Nasional

memegang-tangan-sakitSaya bersama-sama teman kantor pergi menjenguk seorang teman kantor yang kena penyakit AIDS, dia adalah seorang yang kaya.

Sebelum kami berangkat semua teman kantor membawa hadiah untuknya, ada yang membawa bunga segar, buah-buahan, vitamin, karena saat itu saya tidak dapat memikirkan hadiah apa yang akan saya berikan, maka saya tidak menyediakan hadiah saya pergi dengan tangan kosong.

Teman yang kena AIDS ini sangat kurus, tetapi terlihat sangat bersemangat. Melihat kami datang, dia sangat gembira. Setelah menyapanya teman-teman kantor menyerahkan hadiah kepadanya, dia berulang-ulang mengucapkan terima kasih. Saya merasa grogi, karena hanya saya sendiri yang datang dengan tangan kosong, dia terus menghibur saya, berkata dia sudah sangat gembira kami datang menjenguknya, sebenarnya dia tidak kekurangan apapun, menyuruh saya jangan menaruh di hati.

Kami terus mengobrol dan terus menghiburnya, dia mengatakan dia akan kuat menghadapi semua ini, tetapi saya merasa didalam perkataan dan pandangan matanya terlihat rasa sedih dan sendu. Seperti putus asa.

Beberapa saat kemudian, kami semua berpamitan dengannya, dengan penuh harapan dia mengulurkan tangannya ingin berjabatan tangan dengan kami, tetapi semua teman-teman menghindar dan berpura-pura tidak melihat tangan yang di ulurkan, wajah kami semua terlihat sangat kikuk. Saya melihat pandangan mata teman yang sakit perlahan-lahan kehilangan cahaya, terlihat sangat putus asa.

Setelah sampai di lantai bawah, saya terkenang kepada pandangan matanya, entah tenaga dari mana, saya berlari sekuat tenaga kembali ke kamarnya, dengan erat bersalaman dengannya, memandang ke matanya dengan perlahan saya berkata, "Semoga engkau lekas sembuh."

Pertama dia merasa terkejut dan terpana disana, terlihat dia tidak menyangka saya akan kembali, setelah mengerti apa yang terjadi, dia sangat terharu, airmata mengalir ke pipinya, dengan menangis dia berkata, "Terima kasih, terima kasih."

Saya tidak tahu bagaimana dia melewati hari itu setelah saya meninggalkannya, tetapi saya rasa dia akan sangat terharu, dengan demikian dia akan bersemangat hidup lagi, karena di kehidupan yang mengalami musim dingin dia masih merasakan sinar matahari di bulan September yang ceria dengan hangat menyinari hidupnya.

Bagikan ke teman-teman :

berita kehidupan, nasional, internasional

erabaru footerErabaru (Epoch Times Indonesia) hadir dalam bentuk media cetak dan situs online. Kami menempatkan kepentingan pembaca sebagai prioritas utama. Semangat kami adalah memberikan kontribusi bagi pembaca agar dapat meningkatkan kehidupan mereka dan meningkatkan pemahaman dan penghargaan terhadap kehidupan sesama baik dalam lingkup lingkungan sekitar maupun lingkup dunia. Jaringan reporter kami tersebar di berbagai belahan dunia, meliput berita lokal yang otentik dan berhubungan dengan dunia global. Kemandirian kami memungkinkan kami dapat memberikan laporan secara luas, fakta yang dapat dipertanggungjawabkan dan menyajikan keberagaman pandangan.