| Kemakmuran Kota Kuno Pompeii Musnah Dalam Sekejab | Array Cetak Array | Surel |
| Ditulis oleh Dajiyuan | ||||||||||||
| Senin, 06 Juli 2009 16:25 | ||||||||||||
|
Berlokasi di kaki gunung berapi Vesuvius, Kota Pompeii bagaikan menggendong sebuah bom waktu. Selama 17.000 tahun belakangan ini, gunung berapi Vesuvius tidak pernah sepi aktivitas, letusan terakhir terjadi pada 1944. Senantiasa, Tuhan menggunakan berbagai macam cara untuk memberi peringatan kepada umat manusia, pelajaran dari Pompeii inilah yang sedemikian membuat orang ketakutan. Sewaktu saya masih di bangku SMA, saya pernah membaca sebuah artikel tentang Pompeii. Teringat itu hanyalah sebuah kota mati yang tak berpenghuni, karena peristiwa tersebut lebih dari unik, maka telah tumbuh suatu keinginan hendak melihat panoramanya secara keseluruhan. Kemungkinan pikiran sekejap saat itulah yang mendorong perjalanan saya kali ini ke Italia. Pompeii masa kini dibagi menjadi kota lama dan kota baru, kota lama adalah tujuan kami kali ini. Ke luar dari stasiun KA, baru saja belok dari sudut jalan, sekonyong-konyong muncul seekor anjing liar, betul-betul telah mengagetkan kami. Luas kota kuno Pompeii sekitar 1,8 km2, dikelilingi oleh tembok kota sepanjang 4.800 meter, pada poros timur-barat dan utara-selatan masing-masing mempunyai dua jalan raya yang membagi Pompeii menjadi 9 wilayah, gang-gang kecil saling memotong dan melintang, bangunannnya terlihat agak semrawut tapi enak dipandang. Permukaan jalan diratakan dengan batu bulat besar (Cobblestone), bekas lindasan kereta meninggalkan cekungan mendalam, menunjukkan kesibukan pada waktu itu. Berlenggang kangkung di antara puing-puing terbesar di dunia, menjelajahi jalan dan gang berusia 2,000 tahun, mau tak mau terbayang kehidupan orang Pompeii kuno. Pada ke dua sisi jalan terdapat sejumlah kedai arak, pastry, toko buah, toko palen, toko minyak zaitun, toko kecap ikan, bengkel pertenunan, bengkel gerabah, bengkel emas dan perak dan lain-lain yang banyak sekali. Pusat kota adalah pusat kegiatan ekonomi dan keagamaan pada masa itu, puing-puing pilar tinggi besar dan kusen marmer menunjukkan kemakmuran dan kemewahan serta modernitas masa silam. Di dalam kota terdapat 3 buah kolam rendam pemandian berskala besar, air dialirkan dari sumber mata air di atas gunung dengan ditopang oleh talang air yang berkerangka tinggi, mengalir ke pemandian umum dan kamar mandi pribadi. Akhirnya, pintu neraka dibuka untuk pompeii, gunung berapi Vesuvius yang berjarak 6 mil telah meletus dengan dahsyat. Lahar panas dalam jumlah mengerikan dilontarkan ke atas langit, untuk kemudian menukik menutupi langit dan menyelimuti bumi, lahar bercampur batu kerikil menerjang ke jalan-jalan dan gang-gang, Pompeii yang dikelilingi gas beracun mengalami kebakaran hebat dan api neraka. Seiring dengan terus menumpuknya isi gunung berapi, tempat yang makmur dan mewah itu terhapus dari bumi. Setelah lewat 1.000 tahun lebih, Pompeii lambat laun berubah menjadi sebuah legenda. Persis dengan kemusnahannya, Pompeii ditakdirkan ditemukan kembali. Satu cangkulan yang sepertinya kebetulan, telah menggali misteri sejarah