Monday, December 6, 2021
HomeBERITA TIONGKOKBayi-Bayi Buangan di Tiongkok Ingin Terus Hidup

Bayi-Bayi Buangan di Tiongkok Ingin Terus Hidup

Oleh: Liu Quan

Jia Jia yang sudah berumur 9 tahun dibesarkan di sebuah yayasan perawatan anak asuh Beijing, Tiongkok. Ia sengaja ditinggal oleh orang tuanya di luar salah satu klinik infertilitas saat masih berumur 3 bulan. Jia mengalami kelumpuhan paro badan dari dada ke bawah karena kegagalan bedah spina bifida. Cedera bedah menyebabkan saraf tulang belakang kehilangan fungsi untuk mengontrol anggota gerak bawah. Meskipun demikian, Jia Jia belajar dan sudah mampu berenang, bersekolah, mengganti popok sendiri. Ia pun memiliki cita-cita untuk menjadi seorang polisi bila kelak sudah dewasa.

Koresponden CNN, Will Ripley menulis kisah tentang Jia Jia.

”Bila ada orangtua, saya dapat memilih kehidupan yang saya inginkan”

Alenah yang berlokasi di Beijing merupakan yayasan perawatan anak asuh yang kini dihuni oleh 23 orang anak-anak Tiongkok yang mengalami kecacadan tubuh. Yayasan terus berusaha untuk mencarikan keluarga angkat buat Jia Jia. Dan kepribadian Jia Jia sering menimbulkan rasa salut para relawan maupun staf dari yayasan tersebut.

Jia Jia adalah anak yang paling tua dan paling lama tinggal di yayasan. Ia juga sering memerankan fungsi kakak dalam mengurusi dan merawat anak-anak lain sepenghunian.

Satu keluarga pernah berniat untuk mengangkat Jia Jia, tetapi akhirnya batal. Jia Jia menyaksilan banyak teman-temannya menemukan rumah baru kemudian pindah dari yayasan.

“Sulit sekali untuk mencarikan rumah baru buat Jia Jia, kita sudah mencarikan selama 9 tahun. Ia pun sudah menanti selama itu,” kata staf yayasan yang bernama Melody Zhang.

Awal tahun ini, satu keluarga Amerika menyerahkan dokumen keinginannya untuk mengadopsi Jia Jia. Mereka memahami kondisi yang dialami Jia Jia melalui teman segereja yang juga mengadopsi teman Jia Jia.

Namun, keluarga Wilson yang tinggal di Kansas City ini baru mengumpulkan sebagian dari USD. 36.000,-biaya yang diperlukan untuk mengadopsi Jia Jia. Di halaman Facebook mereka mencantumkan rincian prosedur adopsi.

Jika segalanya berjalan dengan baik Jia Jia masih membutuhkan waktu bulanan untuk dapat menempati rumah barunya di Missouri. Ia sudah berulang kali melalui Skype berbicara dengan calon orangtua, calon kakek nenek dan saudara angkatnya. Ia berharap secepatnya dapat bergabung dengan mereka.

Bagi Jia Jia menunggu beberapa bulan seperti menunggu seumur hidup.

“Ia memiliki jiwa tegar dan mudah untuk beradaptasi dengan sesama anak. Tidak emosional dan mencoba menjadi anak yang bahagia. Meskipun demikian, kita masih bisa merasakan ada kesedihan dalam hatinya ketika mendengar penjelasan tentang keinginannya untuk memiliki suasana kehangatan dari suatu keluarga,” kata Melody Zhang.

“Bila ada orangtua, maka saya bisa tetap hidup, dan memilih kehidupan yang saya inginkan” kata Jia Jia.

Setelah menuangkan isi hatinya, ia lalu menangis membuat orang-orang yang berada di sekitar juga ikut meneteskan airmata. Pada saat itu kita memahami duka dalam hati Jia Jia.

Jumlah anak yatim cacat meningkat

Jumlah bayi yang dibuang orangtua telah menurun dalam beberapa tahun terakhir ini walau masih tidak sedikit. Bayi yang dibuang di Tiongkok hampir kesemuanya karena kecacatan. Di Tiongkok, hampir setiap hari ada puluhan bayi yang dibuang orangtua.

