|

Selama tiga bulan, warga desa Wukan di Provinsi Guangdong yang memberontak tampaknya terus berharap kalau semua peraturan lama yang hidup di bawah Partai Komunis China (PKC) tidak perlu berlaku lagi.
Beberapa menyarankan gerakan Chinese Spring, sebuah gerakan yang sama dengan Arab Spring, yang mulai bergerak di hari-hari berakhirnya musim gugur di China selatan.
Krisis mencuat keluar pada minggu ketiga bulan Desember. Wukan telah merencanakan pawai massa ribuan warga desa yang akan mematahkan blokade pasukan keamanan dan diakhiri dengan protes di luar gedung kotapraja Kota Lufeng. Jika tiga tuntutan warga desa dipenuhi, mereka berjanji untuk membatalkan aksi pawai dan protes tersebut.
Tuntutan itu adalah, pertama, melepaskan penduduk desa yang ditangkap; kedua, mengembalikan jenazah Xue Jinbo; dan ketiga, mengakui komite desa sementara yang dipilih oleh warga desa.
Xue Jinbo telah menjadi perwakilan desa yang secara bebas terpilih. Dia dibawa pergi oleh polisi setempat dan meninggal dua hari kemudian di kantor polisi setempat. Keluarganya diizinkan untuk melihat jenazahnya tapi tidak boleh mengambilnya. Mereka menggambarkan mayatnya rusak karena penyiksaan.
Pihak berwenang setempat membantah tuduhan itu namun menolak untuk mengembalikan jenazah Xue ke keluarganya. Sebuah kesepakatan tercapai pada 20 Desember antara Lin Zuluan, perwakilan desa, dan Zhu Mingguo, wakil sekretaris Komite PKC Provinsi Guangdong, yang tampaknya membenarkan optimisme Wukan telah terinspirasi. Kedua belah pihak tampak puas dengan hasilnya.
Subjek Wukan dihilangkan oleh sensor Internet, dan media resmi mulai memuji kebijaksanaan pemerintah Guangdong dalam memecahkan masalah yang sulit. Seperti biasa, beberapa pejabat tingkat rendah dikambing hitamkan atas kesalahan tersebut. Partai dan para pejabat provinsi digambarkan sebagai orang-orang baik. Dan semua tuntutan warga desa dikatakan telah terpenuhi.
Mengumpulkan Hutang
Kebanyakan orang China tidak percaya keseluruhan situasi akan berakhir seperti itu dengan begitu mudahnya. PKC tidak pernah bernegosiasi dengan orang-orang China sejak mengambil alih kekuasaan pada 1949, tidak dengan setiap individu, tidak dengan organisasi apapun.
Sesekali atau dua, seorang pemimpin puncak tunggal mendiskusikan masalah-masalah dengan pihak lain, seperti ketika Li Peng, perdana menteri terdahulu, bertemu dengan perwakilan mahasiswa pada tahun 1989 sebelum pembantaian Lapangan Tiananmen, atau Zhu Rongji, juga perdana menteri pada waktu itu, bertemu dengan dengan praktisi Falun Gong pada 25 April 1999 sebelum penganiayaan terhadap Falun Gong dimulai.
Tapi Li Peng tidak membuat janji apapun selama pertemuan. Zhu Rongji menyetujui tuntutan para praktisi Falun Gong, namun Jiang Zemin, kepala PKC waktu itu, melanggar janji Zhu. Dalam kedua kasus, pertemuan diikuti oleh pembalasan yang diperintahkan oleh otoritas tertinggi.
Setiap orang China tahu bahwa partai ini selalu membalas terhadap siapapun yang dianggap sebagai tantangan atau ancaman. Di China, pembalasan semacam ini disebut “mengumpulkan hutang setelah panen musim gugur.”
Komite Desa Baru
Apa yang penduduk desa dan aktivis khawatirkan sedang terjadi sekarang.
Langkah pertama yang diambil Partai adalah mengganti komite desa sementara dengan komite Desa resmi yang dipercaya PKC.
Kelompok Kerja Wukan, yang dikirim oleh Komite PKC Guangdong (bukan pemerintah Guangdong), mengumumkan 130 kandidat untuk pemilihan komite desa berikutnya. Sejak Zhu Mingguo mengakui kalau komite desa sementara adalah sah, tampaknya tidak ada perlunya memiliki pemilu yang lain lagi.
Salah satu warga desa, Mr. Xie, mengatakan kepada The Epoch Times bahwa para warga desa tidak mengenali kandidat-kandidat di dalam daftar. Dia mengatakan 100 lebih anggota Partai di Wukan, kebanyakan dari mereka yang ada dalam daftar kandidat, adalah kebanyakan orang-orang yang korup, sekretaris lama Partai yang telah memerintah desa. Berapa banyak dari mereka yang bersih?
Begitu komite baru Partai terbentuk, bagaimana mereka akan berinteraksi dengan komite sementara yang terpilih? Akankah secara bertahap menghancurkan komite sementara? Apakah akan ada pemerintahan sendiri oleh warga desa lagi?
Dalam kasus apapun, para penduduk desa takut dengan apa yang dapat dilakukan Partai. Li Zhen, lebih dari 60 tahun, mengalami gangguan mental setelah polisi bersenjata memasuki desa untuk menangkapi penduduk desa. Setelah krisis berakhir, ia beserta penduduk desa lainnya, menerima pelecehan dan ancaman melalui panggilan telepon dari pejabat partai dan pemerintah. Di bawah kesan kalau sumbangsih yang ia berikan di komite sementara desa ketika Wukan dikepung bisa menyebabkan dia dalam kesulitan, akhirnya dia bunuh diri pada 29 Desember.
Sementara itu, jenazah Xue Jinbo masih belum dikembalikan. Pihak berwenang bersikeras kalau keluarga Xue telah menandatangani surat yang menyatakan bahwa Xue meninggal karena serangan jantung. Setelah itu, kompensasi tidak akan menjadi masalah. Pihak keluarga menolak.
Niat untuk Membalas
Sebenarnya, Komite PKC Guangdong tidak mencoba menyembunyikan niatnya untuk membalas. Satu hari sebelum pertemuan dengan wakil desa Lin Zuluan, Wakil Sekretaris PKC Guangdong Zhu Mingguo memberikan pidato pada pertemuan kader Kota Lufeng.
Pidatonya diposting di Jaringan Informasi Partai dan Pemerintah Shantou, situs resmi pemerintah.
Ia memiliki enam poin utama. Poin 2 menyatakan: "Kebanyakan orang yang bereaksi berlebihan adalah dapat dimengerti dan dimaafkan, Partai dan pemerintah tidak akan meminta mereka bertanggung jawab. Siapa pun yang terlibat dalam vandalisme dapat dilepaskan asalkan ia menunjukkan kalau ia bertobat."
Tetapi pemerintah sebelumnya mengakui bahwa keseluruhan protes disebabkan oleh korupsi dan kesalahan para pejabat lokal. Bagaimana mungkin Partai dan pemerintah "memahami" dan "memaafkan" orang-orang untuk kesalahan dari para pejabat?
Poin 4 menyatakan bahwa "pemerintah berjanji selama para penduduk desa tidak lagi melakukan kejahatan, tidak lagi mengatur aktivitas untuk menghadapi pemerintah, tidak lagi digunakan oleh kekuatan-kekuatan yang bermusuhan baik di dalam dan di luar negeri, [pemerintah] tidak akan masuk desa untuk menangkap orang."
Poin ini, yang tampaknya menjanjikan keselamatan penduduk desa, pada kenyataannya terbaca lebih seperti sebuah ancaman. Ini menuduh penduduk desa dengan kejahatan yang mereka tidak pernah lakukan: Di sepanjang waktu tidak ada “kekuatan yang bermusuhan,” baik domestik maupun asing.
Poin 6 menargetkan dua organisasi pengunjuk rasa. Ini menuntut Lin Zuluan dan Yang Semao harus melakukan sesuatu untuk menunjukkan penyesalan mereka dan menyerahkan diri kepada pihak berwenang. Jika mereka melakukannya, pemerintah akan mempertimbangkan kelonggaran dan tidak menangkap mereka. Ini adalah praduga bersalah oleh Partai, bahkan bukan oleh pengadilan.
Hanya ada enam poin dalam pidato Zhu, dan tiga dari mereka, poin 2, 4, dan 6, adalah tentang "mengumpulkan hutang setelah panen musim gugur."
Keesokan harinya, ketika dua surat kabar melaporkan pidato itu, poin 6 dihilangkan, dan keseluruhan nada jauh melunak. Tapi pesan itu jelas.
Menghancurkan Mitos
Apa yang telah membuat Partai begitu marah bukanlah protes itu sendiri. Protes-protes serupa terjadi hampir setiap hari di China, melawan korupsi, penyitaan paksa tanah, dan penggusuran rumah.
Apa yang unik tentang Wukan adalah penduduk desa menggulingkan sekretaris Partai dan keseluruhan komite desa yang mewakili kekuatan komunis. Kemudian memilih komite sementara mereka sendiri. Komite sementara telah menjalankan desa selama tiga bulan. Selama tiga bulan, Wukan adalah benar-benar desa pertama yang dikelola sendiri sejak PKC mengambil alih kekuasaan pada 1949. Pentingnya peristiwa ini masih belum disadari oleh banyak orang.
Salah satu mitos yang telah diciptakan PKC adalah tanpa dia, China akan jatuh dalam kekacauan, perang, kelaparan, dan sebagainya.
Ketika Sembilan Komentar Mengenai Partai Komunis keluar pada tahun 2004 dan gerakan orang-orang China keluar dari afiliasi apapun yang dimulai PKC, beberapa orang – bukan hanya orang China – khawatir dan timbul pertanyaan, apa yang akan terjadi jika PKC telah tidak ada? Beberapa bahkan mengklaim bahwa orang China tidak memiliki kualitas yang diperlukan oleh mereka untuk menikmati demokrasi dan kebebasan.
Peristiwa di Wukan harusnya membungkam pembicaraan ini. Penduduk desa Wukan membuktikan bahwa orang-orang China bisa hidup lebih baik tanpa PKC. Mereka memiliki cukup kebijaksanaan untuk mengelola kehidupan mereka sendiri asalkan tidak ada Partai. Ini adalah apa yang paling ditakuti oleh Partai dan ini merupakan salah satu pelajaran terpenting yang telah kita pelajari.
Pada 27 Desember, penduduk desa tetangga di Provinsi Fujian melakukan protes di jalan-jalan atas lahan-lahan mereka yang hilang. Salah satu spanduk yang mereka bawa bertuliskan “Belajarlah dari Wukan.” (EpochTimes/khl) |