Tuesday, November 30, 2021
No menu items!
HomeEKONOMI TIONGKOKMengapa Devaluasi RMB Gairahkan Ekonomi Tak Dapat Direalisir

Mengapa Devaluasi RMB Gairahkan Ekonomi Tak Dapat Direalisir

Oleh: Jing Yuan

Pada 11 Agustus lalu pemerintah Partai Komunis Tiongkok (PKT) di luar dugaan menurunkan nilai tukar RMB sebesar 2% menyebabkan depresiasi RMB. Media asing berpendapat PKT berharap ekspor dapat bergairah kembali dengan mendevaluasi RMB, namun cara seperti ini mengandung risiko teramat besar.

Pertama, mari kita telaah lebih dulu apakah mata uang RMB telah “over value”? Bisa dikatakan begitu. Sejak PKT merebut kekuasaan pada 1949 dan lahirnya RMB, mata uang ini belum pernah over value sebelumnya. Di satu sisi adalah karena mata uang yang diedarkan oleh partai politik diktator dan anti-kemanusiaan kurang dipercaya, pada dasarnya “tidak bernilai”.

Kedua, karena dikendalikan sepenuhnya oleh PKT membuat RMB relative “under value”, maka upah tenaga kerja di Tiongkok menjadi sangat murah, sehingga RRT dapat memainkan peran sebagai “pabrik dunia” dan membuat rapor PDB terlihat bagus. Lewat permainan nilai tukar mata uang, PKT pun tanpa terlihat dapat meraup devisa asing dalam jumlah besar dan kelihatannya seperti “negara besar yang sedang bangkit”, dan warga negara-negara Barat pun bisa menikmati hasil jerih payah buruh RRT yang diupah rendah.

Inilah proses mendasar selama lebih dari 30 tahun ini dengan apa yang disebut PKT sebagai “Reformasi Keterbukaan” dan PDB nomor dua, memanfaatkan “diplomatik” dan “perdagangan” anti “perubahan damai”. Kita bisa melihat, yang mendapat manfaat adalah PKT, para pejabat PKT, perusahaan multi nasional dan warga asing, sedangkan rakyat Tiongkok justru diperas habis-habisan.

Masalah “Made in China” sekarang ini adalah hasil produksi yang terlalu berlebih, dan masalah lainnya adalah kurangnya daya saing. Mendevaluasi RMB untuk meningkatkan daya saing sepertinya dapat menyelesaikan masalah, tapi sebaliknya justru akan menimbulkan masalah yang lebih besar. Menjawab pertanyaan ini dengan logika ilmu ekonomi modern akan sangat rumit, dan mungkin kurang persuasive, tapi jika menggunakan konsep berpikir konvensional warga Tiongkok, maka akan menjadi sangat sederhana:

Memiliki sejarah 5000 tahun, rakyat Tiongkok telah menciptakan nilai budaya dan ekonomi terbesar di dunia, kini norma “rakyat Tiongkok” akan kembali seperti di masa lampau adalah suatu keniscayaan. Wujud konkritnya terlihat pada bagaimana rakyat membedakan budaya tradisional dengan budaya partai sesat, pemikiran rakyat akan “kebebasan” dan upaya rakyat membebaskan diri dari belenggu partai sesat, serta kesadaran rakyat TIongkok terhadap nilai diri. Wujud yang paling sederhana adalah, dengan pengorbanan yang sama akan mendapat imbalan yang berbeda di dalam dengan di luar negeri, dan perbedaan yang sangat besar itu tidak bisa diterima oleh rakyat Tiongkok.

Kesadaran rakyat TIongkok bukan saja merupakan aspirasi rakyat, melainkan juga suratan takdir. Dan logika dari “devaluasi RMB untuk menggairahkan ekonomi” : melemahkan nilai tukar mata uang, akan membuat upah pekerja RRT menurun, membuat rakyat Tionkok terdevaluasi, rezim ini masih saja menentang kehendak langit dengan menjadi alat yang merampas rakyat Tiongkok bagi seluruh dunia.

Akan sangat banyak masalah yang bermunculan dengan melakukan “devaluasi RMB”, seperti memperbesar hutang perusahaan industry berat, atau mata uang dasar mengalir keluar.

Tidak bisa dikatakan para pakar yang mengemukakan metode mendevaluasi RMB adalah “orang jahat” atau “bodoh”, mereka hanya belum sepenuhnya dapat melepaskan diri dari cara berpikir ala “ilmu ekonomi PKT”, mereka secara tanpa sadar hanya mempertimbangkan angka “PDB” saja, hanya mempertimbangkan “ekspor”, “investasi”, “konsumsi”, “lapangan kerja” dan indeks ekonomi lainnya, mungkin tidak pernah berpikir memerintah suatu negara dengan mempertimbangkan apakah fokus utamanya.

Semoga pemikiran tradisional Tiongkok “menghormati Langit, menjunjung moral” kembali ke negeri Tiongkok, agar budaya dan ekonomi Tiongkok kembali menarik perhatian dunia, meningkatkan norma kehidupan dan kehormatan rakyat Tiongkok, meningkatkan nilai pada passport Tiongkok, dan kembali mengukir sejarah dengan tinta emas. (sud/whs)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments