Monday, December 6, 2021
HomeBERITA NASIONALKejam dan Tidak Prikemanusiaan, Penindasan Ini Seharusnya Tidak Terjadi

Kejam dan Tidak Prikemanusiaan, Penindasan Ini Seharusnya Tidak Terjadi

Jakarta – Belasan foto yang ditampilkan mendapatkan perhatian serius oleh sejumlah mahasiswa Universitas Kristen Indonesia (UKI). Bahkan diantara mereka mengatakan penindasan yang digambarkan dalam foto-foto itu seharusnya tidak terjadi dan dunia harus diisi dengan tenggang rasa antar sesama manusia.

Hal demikian disampaikan oleh sejumlah mahasiswa usai menyaksikan pameran foto Journey of Falun Dafa yang digelar di Lobby Fakultas Ekonomi, Universitas Kristen Indonesia, di Cawang, Jakarta, Kamis (18/6/2015).

Sebut saja Elisa dan Melisa, mahasiswi Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP).  Usai menyaksikan foto-foto yang ditampilkan, merek berdua merasa terharu dan iba terhadap sejumlah foto menggambarkan tentang penindasan dialami oleh praktisi Falun Gong.

Elisa dan Melisa mempertanyakan mengapa para korban yang disiksa harus diperlakukan seperti itu. Para korban seharusnya memiliki hak untuk hidup bebas, hingga akhirnya justru disiksa. Mereka berdua  menyampaikan rasa iba, terharu dan sakit atas apa yang dialami para korban penindasan.

“Kejam sekali, ini tidak mempunyai prikemanusiaan, kenapa mereka harus seperti itu, kasihan, tidak adil dan tidak berprikemanusiaan,” kata Elisa didampingi temannya Melisa yang kuliah di jurusan Bahasa Inggris.

Melisa seraya menegaskan apa yang disampaikan teman karibnya itu juga turut menyampaikan rasa iba atas adanya gambaran tentang penindasan. Menurut dia, prisitiwa itu seharusnya tidak terjadi. Bahkan di dunia semestinya harus memiliki toleransi serta tenggang rasa sesama manusia.

“Menurut saya ini tidak harus terjadi, kita harus tenggang rasa, menurut aku sih seharusnya di dunia harus ada tenggang rasa,” ujarnya.

Sementara Jessica yang turut menyaksikan pameran foto itu menilai semestinya para korban selayaknya tidak mendapatkan perlakuan yang buruk itu. Apalagi jika kemudian mereka yang disiksa dan dihukum nyatanya tidak bersalah.

“Kasihan sekali, seperti tidak boleh, apalagi orang yang tidak bersalah tidak layak menerima perlakuan seperti ini,” ujarnya yang kuliah di Jurusan Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP).

Sementara Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, UKI, Witarsa Tambunan usai meresmikan pembukaan pameran foto menyambut baik kegiatan yang digelar di UKI. Apalagi kegiatan ini dinilai bagus untuk para mahasiswa untuk mengetahui persoalan dengan beragam sudut pandang.

“Acara ini bagus untuk mahasiswa, ketika dia kuliah harus tahu semuanya saja, jadi jangan satu pihak saja, dia harus memiliki berbagai macam untuk dikaji, karena itu adalah kesempatan mereka di bangku kuliah,” kata Witarsa.

Sedangkan Ketua Himpunan Falun Dafa Indonesia, Gatot Machali menyatakan pameran foto yang ditampilkan semuanya menceritakan tentang perjalanan Falun Dafa. Kegiatan dan kejadian terhadap Falun Dafa ini diantaranya dari masa ke masa sejak diperkenalkan 1992 silam di Tiongkok hingga pada saat ini.

Menurut Gatot, tidak hanya menampilakan foto nantinya juga akan diputarkan film pendek Tears and Blood yang menceritakan tentang kondisi kamp kerja paksa di Tiongkok. Film ini pada intinya menceritakan kerja paksa yang dialami praktisi Falun Gong.

Gatot berharap kepada masyarakat luas untuk mengenali Falun Dafa sebagaimana adanya. Dia menambahkan Falun Dafa tidak sebagaimana yang difitnahkan selama ini. Falun Dafa yang berlandaskan prinsip sejati-baik-sabar pada dasarnya tidak berpolitik dan hanya menjadi korban dari sebuah penindasan dan penganiayaan.

“Falun Gong tidak seperti yang difitnahkan, tentu kita mengajak akademisi yang kritis, lebih rasional yang mengedepankan prinsip keadilan,” ujarnya.

Falun Gong atau Falun Dafa adalah latihan mengolah jiwa dan raga berdasarkan prinsip Sejati, Baik dan Sabar. Hingga saat ini metode latihan ini sudah menyebar ke 114 negara di dunia. Sedangkan di Tiongkok yang mengikuti latihan ini mencapai 100 juta orang, jauh melampaui anggota Partai Komunis Tiongkok.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Most Popular