Perdana Menteri Australia Minta Maaf Atas Penganiayaan Lembaga
NTD-News
Jumat, 20 November 2009
Perdana Menteri Australia, Kevin Rudd meminta maaf kepada anak-anak yang menjadi korban di lembaga milik negara. Ribuan anak yatim dan anak-anak yang dibesarkan di lembaga pemerintah antara tahun 1930 sampai 1970-an, mengeluh mengalami penganiayaan.
Ini adalah beberapa dari anak-anak tersebut. Menurut sumber informasi, sekitar 7000 anak dikirim dari Inggris, sering tanpa persetujuan dari orang tua mereka, dengan janji-janji kehidupan yang lebih baik. Namun, pada akhirnya mereka dimasukkan di lembaga-lembaga dan dijadikan tenaga kerja dengan gaji yang murah. Korban mengatakan masa kecil mereka yang indah telah dirampas.
[Leonie Sheedy, Korban Penganiayaan ]: "Kami seperti tentara kecil di panti asuhan, tidak memiliki masa kanak-kanak."
[Helena Maiolo, Korban Penganiayaan]: "Anda adalah salah satu dari banyak, sekian jumlah, anda bukanlah si gadis kecil Helena yang sangat menginginkan sebuah dekapan atau pelukan, atau diberitahu bahwa semuanya akan beres."
Di depan 900 hadirin, Perdana Menteri Australia Kevin Rudd meminta maaf atas perlakuan tidak adil dan penelantaran selama bertahun-tahun.
[Kevin Rudd, Perdana Menteri Australia]: "Maaf karena sebagai anak-anak Anda dipisahkan dari keluarga dan ditempatkan di lembaga-lembaga di mana begitu sering Anda dianiaya, maaf atas penderitaan fisik dan emosional serta tidak adanya kasih sayang, kelembutan, perhatian. Maaf atas tragedi hilangnya masa kanak-kanak ini."
Sekitar 500.000 ribu orang berkampanye untuk permintaan maaf selama puluhan tahun, sementara Rudd mendapat tepuk-tangan oleh orang-orang yang menjadi korban.