Tuesday, November 30, 2021
No menu items!
HomeEKONOMI TIONGKOKDevaluasi Renminbi Baru Terlaksana Setelah Zhou Xiaochuan Berhasil Membujuk Xi Jinping

Devaluasi Renminbi Baru Terlaksana Setelah Zhou Xiaochuan Berhasil Membujuk Xi Jinping

Gu Qinger

Baru-baru ini Bank Sentral Tiongkok tiba-tiba mendorong penurunan nilai tukar mata uang Renminbi terhadap Dollar AS yang cukup menggoncangkan pasar modal global. Menurut laporan bahwa dalam proses reformasi terhadap nilai mata uang Tiongkok agar lebih berorientasi pada pasar, Gubernur Bank Sentral Tiongkok Zhou Xiaochuan melakukan pendekatan dengan mengikuti pandangan Robert A. Mundell yang terkenal, yaitu Trilema (The Impossible Trinity). Ia pun berhasil membujuk Xi Jinping beserta pejabat senior PKT lainnya untuk menyepakati dan mendukung gagasannya.

Sejak 11 Agustus, Bank Sentral Tiongkok berturut-turut menurunkan nilai tukar tengah Renminbi terhadap Dollar AS hingga lebih dari 2.000 poin, penurunan ini merupakan penurunan terbesar sejak tahun 1994. Penurunan nilai tukar secara cepat sebesar 4.5 % membuat pukulan bagi ekonomi beberapa negara Asia Pasifik seperti Malaysia, Vietnam, Rusia. Dan berbagai harga komoditas seperti tembaga, aluminium, minyak dan lainnya telah mengalami penurunan drastis akibatnya. Penurunan nilai Renminbi pada pekan itu, 10 – 15 Agustus 2015 adalah yang terbesar.

Ada berita dari lingkungan ekonom Beijing yang mengatakan bahwa tindakan luar biasa untuk mendevaluasikan mata uang Tiongkok itu berasal dan merupakan gebrakan terbesar dari Zhou Xiaochuan sebelum ia pesiun sebagai jabatan Gubernur Bank Sentral. Ia ingin mengubah situasi yang mematok secara kaku nilai tukar mata uang Tiongkok terhadap AS yang berjalan selama ini. Selain itu, upaya ini juga dianggap sebagai bantuan untuk membersihkan hambatan dalam tugas selaku gubernur bagi pejabat baru yang akan menggantikan kedudukannya nanti.

Bloomberg Amerika pada 18 Agustus melaporkan bahwa dalam proses reformasi mata uang Renminbi agar lebih berorientasi pasar, Zhou Xiaochuan melakukan pendekatan sesuai pandangan terkenal dari Robert A. Mundell yang berhasil memenangkan hadiah Nobel dalam bidang ekonomi, yaitu, sebuah negara mustahil untuk bisa menerapkan tiga kebijakan berikut secara bersamaan. Yakni, Sistem moneter yang independen. Nilai tukar mata uang asing yang stabil dan keterbukaan, tanpa pengendalian dari arus modal.

Pengalaman negara-negara Asia pada era 90-an telah membuktikan bahwa ‘Trilema’ itu benar. Ketika beberapa negara melanggar hukum ini, mereka mematok sistem tukar mata uang, memberlakukan suku bunga tinggi dan pembebasan kontrol arus modal. Sampai terjadi pembalikan cepat arus modal tersebut bersama-sama dengan situasi perdagangan luar negeri, krisis moneter Asia antara tahun 1997 – 1998 itu tak terelakkan.

Laporan juga mengatakan bahwa devaluasi yang bertujuan untuk lebih berorientasi pada pasar minggu lalu itu oleh sebagian kalangan dianggap sebagai upaya untuk mendorong angka ekspor Tiongkok, meningkatkan prosentase dimasukkannya Renminbi ke dalam keranjang mata uang internasional sesuai ketentuan IMF. Sehingga devaluasi kali ini lebih menyiratkan keinginan untuk merealisasikan pandangan ketiga dari ‘Trilema’ yaitu, Jika menghendaki arus modal masuk lebih besar, mengharapkan adanya ruang gerak dan fleksibilitas lebih besar dalam menetapkan kebijakan moneter, maka nilai tukar yang bebas mengambang menjadi penting.

Menurut jaringan berbahasa Mandarin FT bahwa, Zhou Xiaochuan pekan lalu berhasil membujuk para eksekutif Tiongkok untuk mendevaluasikan Renminbi. Dalam usulan untuk membujuk Xi Jinping itu Zhou mengatakan bahwa devaluasi bertalian dengan kepentingan nasional, dan diharapkan berfungsi sebagai motor penggerak pertumbuhan di saat ekonomi Tiongkok secara drastis sedang melamban seperti sekarang ini. Untuk eksternal, Bank Sentral menyebut devaluasi ini sebagai bagian dari reformasi moneter agar Renminbi lebih berorientasi pasar. Dan merupakan langkah maju dalam liberalisasi transaksi dengan mata uang Tiongkok.

Tetapi, Zhou Xiaochuan juga sempat membuat naik pitam beberapa pejabat termasuk Xi Jinping, demikian kata FT.

Zhou yang menjabat Gubernur Bank Sentral Tiongkok sekarang sudah berusia 67 tahun, sudah melampaui usia pensiun. Meskipun dari dulu sering terdengar isu akan digantinya Zhou, tetapi sejak 2013 ia masih terus dipertahankan, sampai pemerintah sendiri melanggar ketentuan Dewan Negara yang melarang pejabat menjabat lebih dari 2 periode. Tidak tergantinya Zhou memicu spekulasi pihak luar bahwa ‘PKT tidak memiliki orang yang tepat’. (sinatra/rmat)

 

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments