimana mainan-mainan tersebut dibuat dan mempertimbangkan biaya sebenarnya dari membeli mainan buatan Tiongkok," ujar ketua bersama CECC, Rep. Chris Smith, saat menyampaikan pernyataan pembukaan.

Kondisi Kerja

Laporan China Labour Watch (CLW) menemukan bahwa keempat pabrik yang diselidiki itu mempekerjakan pekerja lembur setidaknya 100 jam sebulan, dimana hal ini merupakan pelanggaran terang-terangan dari angka maksimum 36 jam per bulan berdasarkan hukum Tiongkok yang dirilis pada September lalu.

Salah satu pabrik, bahkan ada yang lebih dari 120 jam lembur per bulan. Selama musim sibuk, biasanya para pekerja bekerja enam hari seminggu, dengan 11 atau 12 jam shift.

"Semua pabrik yang diselidiki tidak menyediakan peralatan pelindung yang memadai meskipun mereka sendiri telah melaporkan tentang adanya bahan kimia yang berbahaya," tulis CLW dalam laporan.

Para pekerja berdesak-desakan di kamar asrama yang pengap dengan 8-18 orang per kamar, lima kamar mandi untuk 180 orang, dan mengalami sering pencurian. Para pekerja tidak memiliki representasi persatuan buruh. Jika persatuan buruh tertulis di pabrik, maka kemungkinan besar hanyalah nama belaka.

"Representasi persatuan buruh tidak dipilih oleh para pekerja dan ketua persatuan buruh itu adalah anggota tim manajemen perusahaan," tulis laporan tersebut.

Tiga dari empat pabrik tidak mengizinkan seorang pekerja untuk hanya memberikan pemberitahuan ketika mengundurkan diri, yang seharusnya dijalankan berdasarkan hukum di Tiongkok. Para pekerja harus mendapatkan persetujuan dari manajemen untuk mengundurkan diri. Jika mereka mengundurkan diri selama musim puncak, mereka akan kehilangan uang pesangon dan asuransi sosial mereka, seperti pensiun dan asuransi kesehatan.

Bagaimana pabrik-pabrik tersebut bisa lolos dari pelanggaran hukum lembur RRT yang maksimal 36 jam?

Li Qiang, direktur eksekutif dan pendiri China Labour Watch, menjawab pada sidang itu bahwa para pejabat perusahaan itu telah melakukan "lobi" dengan pejabat pemerintah daerah untuk melemahkan penegakan hukum. Hal yang sama berlaku dalam pelanggaran asuransi sosial yang kurang dari yang seharusnya diberikan.

Li mengatakan bahwa pabrik mengeksploitasi pekerja pada musim libur. Manajemen menginginkan pekerja untuk berhenti, sehingga mereka tidak perlu untuk membayar uang pesangon atau asuransi sosial. Caranya, lembur akan ditolak, yang memaksa para pekerja untuk mengundurkan diri, karena tanpa lembur, mereka tidak memiliki upah yang layak. (osc/rahmat)

Bagikan ke teman-teman :

berita kehidupan, nasional, internasional

erabaru footerErabaru (Epoch Times Indonesia) hadir dalam bentuk media cetak dan situs online. Kami menempatkan kepentingan pembaca sebagai prioritas utama. Semangat kami adalah memberikan kontribusi bagi pembaca agar dapat meningkatkan kehidupan mereka dan meningkatkan pemahaman dan penghargaan terhadap kehidupan sesama baik dalam lingkup lingkungan sekitar maupun lingkup dunia. Jaringan reporter kami tersebar di berbagai belahan dunia, meliput berita lokal yang otentik dan berhubungan dengan dunia global. Kemandirian kami memungkinkan kami dapat memberikan laporan secara luas, fakta yang dapat dipertanggungjawabkan dan menyajikan keberagaman pandangan.