| Bertualang di kepulauan Malvinas |
| Wayan Manuh/ Era Baru | Rabu, 24 Februari 2010 |
|
Kepulauan Malvinas yang nama aslinya adalah Falkland Islands merupakan wilayah teritorial Ingris. Ibu kota dari pulau yang berpenduduk 2000 jiwa ini adalah Stanley, diambil dari nama seorang Perdana Menteri Ingris Edward Smith-Stanley. Kota Stanley berada di pulau Falkland Timur. Ada dua pulau besar dari kepulauan ini yang satunya adalah Falkland Barat. Falkland tahun 1800an punya sejarah lain dari keadaanya sekarang, dulu sebelum di bukanya terusan panama, daerah ini menjadi kunjungan tetap kapal-kapal yang melewati Cape Horn di semenanjung Amerika Selatan untuk mengisi bahan bakar, kemudian meneruskan perjalanan kearah utara melewati Argentina dan Brazilia kemudian menuju Amerika Barat. Ekonomi dari kepulauan ini utamanya dari perikanan, peternakan domba yang menghasilkan bulu yang dipakai sebagai wool dan pariwisata. Eksport hasil laut yang terkenal adalah cumi-cumi dan di eksport ke negara-negara Eropah. Negara kecil ini termasuk unik sebagai penghasil bahan baku pembuat wool karena jumlah domba disini 250 kali lipat dari jumlah penduduk yakni 500.000 ekor. Atraksi yang ditawarkan untuk para wisatawan yang berkunjung kemari diantaranya, keliling kota dan juga tour ke tempat koloni pinguin. Mungkin ini atraksi yang paling menarik untuk di kunjungi. Penulis berkesempatan mengikuti tour ini yang berdurasi 3 jam. Untuk para tamu-tamu kapal, tour ini dijual seharga US$169. sekitar Rp 1,5 juta. Tugas penulis dalam tour ini adalah sebagai ‘tour escort’ atau pemandu tamu. Jumlah tamu yang ikut tour ini sejumlah 45 orang. Dari kapal ke darat kami naik tender selama 18 menit, dari darat naik mini bus yang berkapasitas 15 orang. Meurut sopir mini bus Jason, dipertengahan perjalanan kami berganti mobil lagi. Kelompok dari limabelas orang ini di bagi lagi menjadi 4 mobil. Kami naik mobil ‘fourwheel drive’ atau mobil yang bisa bergerak dengan empat roda. Mobil-mobil yang dipakai adalah mobil Land Rover dan Mitsubishi. Keseluruhan group kami memakai 8 mobil. Land Rover yang saya tumpangi di kendarai oleh Bill sekitar 60 tahun usianya kelahiran asli Falkland. Dia bercerita tentang daerahnya dalam perjalanan kami menuju Bluff Cove, jalan yang kami lewati berlumpur, basah dan banyak bebatuan. Ini benar-benar sebuah pertualangan. Perjalanan menuju ke sarang penguinnya menempuh jarah yang tidak jauh, mungkin hanya 3 km. Karena medan yang kami lewati penuh tantangan perjalanan ini memakan waktu sekitar 30 menit. Daerah bebukitan yang luas tetapi kelihatannya tidak bisa di tumbuhi pohon besar. Hanya ada rerumputan dan pohon perdu. Tour yang bernama Bluff Cove adventure ini, mengunjungi beberapa tempat, dan yang paling utama adalah mengunjungi koloni dari ribuan pinguin. Disini kami di berikan waktu selama 1,5 jam untuk menikmati dan menyaksikan bagaimana penguin-penguin yang anteng-anteng itu hidup. Mereka tidak terganggu oleh kedatangan para wisatawan. Diperkirakan di seluruh dunia ada 18 jenis pinguin. Dan yang hidup di daerah extrim dingin seperti Antartika dan daerah sekitarnya seperti Falklands islands dan Ushuaia ada lima jenis. Jenis penguin yang kami temui di Bluff Cove ini adalah jenis penguin ‘gentoo dan King penguin’. Hanya ada 4 atau lima king penguin. Jenis lain adalah adelie, chinstrap dan emperor. King dan emperor penguin bisa dibedakan dengan yang lain karena warna bulu kepalanya yang mencolok kekuningan. Mereka berada bersama koloni besar ini. Untuk menghindari kontak antara satua ini dengan para pengunjung, di berikan batas seperti tanda segitiga kecil yang di tancapkan di tanah. Itu adalah garis pembatasnya. Penguin juga tidak menghampiri kita yang datang walau hanya berjarak sekitar dua meter. Mereka bergerak hanya untuk minum air. Selebihnya mereka bergerombol membelakangi arah angin. Setelah kunjungan ini tamu-tamu di sajikan minuman penghangat badan di sebuah café bernama ‘sea cabbage café’ atau café kol laut. Berjarak sekitar 250 meter dari koloni pinguin. Sekaligus untuk beristirahat dari terpaan udara yang dingin. Pilihan minumannya antara lain coklat panas, kopi dan teh, serta di sajikan kue dan kukis semuanya gratis. Suanana dengan penghangat udara menjadi tambah hangat oleh seorang ibu yang memainkan piano tiup, sejenis alat musik kuno. Tidak tepat dibilang piano karena ada tabung udaranya yang bisa direntang dan dipendekkan. Bangunan lain adalah museum kecil yang hanya berukuran 3x4 meter, menyajikan beberapa koleksi kuno pulau ini. Di jaga oleh seorang ibu yang memperagakan pemintalan bulu domba untuk menjadi benang wool. Perjalanan pulang bertambah berkesan dengan slipnya mobil kami di lumpur dan tidak bisa bergerak maju atau mundur. Para pengelola tour ini demikian profesional. Berselang semenit mobil lain sudah ada di depan untuk memberikan pertolongan, menit kedua sopir mengambil tali pengait yang panjangnya kira-kira empat meter, menit ketiga tamu-tamu di mobil lain turun untuk mengabadikan dalam foto dan video. Menit keempat kami sudah keluar lumpur dan berangkat kembali. Setelah memasuki jalan raya dan melewati jalan berpasir kami di jemput oleh mobil mini bus semula. Keberangkatan pulang juga melewati jalan yang sama seperti ketika berangkat pagi tetapi kami baru mendapat penjelasan tentang ladang ranjau sisa-sisa perang 26 tahun yang lalu. Ranjau-ranjau darat yang masih aktif di beri pembatas kawat berduri, diperikaran masih ada ratusan ribu ranjau yang ditanam oleh pasukan Argetina dikaki bukit ini. Kami berhenti beberapa menit hanya untuk melihat plang “Awas Ranjau”.(ant/waa) |
Setelah tiga hari berkeliling di Benua es Antartika, pagi ini kami tiba di Pulau Falkland atau juga di sebut pulau Malvinas. Pulau yang menjadi terkenal karena perang Malvinas antara Ingris dan Argentina tahun 1982. Angin bertiup cukup kencang di musim panas ini, menjadikan cuaca yang seharusnya hangat menjadi dingin. Dalam parjalanan tadi udara tercatat paling dingin 7.7°C yang tertinggi 10 derajat.

Mozilla Firefox
Komentar
RSS feed untuk komentar pd artikel ini.