Era Baru News >> Top News >> China Update >> Upah Tak Dibayar, Pekerja Migran China Protes
Upah Tak Dibayar, Pekerja Migran China Protes
Oleh: Fu Ming and Mi Lan Senin, 08 Februari 2010

Perayaan Musim Semi adalah waktunya bagi keluarga China untuk berkumpul bersama, dan banyak pekerja migran China ingin pulang kerumah dengan membawa sedikit uang hasil kerja untuk di nikmati bersama keluarga dan kerabat.

Sekarang menjelang Tahun Baru Imlek, gelobang unjukrasa memprotes upah yang tidak di bayar terjadi di banyak lokasi. Mesin pencarian Google dengan judul "tanya tentang upah tak terbayar," terdapat 2,62 hasil  pencarian berita yang berhubungan. Walaupun ada penyensoran berita di China.

Pada tanggal 1 Februari, hampir 40 pekerja migran dari Provinsi Sichuan dan Shaanxi melakukan protes di depan Kantor Pemerintah Keprovinsian Shaanxi karena upah yang tidak terbayar dan di cegat oleh polisi. Para pekerja membawa spanduk berbunyi, "Konstruksi Yu Xing dan Pelayanan Buruh Qun Jian, berikan uang hasil kerja keras kami! Pemerintah bantulah," dan mereka meneriakkan slogan dalam perjalanan ke Kantor Pemerintahan Provinsi Shaanxi. Polisi menghentikan mereka di depan gedung dan menyuruh mereka membawa masalahnya ke kantor pengajuan permohonan.

Diketahui para buruh ini bekerja pada East Gate Trade Center dari wilayah Beilin, Xi'an, ibu kota Provinsi Shaanxi. Proyek itu dikerjakan oleh perusahaan Yu Xing Construction pada pelayanan pekerja Qun Lian. Pembangunannya selesai pada tanggal 25 Desember, tetapi para pekerja sampai sekarang belum menerima upah, walaupun mereka telah bekerja pada Perusahaan Yu Xing selama 5 bulan. Mandornya kabur membawa uang buruh dan lebih dari sebulan, pemerintah setempat mengabaikan masalah ini, membiarkan masalah tak terselesaikan.

Mr. Chen salah seorang dari pengunjuk rasa, menyatakan bahwa mereka telah melakukan protes selama sebulan dan pemerintah telah menghindari masalah ini dan melempar para buruh keberbagai departemen. "Staf Provinsi menyuruh kita untuk ke Kota; Kota menyuruh kita pergi ke Wilayah Beilin; dan Wilayah menyuruh kita ke Biro Pekerja. Kemudian Biro perburuhan menyuruh kita kembali ke Pelayanan Perburuhan yang mengindikasikan bahwa ini bukan urusan mereka."

Mr. Chen mengatakan, "Di Kota Xi'an sangat banyak kejadian seperti itu. Saya teringat ketika ratusan orang menanyakan uang mereka kepada pemerintahan provinsi waktu saya berada disana tanggal 26 Desember."

Diduga Kepala partai komunis dari Wilayah Beilin yang memiliki Perusahaan Konstruksi Yu Xing. Tentu ini akan lebih mempersulit untuk bisa memecahkan masalah perselisihan ini. Beberapa buruh mengatakan ketika mereka menelpon wartawan dan stasiun televisi, jawaban yang mereka dapatkan adalah bahwa wawancara hanya bisa dilakukan kalau ada undangan dari Departemen Propaganda.

Seorang buruh bernama Mr.Gong mengindikasikan bahwa para buruh tidak pernah menerima upah kecuali kartu makan untuk dipakai di kedai makan ketika mereka bekerja. "Perusahaan menyediakan kartu makan agar kami bisa makan. Tetapi setelah pekerjaan selesai, mandornya menghilang dan kami tidak menerima apapun."

Biro Buruh Provinsi menjanjikan untuk membayarkan upah buruh sebanyak 50 persen untuk memecahkan masalah. Para pekerja menolak dengan mengatakan "Kami telah merundingkan ini sebelumnya dan tidak satupun pekerja menyetujuinya. Kepala buruh bergaji 120 yuan sehari, buruh kecil menerima 60-70 yuan sehari. (Bagi buruh kecil) 50 persen berarti 30 yuan sehari. Dipotong 20 yuan uang makan akan menyisakan 10 yuan perhari. Bagaimana anda membenarkan itu?

Mr. Gong menyatakan dia dipukuli oleh anggota brandalan yang disewa oleh Perusahaan Yu Xing ketika di diminta untuk menanyakan upahnya. "Pada sore hari 26 Januari, lebih dari 30 anggota preman berdiri di depan Perusahaan Konstruksi Yu Xing. Dua pekerja dipukuli diantaranya adalah saya," katanya.

Setelah itu, Yu Xing mengusulkan untuk membayar 80 persen dari upah terhutang. Para pekerja yang kecewa mungkin harus menerima usulan ini tanpa ada kepastian mereka akan menerima apa yang dijanjikan.

Kisah yang sama terjadi dimana-mana di China. Menurut Nanfang Daily, sejumlah 100 miliar yuan (120 miliar dolar) buruh tak di bayar di China. Dengan utang ini, 70 persennya adalah dari perusahaan konstruksi, hanya 6 persen buruh migran menerima upah mereka tepat waktu dalam setiap bulannya. (EpochTimes/SOH/man)

 

Bagikan halaman ini ke :

| |

Cari Artikel di Era Baru :

Ingin berita terkini EB muncul di Beranda Anda?

Ayo, gabung bersama ribuan penggemar lainnya!

eb mobile