yang berusia hampir 2.000 tahun. Pada 1748 ditemukan batu dengan tulisan ukir Pompeii, orang-orang baru mengetahui Pompeii di dalam dongeng ternyata memang pernah eksis. Hingga pada 1861, Italia secara resmi baru menggerakkan penggalian besar-besaran. Melalui penggalian dan restorasi selama seratus tahun lebih, kota kuno Pompeii secara perlahan terpampang di hadapan manusia bumi. Sisa jasad orang-orang Pompeii yang berusaha lari dari nasib buruk itu perlahan-lahan lenyap dari dalam abu vulkanik yang berangsur mengeras, membentuk sebuah kepompong yang berongga. Para arkeolog menuangkan gips cair ke dalam “cetakan tubuh manusia” itu dan memamerkannya kepada dunia tentang episode terakhir Pompeii. Nama Pompeii seiring dengan berlangsungnya pekerjaan penggalian, mulai tersebar di seluruh dunia Barat. Orang-orang mengagumi gedung bangunan dan keseniannya, tapi malah telah mengabaikan tujuan sesungguhnya Pompeii dipamerkan kepada umat manusia. Tuhan bukannya menyuruh orang-orang eksis demi mengejar keduniawian dan kenikmatan tiada henti, Tuhan selamanya tidak pernah menyuruh manusia hidup seperti itu, manusia di dalam suasana seperti Pompeii kuno hanya mempercepat kemusnahannya sendiri. Kehidupan yang dipenuhi dengan kegembiraan dan kenikmatan maksimal semacam itu pada akhirnya tidak dipilih oleh Tuhan, maka ia ditakdirkan mengalami kemusnahan. Persis dengan sebuah moto yang tertera pada sebuah mural kota Pompeii: “Tiada suatu benda apapun bisa abadi”, segala materi yang dikejar dengan antusias akan ditakdirkan menjadi kosong. Melalui melancong beberapa jam, temperatur di kota puing itu semakin meningkat, para wisman semakin bertambah banyak. Melihat mimik berat yang terpampang pada wajah mereka, entah apa yang sedang dipikirkan. Angin liar menjelajahi celah-celah di antara puing, mirip keluhan dan rintihan roh gentayangan. Keluar dari kota tersebut, matahari sepertinya terlihat begitu cemerlang dan kota kuno Pompeii perlahan-lahan lenyap di kejauhan. (Epochtimes.co.id/whs)
|
Cari Artikel di Era Baru :
Ingin berita terkini EB muncul di Beranda Anda?
Ayo, gabung bersama ribuan penggemar lainnya!
- Pencuri dan Bulan
- Kontrak Satelit Broadcaster Independen China Diperbaharui
- Banjir Menewaskan 23 Orang di India Utara
- Kondisi Mandela Semakin Membaik
- Harga BBM Resmi Naik
- Apakah Pikiran Kita Memiliki kekuatan untuk Mempengaruhi Realitas?
- Kekuatan Moral Terbesar dan Terkuat
- Bawang Putih: Antibiotik Alami
- Harga BBM Resmi Naik
- Peluang Usaha Budidaya Udang Cantik
- Para Aktivis Anti Korupsi di China Ditahan
- Bawang Putih: Antibiotik Alami
- 'PRJ' Monas Digelar Tiga Hari Gratis
- Bomber Jerman Perang Dunia II Dipulihkan dari Perairan Inggris
- Apakah Pikiran Kita Memiliki kekuatan untuk Mempengaruhi Realitas?
- Banner Perjuangan Muncul di jalan-jalan di Hongkong
Orang-orang sering menggunakan kiasan “Duduk di tepian kawah gunung berapi” untuk melukiskan situasi yang gawat, Kota Pompeii justru berada dalam kondisi semacam itu. 














Mozilla Firefox
Comments
eeeuuuuuwwww! bukan karangan harries potter tapi Robert Harris! sok tau deh.... :/
RSS feed for comments to this post.