Era Baru News >> Kesehatan >> Kesehatan >> Donor ASI Bantu Sesama
Donor ASI Bantu Sesama
Ditulis oleh Wayan Adi/ Era Baru Selasa, 18 May 2010

imdJakarta – Donor darah, mungkin sudah sering kita dengar keberadaannya di Indonesia. Donor ASI?, nah ini mungkin masih menjadi barang langka di Indonesia. Walau diluar negeri, donor 'air susu ibu' sudah menjadi sama pentingnya dengan donor darah.

Walau demikian, sejumlah ibu-ibu yang di Indonesia tampaknya mulai membuka mata dan hati untuk berdonor ASI.

Misalnya, Artika Sari Devi, Putri Indonesia 2004 yang telah menjadi salah satu pendonor ASI. Istri Ibrahim Imran alias Baim ini berbagi pengalaman menjadi pendonor ASI dalam seminar  AIMI (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia) dalam Breastfeeding Fair 2010 di salah satu Mall di Jakarta, akhir pekan lalu.

Artika sendiri mengalami pengalaman unik ketika melahirkan dan menyusui bayinya. Air susunya keluar bak ‘banjir bandang’, keluar hingga beberapa liter dalam sehari. Sementara ASI sebanyak itu tentu saja tidak habis dikonsumsi si Buah Hati Artika dan Baim.

Atas tawaran paramedis, Artika pun menyumbangkan susunya untuk bayi yang tidak beruntung.

“Air susu yang keluar melimpah itu kami tampung, dan atas penawaran pihak rumah sakit. Kami akhirnya mendonorkannya,” ujar Artika dalam seminar tersebut.

Banyak bayi memang tidak beruntung setelah lahir. Sang ibu belum tentu siap menyusui ketika mereka datang ke dunia ini.

“Banyak ibu yang belum siap menyusui ketika anak-anak mereka lahir. Misalnya, air susu mereka tidak keluar, dan ada juga kualitas ASI yang tidak bagus. Masalah tersebut lebih banyak dialami bayi yang lahir premature” ujar seorang pakar kesehatan, Dr. Faizah Ali Sibromalisasi dalam seminar yang sama.

Faizah menjelaskan, tidak jarang si Bayi yang tidak beruntung mengalami kondisi kritis karena lambat mendapatkan donor ASI. Padahal ASI adalah makanan pokok bayi, seperti layaknya orang dewasa makan tiga kali sehari. Karena alasan itulah, Artika dan Baim hingga kini masih siap mendonorkan ASI untuk mereka yang membutuhkan.

donorasi“Selama persediaan (ASI) kami masih ada, saya selalu siap memberikannya kepada yang membutuhkan. Suami saya Mesenggernya. Dia siap mengirim ke rumah sakit, bahkan jam 3 ataupun jam 4 subuh. Kami merasa terhibur ketika apa yang kami berikan bisa menolong nyawa bayi yang kurang beruntung,” sambung Artika.

Untuk itu, baik Faizah maupun Artika sangat setuju untuk membangkitkan kesadaran donor ASI di kalangan ibu-ibu. Bahkan, mereka siap mendukung jika di Indonesia didirikan Bank ASI seperti yang ada di Negara-negara maju.

Namun, pembentukan ‘Bank ASI’ yang menampung donor ASI hingga kini masih menjadi kontroversi di Indonesia.

Sejumlah agama yang diakui di Indonesia menilai donor ASI bisa mengacaukan garis keturunan.

“Penerima donor ASI tidak boleh menikah dengan anak pendonor. Itu kepercayaan ditengah-tengah masyarakat kita,” ujar Faizah.

Namun, menurut Faizah seharusnya hal tersebut tidak menjadi masalah, selama payudara pendonor tidak menempel atau dihisap langsung oleh bayi penerima donor.

Faizaah menjelaskan, ketika bayi menghisap payudara seorang ibu, maka saraf otak mereka akan saling berhubungan.

Karena itulah, anak yang menyusu cukup dari sang ibu akan menjadi lebih penurut terhadap sang ibu karena ikatan emosional yang kuat. Sedangkan anak yang sedikit atau tidak pernah menyusu akan cenderung bandel dan membangkang terhadap orang tua.

Nah, bagi anda para ibu, jangan korbankan masa depan anak anda demi kepentingan pribadi. Susu-ilah anak anda, demi perkembangan otak dan moralitasnya.(adi/waa)