Nasional

tempat sampahBaca artikel sebelumnya.. bagian (1)

Sebagian besar keluarga di Swedia memiliki banyak kan­tong sampah yang digunakan untuk menyimpan berbagai jenis sampah seperti: baterai dan bahan organik yang bisa terurai; bahan kayu, kaca berwarna dan kaca jenis lain, aluminium dan logam lain­nya, juga kertas koran dan kotak kardus kesemuanya harus diklasifikasikan.

Suatu hari istri saya mem­beli beberapa kotak plastik, mulai saat itu mereka menjadi tong sampah di rumah, meng­gantikan tas-tas plastik yang selama itu bergelantungan di atas dinding untuk menampung jenis sampah seperti baterai, bola lampu dan se­jenisnya, yang jumlahnya jarang tapi harus dipisahkan, sehingga tidak begitu mere­potkan lagi.

Setelah penanganan sam­pah tidak lagi menjadi beban, secara bertahap saya telah menyadari segala macam manfaat tersebut.

Suatu kali, di jalan saya menemukan beberapa kotak besar yang aneh, mirip tempat sampah, tetapi mulut kotak tersebut tidak sama satu dengan lainnya, setelah bertanya kepada teman seperjalanan, saya baru tahu bahwa itu juga tem­pat sampah. Kotak tersebut adalah tempat sampah, ide dari pemerintah Swedia, khusus bagi orang-orang yang malas mengklasifikasikan sampah.

Wadah semacam itu meningkatkan kesulitan bagi orang yang membuang sampah semba­rangan. Misalnya, mulut wa­dah sampah untuk botol atau kaleng berpenampang kecil, mulut wadah pembuangan karton dan kardus berbentuk pipih ukuran amplop. Harus mengagumi kesungguhan hati mereka, dengan demikian, fenomena membuang sampah sembarangan dipastikan akan sangat berkurang.

Pengategorian sampah adalah untuk memudahkan pendauran ulang. Limbah di­jadikan energi, selain dapat memecahkan masalah polusi sampah, juga memberikan al­ternatif bahan energi terbaru­kan.

Ketika saya dalam proses mempelajari bahasa Swedia, dengan para siswa lain mengunjungi sistem pembuangan limbah Swedia, setelah mendengarkan penjelasan, menyaksikan pemerintah Swedia mengusulkan kebi­jakan pengumpulan sampah, serta menggalakkan pembangunan fasilitas umum, untuk mendidik masyarakat agar berpartisipasi aktif dalam urusan komunitas, dan pada akhirnya baru dapat menye­babkan perubahan struktural dalam masalah sampah na­sional Swedia.

Ketika meli­hat orang Swedia dalam ke­hidupan mereka memulihkan sumber daya memandang­nya sebagai peristiwa besar, dalam hati berpikir, jika kita juga bisa sama seperti orang-orang Swedia, secara pribadi sebagai warga bumi yang ber­tanggung jawab dan berkewa­jiban, alangkah baiknya!

Guru menjelaskan bahwa pemerintah dalam mengembang­kan kesadaran nasional peng­kategorian sampah dimulai dari masa kanak-kanak. Mereka pertama-tama memba­wa konsepsi ini ke sekolah-sekolah untuk mengajarkan anak-anak bagaimana meng­klasifikasikan sampah, dan kemudian pulang ke rumah memberitahukan kepada orang tua dan orang dewasa, dengan demikian, pemerintah Swedia konsisten dalam pela­tihan kesadaran sampah na­sional membutuhkan waktu satu generasi.

Oleh karena itu, orang Swedia dengan bangga menyebutkan: "Di Swedia, klasifikasi sampah adalah semacam tradisi." Perkataan ini bukan basa-basi, si kecil di rumah saya, setelah minum susu, kotak kosong setelah se­lesai lalu dibilas baru dibuang ke tong sampah. Kami tidak pernah mengajarinya, malah justru dari dia kami mema­haminya, membuang sampah itu setelah selesai dibilas/ dibersihkan baru dibuang.

Di sini bahkan daun kering, tanah dan kerikil pun tidak boleh sembarangan dibuang, setiap kali setelah saya menyapu bersih taman/kebun, harus mengumpulkan­nya dahulu baru kemudian mengantarnya ke pusat daur ulang.

Pemerintah Swedia dengan sampah daun dan da­han yang saya bawa, setelah didaur ulang, kemudian dijual ke saya sebagai media tanam, 5 kantong media tanam untuk bunga dijual dengan harga 100 kronor (Rp 174 ribu), ti­dak mahal, tetapi tidak gratis.

Ketika saya pertama kali tiba di Swedia, saya merasa tidak tahan, karena sangat tidak nyaman, dan terlalu keras. Tetapi orang Swedia itu tampaknya telah terbiasa, terutama setelah musim semi, di lokasi daur ulang selalu terdapat antrian panjang.

Orang Swedia juga sangat cerdas dalam hal daur ulang, mereka tidak hanya mendaur ulang ban bekas, ko­ran bekas, mobil tua, baterai lama, tetapi juga daur ulang produk elektronik, seperti TV, komputer dan lain-lain. Pada kenyataannya, ada banyak peralatan listrik yang benar-benar masih bisa digunakan, hanya ketinggalan zaman saja maka perlu dimusnah­kan. Pemerintah menggunakan perusahaan daur ulang untuk memperbaikinya, setelah itu dimanfaatkan lagi. Inilah manfaat dari daur ulang, me­lindungi lingkungan, tetapi juga membuat limbah men­jadi berguna.

Tentu saja, tidak semua orang di Swedia berkuali­tas, orang yang sembarangan membuang sampah juga masih ada, masih terlihat di sekitar sekolah dan di tempat-tempat keramaian. Tetapi orang Swedia pada umumnya menganggap sem­barangan membuang sampah adalah hal yang sangat mema­lukan. Saya yang pada awal­nya berusaha menaati aturan dengan terpaksa, namun sekarang saya malah menyu­kai juga sisi Swedia yang di­rasa paling "tidak bebas" ini. (hui/ran)

SELESAI

Baca artikel sebelumnya.. bagian (1)

 

 

Bagikan ke teman-teman :

berita kehidupan, nasional, internasional

erabaru footerErabaru (Epoch Times Indonesia) hadir dalam bentuk media cetak dan situs online. Kami menempatkan kepentingan pembaca sebagai prioritas utama. Semangat kami adalah memberikan kontribusi bagi pembaca agar dapat meningkatkan kehidupan mereka dan meningkatkan pemahaman dan penghargaan terhadap kehidupan sesama baik dalam lingkup lingkungan sekitar maupun lingkup dunia. Jaringan reporter kami tersebar di berbagai belahan dunia, meliput berita lokal yang otentik dan berhubungan dengan dunia global. Kemandirian kami memungkinkan kami dapat memberikan laporan secara luas, fakta yang dapat dipertanggungjawabkan dan menyajikan keberagaman pandangan.