Beberapa kasus bahkan lebih tragis, seperti yang dilaporkan oleh media pada minggu lalu bahwa seorang bayi perempuan yang baru lahir ditemukan orang dengan posisi kepala berada dalam lubang kloset di toilet umum untuk wanita di Beijing. Bayi itu kemudian segera dilarikan ke rumah sakit dan sekarang berada di panti asuhan.

Anggota polisi propinsi Guangxi pada bulan Mei menemukan jasad seorang bayi laki penderita bibir sumbing yang sudah 10 hari dikubur di satu tempat belantara yang jauh dari hunian.

Juga kejadian pada Mei 2013, seorang bayi laki yang baru lahir ditemukan dalam pipa toilet, ia kemudian dibawa pulang oleh kakek neneknya. Namun ibu berusia 22 tahun yang merupakan orangtua tunggal itu mengaku di depan polisi bahwa ia tidak bermaksud untuk membuang bayi kecuali terjadi kecelakaan. Ibu itu akhirnya tidak dihukum karena membuang bayi.

Selama kurun waktu 5 tahun terakhir ini, puluhan panti asuhan anak telah bercokol di berbagai kota Tiongkok, mereka menyediakan fasilitas penitipan anak bagi orangtua yang menghendaki rasa aman, agar putra-putri mereka tidak bermain di pinggir jalan atau tempat-tempat yang berbahaya.

Sebuah panti asuhan di propinsi Shandong dalam 11 hari pembukaan untuk menerima titipan anak  telah kemasukan 106 orang bayi yang seluruhnya dalam kondisi cacat atau berpenyakit.

Ketua China Philanthrophy Research Institute (CPRI), Wang Zhenyao mengatakan, “Kebijakan untuk kesejahteraan anak di Tiongkok belum sempurna. Selain itu, kebijakan untuk kemanusiaan juga memiliki banyak celah.”

Dalam laporan tahunan 2014 CPRI menyangkut kebijakan untuk kesejahteraan anak terlihat bahwa jumlah bayi cacad di Tiongkok terus bertambah sebanyak 30.000 – 50.000 jiwa setiap tahunnya. Dilaporkan pula bahwa ada sebanyak 878 organisasi non pemerintah di Tiongkok yang mengurus bayi-bayi buangan orangtua mereka.

Pemerintah Tiongkok mengatakan bahwa anak yatim hanya berjumlah sekitar 600.000 orang, tetapi menurut perkiraan organisasi lainnya, sedikitnya 1 juta orang anak yatim hidup di Tiongkok.

Penghuni panti asuhan di Tiongkok sekarang tidak lagi anak-anak sehat. Kebanyakan mereka merupakan produk dari kebijakan 1 anak, akibat lebih longgarnya peraturan yang memungkinkan keluarga membayar denda atas kelahiran anak yang diluar ketentuan. Selain itu, sikap sosial tradisional yang patriarki sudah mulai berubah secara perlahan.

“Dulu membuang anak lebih sering terjadi, masalahnya pun sangat kompleks. Antara lain disebabkan oleh kebijakan 1 anak, jenis kelamin dan kemiskinan”. “Sekarang membuang anak kebanyakan diakibatkan oleh penyakit serius,” tutur Wang Zhenyao.

Meskipun pertumbuhan ekonomi Tiongkok pesat, tetapi para ahli kesejahteraan mencatat bahwa sebagai negara ekonomi terbesar kedua dunia namun Tiongkok memiliki sistem jaminan sosial yang kurang sempurna, sehingga puluhan ribu anak yatim yang setelah berusia lebih dari 14 tahun, maka mereka akan kehilangan hak untuk diadopsi.

Relawan berkebangsaan Kanada yang bekerja di Alenah, Christina Weaver (17 tahun) mengatakan, “Mereka (bayi-bayi buangan) juga membutuhkan kasih sayang, dan mereka pun patut untuk diberikan kasih sayang. Mereka tidak semestinya merasakan hidup seperti ini.” (sinatra/rmat)

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Most Popular