G20 Soroti "Global Value Chains"
Nasional - Nasional
Ditulis oleh Era Baru News   
Senin, 23 April 2012 15:39

alt

Jakarta - Menteri Perdagangan RI, Gita Wirjawan saat pertemuan Menteri Perdagangan G20 di kota pariwisata Puerto Vallarta, Meksiko, Jumat (20/4) mengatakan global value chains atau rantai nilai global harus seimbang.

Tanggapan itu dikatakannya saat tanggapan sejumlah negara mengenai meminimalkan proteksionisme pasar. 

Pertemuan ini membahas dua topik utama, yakni memahami “global value chains” menuju narasi baru perdagangan, serta perdagangan, pertumbuhan, dan lapangan kerja dalam kaitannya dengan “global value chains.”

Para Menteri sepakat bahwa “global value chains” merupakan sebuah fenomena yang perlu dicermati, dimana setiap negara memainkan perannya masing-masing sebagai penyedia bahan baku, produk antara dan produk akhir.

Sebagian besar anggota G20 khususnya dari negara maju berpendapat bahwa narasi perdagangan “Export is good, import is bad” perlu diubah dengan meminimalkan langkah-langkah proteksionisme di bidang barang dan jasa serta memperkuat pembiayaan dan fasilitasi perdagangan.

Sejumlah negara bahkan menekankan bahwa proteksionisme dapat bersifat self-destructing bagi negara yang menerapkannya karena justru akan mengekang potensi industri nasional untuk berpartisipasi dan mengambil bagian dalam “global value chains.”

"Pembahasan mengenai global value chains harus seimbang untuk mencerminkan kepentingan negara maju dan negara berkembang secara proporsional," kata Menteri Perdagangan RI, Gita Wirjawan menanggapi pendapat itu dalam siaran pers Kementerian Perdagangan yang dikutip, Senin (23/4).

Menurut Gita, hal yang pertama adalah pentingnya bagi negara berkembang adalah dimasukkannya pertanian dalam pembahasan sebagai sektor penting pendorong pertumbuhan dan penciptaan lapangan kerja.

Faktor kedua adalah tersedianya ‘policy space’ untuk melakukan penyesuaian kebijakan dan mengatasi tantangan pembangunan yang memerlukan keberpihakan.

"Ketiga, aspirasi untuk merambah naik dalam mata rantai perdagangan dari penyedia bahan baku menjadi pengolah bahan antara dan produk akhir sehingga negara berkembang seperti Indonesia ikut menikmati nilai tambah dalam mata rantai perdagangan,” katanya.

Mengenai pembukaan pasar yang didukung kemajuan teknologi, inovasi, transparansi informasi serta peningkatan pembiayaan dan fasilitasi perdagangan, dinilai tidak akan memberikan manfaat maksimal. faktor ini akan terjadi bila tidak didukung oleh sumber daya manusia yang memadai.

Pertemuan dihadiri oleh wakil dari seluruh negara anggota G20, diikuti oleh lima negara yang diundang oleh tuan rumah sebagai pengamat, yakni Kamboja, Chile, Peru, Selandia Baru dan Singapura, serta Direktur Jenderal World Trade Organization (WTO), Pascal Lamy, dan Sekretaris Jenderal Organization for Economic Cooperation and Development (OECD), Angel Gurria. (depdag/asr)

 
Stay Slim and Healthy