Sunday, December 5, 2021
HomeEKONOMI TIONGKOKGelembung Tiongkok Ada Dimana-mana, Beli Rumah atau Saham

Gelembung Tiongkok Ada Dimana-mana, Beli Rumah atau Saham

Sun Yun

Beli rumah! Tidak, tunggu dulu. Beli saham! Baiklah, kemudian baru beli rumah! Masyarakat Tiongkok menghadapi pilihan yang sulit. Rabu (29/7/2015) pasar saham China naik lebih dari 3%, namun, bursa saham yang anjlok lebih dari 8% Senin kemarin masih membuat investor takut.

Rabu (29/7/2015) lalu, setelah dua bursa saham Tiongkok dibuka sedikit lebih tinggi, namun kemudian tergelincir lagi. Shanghai Composite Index naik 3,44% saat penutupan, naik 126,1 poin, perdagangan ditutup dengan nilai transaksi sebesar 557,491 miliar yuan. Sementara itu, Shenzhen Indeks Komponen dibuka pada posisi 12.823,07 poin, naik 506,29 poin, atau naik 4,11%, perdagangan ditutup dengan nilai transaksi sebesar 523,082 miliar yuan.

Tapi dua hari lalu, saham seri A kembali tergelincir, Shanghai(securities)composite index anjlok 8.48% mencatat penurunan terbesar satu hari dalam delapan tahun terakhir ini. Sehingga hasil dari upaya keras terkait penyelamatan yang dilakukan pihak berwenang selama lebih dari tiga pekan itu gagal. Sementara itu, pada Selasa (28/7/2015), Shanghai Composite Index dan Shenzhen Indeks Komponen sedikit rebound.

Melansir laporan CNN 29 Juli 2015, bahwa Tiongkok memiliki satu masalah bahwa warganya adalah penabung terbesar di dunia, namun, mereka tidak memiliki tempat yang cukup untuk menyimpan uangnya. Sehuingga kenyataan ini memicu terjadinya gelembung asset.

Selama bertahun-tahun, masyarakat Tiongkok memilih berinvestasi di property. Dalam aspek tertentu, investasi ini masuk akal, karena di negara dengan penduduk terpadat di dunia ini, rumah selalu ada permintaan yang cukup. Megapolitan menjulang tinggi dalam semalam.

Namun, seiring dengan semakin banyaknya investor yang menyesaki bidang property, pasar itu menjadi jenuh. Beberapa proyek baru (property) kosong melompong tak berpenghuni, pembangunan melambat, dan harga perumahan anjlok. Seiring dengan turunnya tingkat pengembalian, banyak investor menarik uang mereka dari real estate, dan menanamkan ke sebuah instrumen investasi panas yang baru yakni saham.

Gelombang investasi menggerakkan pasar saham Tiongkok mencapai tingkat ketinggian baru. Bursa saham Shanghai mencapai puncaknya pada pertengahan Juni lalu, naik luar biasa 150% dibanding tahun sebelumnya. Sementara itu, gelembung pasar saham Shenzhen semakin besar.

Kemudian gelembung itu pun pecah, pasar saham terjun bebas tak terkendali.

Sekarang, karena tidak begitu banyak pilihan bagi warga biasa di Tiongkok untuk berinvestasi, sehingga menurut investigasi keuangan keluarga di Tiongkok, sejumlah dana tersebut diinvestasikan kembali ke real estate.

Brian Jackson, ekonom di IHS Global Insight mengatakan, “Keluarga di Tiongkok memiliki tingkat tabungan domestik yang besar, banyak uang tunai digunakan untuk berinvestasi.”

Pilihan investasi resmi di Tiongkok sangat terbatas, sehingga orang-orang menyerbu ke dalam satu gerbang terbuka, dan memicu gelembung spekulatif. Investor Tiongkok hanya sebatas pada real estate, dana pensiun, deposito bank dan saham. Sementara investasi dibatasi secara ketat.

Kurangnya pilihan membuat suku bunga tinggi sekaligus juga berisiko tinggi, produk keuangan yang tidak transparan menjamur. Masalahnya, selain di luar neraca keuangan di bank, juga kurangnya transparansi. Bagi investor yang ingin melarikan diri dari sistem investasi di bawah bayang-bayang ini, pasar saham dan real estate bisa memberikan imbal hasil yang menarik.

Boom pasar saham baru-baru ini dipicu investor ritel, banyak dari mereka yang tidak memiliki pengalaman investasi, ikut terjun ke dalam saham setelah melihat keuntungan besar yang diraih kerabat atau tetangga mereka. Banyak yang percaya bahwa dukungan pemerintah membuat pasar saham menjadi sebuah taruhan yang aman.

Jackson mengatakan bahwa mentalitas kawanan ini juga ada di tempat lain, tapi gelembung spekulatif terbentuk lebih cepat di Tiongkok. Masalah yang dihadapi pemerintah Tiongkok adalah menemukan sebuah jalan keluar bagi pilihan investasi besar untuk memenuhi kebutuhan investasi keluarga, selain itu juga tidak boleh membawa terlalu banyak guncangan pada sistem. (joni/rmat)

 

 

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments