Kesehatan

 

ekonomi-china2Ekonomi China berada dalam kondisi lesu dan kurang menguntungkan sejak awal 2014. Para ahli memprediksi bahwa tingkat pertumbuhan ekonomi China bakal mengalami penurunan hingga 50%.

Hal serius lainnya adalah tentang logika pergerakan ekonomi China yang telah berjalan selama lebih dari 20 tahun akan menemui titik kegagalan. Memaksa para pengambil kebijakan untuk menentukan langkah bertahan atau beralih pada model pertumbuhan ekonomi yang baru.

Hutang Pemerintah Daerah dan perusahaan serta masalah-masalah sistemik ekonomi lainnya yang tersembunyi di balik masalah hutang akan menyebabkan pergolakan hebat dalam masyarakat yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Artikel tulisan kolumnis dan manager International Hedge Fund, Liu Haiying yang dimuat dalam 'Financial Times' berbahasa Mandarin menyebutkan, perbedaan ekonomi China 2014 yang menyolok dengan masa sebelumnya selain pada masalah penurunan pertumbuhan, masalah serius jutru terletak pada pemerintah China yang masih mengharapkan pertumbuhan ekonomi melalui model lamanya yang jelas sedang bergerak cepat menuju titik kegagalan.

Pada 2014 ini, pergerakan ekonomi China akan mencapai persimpangan jalan antara model lama dan baru. Kondisi ini akan menyebabkan berbagai pergolakan hebat di masyarakat. Tindakan pemerintah dalam menangani pergolakan yang terjadi akan menjadi penentu bagi perkembangan ekonomi China di masa mendatang.

Menurut Liu, jumlah hutang yang terus membesar merupakan dampak dari ekonomi model lama, terutama tergambar dalam 3 isu berikut ini.

Pertama, Kewajiban (hutang) perusahaan China menempati posisi teratas di antara negara ekonomi utama dunia, adalah sifat dari ekonomi model lama.

Kedua, Kualitas aset milik Pemerintah Daerah yang dibangun dengan dana hutang tidak mampu manghasilkan dana likuid.

Ketiga, Hal lain yang lebih mengerikan dari pada masalah hutang adalah hubungan ekonomi yang terkait, perusahaan sekarat dan industri dengan kelebihan kapasitas akan terus meminta pembiayaan perbankan untuk bertahan hidup. Hal ini menyebabkan sumber daya dari masyarakat terus dialirkan ke proyek-proyek gagal investasi. Selain itu, dana yang disalurkan oleh perbankan untuk menghidupi perusahaan dengan kelebihan kapasitas akan berakibat pada tingginya pembiayaan pinjaman.

Getaran dari krisis hutang ini selanjutnya muncul sampai permukaan keuangan negara. Kurangnya pengontrolan terhadap kegiatan Bank bayangan / gelap menyebabkan dana terus mengalir ke Pemerintah Daerah digunakan untuk pembiayaan real estate, menunjang industri dengan kelebihan kapasitas dan perusahaan-perusahaan sekarat. Akhirnya menimbulkan penurunan ekonomi, deflasi dan tingkat bunga yang tinggi. Dalam kondisi seperti ini, perusahaan-perusahaan gagal memenuhi kewajiban mereka dan membawa efek domino yang mengkhawatirkan.

Dilukiskan oleh Liu, ketika beberapa industri berjuang tetapi tidak mampu menyelesaikan kewajiban mereka terhadap Bank, setelah melanggar pembayaran keras, kesenjangan yang timbul akan berdampak pada lembaga-lembaga kepercayaan dan pihak-pihak yang terlibat di dalamnya.

Mengingat Industri China memiliki rasio hutang yang tinggi, profitabilitas dan efisiensi modal rendah, maka resiko yang mereka bawa lebih besar.

"Sulit untuk membayangkan bila masalah hutang ini tidak berakibat pada penyebaran masalah lainnya," kata Liu. Belakangan berkembang menjadi krisis keuangan.

Media asing : Krisis hutang China sudah tiba

Dalam laporan lembaga pemeringkat Fitch bulan Oktober tahun lalu menilai, total hutang China akhir 2012 mencapai 198% Produk Domestik Bruto mereka. Meningkat 125% dari 2008. Tetapi dalam kenyataannya yang dilaporkan oleh pemerintah China menyebut pertumbuhan ekonomi China tahun 2012 mencapai 7.6%. Sementara itu lembaga-lembaga investasi internasional memprediksi pertumbuhan ekonomi China tahun 2014 akan merupakan yang paling buruk sejak 1990. Pemenang hadiah Nobel di bidang ekonomi Robert Samuelson bahkan berpendapat bahwa rata-rata pertumbuhan ekonomi China paling tinggi hanya mencapai sekitar 3-4%.

Laporan Bloomberg 5 Februari menyebut Bill Gross dari Pacific Investment Magement Company mengatakan, China merupakan pasar dengan resiko tertinggi di antara negara berkembang dunia. Pertumbuhan ekonomi China 2014 yang tidak pasti akan meningkatkan kecemasan investor.

30 Desember 2013, laporan hasil audit pemerintah China menunjukkan, jumlah seluruh hutang dalam negeri meningkat 67% sejak 2010. Angka itu sudah mencapai RMB,17.9 triliun (sekitar USD.3 triliun) di Juni 2013, yang setara dengan 33% dari PDB China. Sedangkan perbanding itu hanya mencapai 10% di tahun 2008 dan hampir 0% di 1997.

Menurut perhitungan JP Morgan, total hutang dalam negeri China pada 2012 mencapai RMB 65 triliun setara 124% PDB, naik 30% selama 5 tahun terakhir. Tertinggi dalam 15 tahun. Hutang korporasi terkonsentrasi pada industri konstruksi dan bidang usaha yang terkait pembangunan infrastruktur, seperti baja, semen, batubara, mesin konstruksi. Perusahaan tersebut merupakan perwakilan dari industri-industri kelebihan kapasitas dalam perekonomian China.

'Washington Post' pada 31 Desember 2013 melaporkan, mengutip ekonom Bank UBS Wang Tao yang mengatakan bahwa setelah krisis keuangan global 2008, PKC sangat tergantung pada proyek-proyek konstruksi baru untuk meredam dampak negatif yang timbul dari permasalahan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi. Proyek-proyek termaksud dibiayai dari kas Pemerintah Daerah.

Sekarang, ketergantungan pada pengeluaran investasi membuat pemerintah berada dalam posisi dilematik, bila jumlah hutang mengenai pembiayaan pembangunan ini dihapus terlalu cepat, maka angka kinerja ekonomi akan memburuk. Tetapi bila pengeluaran tidak segera dihambat maka resiko krisis keuangan akan meningkat akibat dari pembiayaan proyek-proyek tersebut yang tidak efektif / menghasilkan uang.

Selain itu, ekonom dari Peterson Institute, Nicholas Lardy menyampaikan, banyak proyek pembangunan di China yang tidak menghasilkan output yang cukup untuk membayar kembali pinjaman yang didapat. Krisis keuangan akibat dari hutang menjadi masalah terbesar dalam perekonomian China sekarang. (Sinatra/rahab)

 

Bagikan ke teman-teman :

berita kehidupan, nasional, internasional

erabaru footerErabaru (Epoch Times Indonesia) hadir dalam bentuk media cetak dan situs online. Kami menempatkan kepentingan pembaca sebagai prioritas utama. Semangat kami adalah memberikan kontribusi bagi pembaca agar dapat meningkatkan kehidupan mereka dan meningkatkan pemahaman dan penghargaan terhadap kehidupan sesama baik dalam lingkup lingkungan sekitar maupun lingkup dunia. Jaringan reporter kami tersebar di berbagai belahan dunia, meliput berita lokal yang otentik dan berhubungan dengan dunia global. Kemandirian kami memungkinkan kami dapat memberikan laporan secara luas, fakta yang dapat dipertanggungjawabkan dan menyajikan keberagaman pandangan.