Tuesday, November 30, 2021
No menu items!
HomeNEWSTIONGKOKPasar Saham Anjlok, Suasana Dingin Melanda Ekonomi Tiongkok

Pasar Saham Anjlok, Suasana Dingin Melanda Ekonomi Tiongkok

Laman the “New York Times”, Minggu (12/7/2015) menyebutkan, meskipun dalam beberapa hari ini harga saham berhasi rebound, namun, para pengusaha Tiongkok masih cemas, karena mereka merasakan seberkas serangan dingin terkait bursa saham yang tidak stabil.

Sekretaris Jenderal CAAM / China Association of Automotive Manufacturers (Asosiasi Industri Otomotif China) mengatakan, penjualan mobil belum kembali ke tingkat normal, orang-orang masih sangat berhati-hati.

“Mereka merasakan lonjakan arus di pasar saham mungkin hanya bersifat sementara,” katanya.

Pakar khawatir merosotnya pasar saham akan menghancurkan perekonomian Tiongkok

Laporan terkait mengatakan, meskipun pasar saham Tiongkok berhasil rebound (berubah arah dari turun ke naik) , tetapi pasar saham Tiongkok masih kehilangan 3,1 triliun dolar AS. Sejumlah besar pakar khawatir hal itu akan menghancurkan perekonomian Tiongkok, terutama jika pasar saham terus merosot, sehingga akan berdampak pada kepercayaan konsumen, dan menjadi beban pertumbuhan ekonomi Tiongkok dan ekonomi lainnya yang bergantung pada ekspor ke Tiongkok.

Di masa pertumbuhan ekonomi yang melambat, otoritas PKT jelas takut akan konsekuensi dari anjloknya pasar saham. Dalam beberapa pekan terakhir ini, Beijing telah mengambil tindakan agresif untuk mendukung pasar saham. Dong dao, kepala ekonom kawasan Asia pada Credit Suisse Group mengatakan, masalah pasar saham bagaikan serangan jantung.

“Saat ini, prioritas mereka adalah menghentikan pertumpahan darah (pasar saham yang terjun bebas) dan mengendalikan risiko sistemik,” ujar Dong Dao.

Meskipun dealer mobil, broker real estate dan salesman barang-barang skala besar lainnya merasa cemas atas anjloknya pasar saham Tiongkok, namun pengusaha Tiongkok yang menjual barang-barang murah, seperti sarung tangan dan peralatan elektrik justru mengatakan bahwa mereka tidak terpengaruh.

Efek riak ekonomi sejauh ini belum terjadi, karena pemegang saham tidak meluas, sementara penurunan pasar juga hanya beberapa minggu. Dampak ekonomi akhir akan tergantung pada apa yang akan terjadi dalam beberapa bulan ke depan.

Rasa sakit mungkin akan menyebar ke seluruh dunia

Laman the “New York Times” menyebutkan, jika bursa saham berhasil rebound, kecil kemungkinan ekonomi akan mengalami pukulan fatal. Sebaliknya jika pasar saham kembali terjun bebas, maka rasa sakit itu akan menyebar ke segenap perekonomian, bakan mungkin meluas ke seluruh dunia.

Tiongkok sekarang merupakan negara pengimpor minyak, tembaga dan komoditi lainnya yang terbesar di dunia, sehingga banyak negara berkembang bergantung pada kesehatan ekonomi Tiongkok yang berkelanjutan. Selain itu, Tiongkok juga merupakan pasar mobil, TV layar datar dan iPhone Apple terbesar.

Karena para miliarder Tiongkok menderita kerugian pasar saham yang terbesar, sehingga penjualan barang-barang mewah dari Eropa barat dan Amerika mungkin akan menurun drastis. Para miliarder memainkan peran utama dalam pasar real estate perkotaan yang tinggi harganya di Tiongkok. Sehingga ada tanda-tanda kepanikan pada pasar ini.

“Saya bertemu dengan pemilik apartemen yang ingin menjual apartemennya, karena mereka sangat membutuhkan uang tunai,” komentar mereka.

Su hua, seorang broker real estate mengatakan, bahwa dibandingkan dengan beberapa bulan yang lalu, orang-orang yang ingin membeli rumah sekarang menurun tajam.

Demikian juga dengan Industri otomotif merasakan dampak dari penurunan pasar saham. Jumat pekan lalu (10/7/2015), China Association of Automobile Manufacturers yang sebelumnya memperkirakan pertumbuhan penjualan dari 7% itu turun menjadi 3%.

Ada indikasi yang menunjukkan, bahwa industri ritel kemungkinan akan banyak terpengaruh. Pemilik toko kawat di Changsha, provinsi Hunan, mengatakan, “dagangan sepi, nyaris tidak ada yang datang ke area perbelanjaan.”

Seiring dengan konsumen yang mengencangkan ikat pinggang (penghematan), beberapa ekonom khawatir kemungkinan Tiongkok akan mendapat dampak yang fatal. Mereka juga khawatir, tidak ada yang benar-benar tahu bahwa di sebuah negara yang memiliki banyak perusahaan sekuritas dan tidak memadainya dana perusahaan manajemen asset itu secara tiba-tiba mengalami risiko terkait anjloknya sekuritas dalam skala luas. Sementara itu, produk keuangan dari struktur baru yang diluncurkan tahun lalu semakin menambah ketidakpastian.

“Dan itulah sebabnya mengapa Beijing perlu menghentikan pasar saham yang merosot. Karena sebelum terjadi bencana, tidak ada yang tahu di mana letak risikonya,” pungkas Dong dao, kepala ekonom kawasan Asia pada Credit Suisse Group. (joni/rmat)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments