Seutas Napas Dibalik Tenunan
Nasional - Peristiwa
Ditulis oleh Era Baru News   
Kamis, 01 Maret 2012 03:24

altKeterampilan menenun merupakan warisan budaya leluhur di lingkungan keluarga sebagian masyarakat Nusa Tenggara Timur. 

Kelihaian memuntal benang ini umumnya diajarkan kepada  perempuan muda dewasa. Awalnya mereka diajarkan menenun kain selimut  yang dikenal Maunaek untuk calon sang suami.

“Menenun ini sebenarnya sudah diwariskan dari orang tua dan leluhur kita yang memang syarat perempuan untuk menikah harus bisa menenun,” ujar pembina pengrajin dari kelompok usaha bersama  Hue Biabi, Imanuel Tloen saat ditemui di acara Indonesia Fashion Week (IFW) 2012, Kamis (23/2).

Proses memintal dengan tradisonal masih dipertahankan sedemikian rupa hingga oleh ibu-ibu dari kelompok ini. Cara demikian menambah tingginya dan nilai dari karya tenunan khas Timor.   

“Prosesnya ini memang dari kapas yang ditanam dari bijinya, setelah prosesnya dijemur,  dipisahkan dari biji kapas, setelah itu baru diperhalus alat seperti ini, dari situ bisa digulung dari dipintal dengan alat, setelah itu dipintal disini,” tutur Tloen.

Keistimewaan yang dimiliki motifnya beraneka ragam, diantaranya jenis kain songket. Tenunan ikat ini umumnya menunjukkan khas dari daerah masing-masing. Tenunan nan indah dikerjakan hingga 4 sampai 5 bulan, sesuai dengan ukuran besar dan kecil tenunan.

“Untuk membuat sarung sekitar 4 sampai 5 bulan, tergantung ukuran besar dan kecil, kalau kecil selama 2 sampai 3 minggu,” tambah Tloen sembari menunjukkan beberapa jenis kain yang sedang ditenun.

Tenunan dari kelompok usaha bersama Hue Biabi ini, berawal dari inisiatif untuk melestarikan budaya tenun Timor. Dengan menggalang ibu-ibu yang berasal dari desa terpencil Desa Anin, Kecamatan Amanatun Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur, mereka telah menunjukkan hasil karya anak bangsa kepada dunia.

Tidak hanya sekedar melestarikan budaya leluhur, KUB Hue Biabi bekerja sama dengan Yayasan Balita Sehat Timor tampil kedepan untuk meningkatkan pendapatan keluarga masyarakat setempat yang terkena gizi buruk.

Untuk diketahui, saat ini telah terjadi perubahan iklim di daerah Indonesia Timor. Faktor inilah yang menyebabkan terjadinya kegagalan panen. Hingga kemudian menyebabkan terjadinya kelaparan. Sebagai akibatnya, banyak anak Timor tertimpa kondisi gizi buruk.

“Kelompok usaha Hue Biabi bekerjasama dengan Yayasan Balita Sehat Timor, hadiri untuk memenuhi kehidupan pokok untuk meningkat ekonomi keluarga, menunjang nutrisi untuk mengatasi gizi buruk diwilayah itu,” jelasnya.

Digerakkan oleh putra asli Timor, kelompok usaha ini diharapakan mampu melesatarikan budaya khas Timor dan meningkatkan taraf perekonomian masyarakat. Meskipun masih dalam skala kecil, usaha ini diharapkan akan menjadi efek bola salju dalam penyebarannya.

“Kegiatan kecil ini diharapkan menjadi efek bola salju dalam penyebarannya, sehingga secara tidak langsung meningkatkan perekonomian masyarakat,” ujarnya.

Kelestarian budaya leluhur Timor ini, diharapkan tetap terjaga dengan tidak tergerus dengan budaya modern. Pemerintah selaku pemangku kebijakan diminta turut memperhatikan masyarakat dan dapat bekerjasama dengan baik.

Bentuk  partisipasi yang baik dari pemerintah, dalam rangka untuk meningkatkan dan memenuhi kebutuhan ekonomi masyarakat hingga balita-balita di Timor tidak terlalu jauh terjatuh dalam kondisi gizi buruk.

“Warisan leluhur tetap terjaga dan dikembangkan oleh anak bangsa kedepan, dari sinilah pemerintah bisa memperhatikan kita dan bekerjasama yang baik untuk meningkatkan kebutuhan ekonomi, terutama anak-anak Timor agar tidak jauh masuk kondisi gizi buruk,” Tloen mengakhiri.  (mas/asr)

 
Stay Slim and Healthy