Monday, December 6, 2021
HomeFAMILYKELUARGAMenghadapi Sikap Anak yang Angkuh dan Tidak Sopan

Menghadapi Sikap Anak yang Angkuh dan Tidak Sopan

Terhadap sikap anak yang angkuh dan tidak sopan, kerap membuat para orangtua sakit kepala, tidak tahu bagaimana baiknya menghadapinya. Meskipun kita sulit dalam waktu singkat mengubah sikap mereka, namun, masih ada beberapa cara untuk membantu anak-anak memperbaiki sikapnya yang tidak sopan.

1. Cari tahu penyebabnya

Ada faktor tidak sama yang mendorong sikap mereka seperti itu. Pahami lebih dulu bahwa itu adalah kondisi dalam proses pertumbuhan anak-anak. Ketika mereka mulai belajar bisa untuk “menolak” dan “ini adalah milikku”, mereka akan setidaknya empat kali sehari mengatakan “tidak” untuk menolak orang lain. Karena mereka masih belajar bagaimana menyesuaikan diri, masih belum begitu matang atau dewasa dalam menangani suatu hal.

Selain itu, kita juga harus bersikap dari sudut pandang lain, apakah memerlakukan mereka dengan bijak. Coba pikirkan tentang perilaku kita sendiri, apakah mengkritik atau menyuruh mereka diam dengan suara lantang, atau menegur mereka bodoh. Umumnya, pola perilaku hubungan interaktif demikian anak akan dengan cepat merespon dan belajar menerapkannya terhadap sikap Anda.

2. Komunikasi

Jika Anda bisa lebih dulu menemukan akar masalahnya, dan ingin memperbaikinya. Cobalah untuk berbicara dengan mereka. Meskipun untuk sesaat mereka masih akan menunjukkan sikap “acuh tak acuh” atau “tidak peduli”, Anda tetap harus berusaha semaksimal mungkin.

Umumnya ibu dengan anak perempuan, ayah dengan anak laki-laki akan lebih mudah untuk berkomunikasi. Jadi, meskipun komunikasi dengan lawan jenis (ibu dengan anak laki-laki atau ayah dengan anak perempuan), tetap tidak perlu takut ada masalah yang sulit dipecahkan,.

Sikap yang baik harus dikembangkan sejak kecil. Misalnya masa kanak-kanak. Jika ia menjawabnya secara tidak santun, Anda harus meresponnya, “Kamu tidak boleh bicara seperti itu dengan ayah dan ibu, itu tidak sopan.” Jika si anak masih belum mengubah sikapnya, maka sebaiknya dijatuhi hukuman yang sewajarnya, segera dibina dengan disiplin keras.

Jika masalah perilaku itu terletak pada diri Anda sendiri, maka Anda harus memperbaiki masalah perilaku Anda, dan memberikan contoh yang baik

Jika merasa kesabaran Anda hampir habis dan hendak meluapkan emosi, sebaiknya tinggalkan anak sendirian di kamar untuk introspkesi, sementara Anda ke ruangan lainnya untuk menenangkan diri.

Tentu saja, jika usia anak-anak masih belia, untuk membantu diri Anda mengendalikan emosi , maka coba Anda bayangkan tingkahnya yang lucu dan menggemaskan ketika lahir,. Coba bayangkan, saat mereka lahir, harapan dan kasih sayang Anda terhadapnya, cara ini terdengar agak konyol, tetapi bagi kebanyakan orang, justru merupakan pengalaman unik dan luar biasa yang bisa dipraktekkan.

3. Coba temukan solusinya saat itu

Ketika anak mulai membangkang (membalas dengan sikap menantang), Anda harus secara tegas mengatakan : “Boby, jangan bicara seperti itu pada ayah, karena itu sangat tidak sopan.” Jika mereka terus membangkang, tegaskan sekali lagi : “Saya harapkan sebuah permintaan maaf!” Ingat, bicara dengan nada tegas. Biasanya Anak-anak akan takut dengan keteguhan dalam nada bicara Anda.

Jika masih tidak efektif juga, maka harus menjatuhkan hukuman yang sesuai. Dan jika ia protes, maka Anda harus menegaskan kembali perilakunya yang salah itu, biarkan dia tahu apa kesalahannya, dan apa konsekuensi dari akibat kesalahannya itu.

4. Kenyataan yang berkaitan dengan teman

Ketika berkaitan dengan teman-temannya, mereka akan memperlihatkan dengan sikap macho, (sangat umum ditemui di masa remaja). Ketika anak-anak menunjukkan sikap angkuhnya di depan teman-temannya sambil berkata : “Ya!!! Terserahlah! keluar dari kamar saya!” Sebagian besar orangtua tidak ingin mempermalukan anaknya di depan teman-temannya. Jangan sampai seperti orangtua demikian, Anda dapat melakukan tanggapan lain, misalnya katakan padanya secara sederhana tapi tegas : “Tolong hormati ayah!” Selain itu juga kecam keras ia di depan teman-temannya, setelah menunjukkan sikapnya yang tidak sopan itu, kemudian tinggalkan.

5. Ketika dihadapkan dengan perselisihan yang tak terelakkan

Dalam situasi emosi tak membantu meredakan keadaan, jika mereka berkata : “Ini tidak adil!” Jangan menjawab : “Hidup itu memang tidak adil!” Ini sangat menyedihkan. Atau mereka mengatakan : “Ibu Jenny membiarkannya berbuat seperti itu!” Anda cukup menjawab : “Saya bukan ibu Jenny, ya…begitulah!” Segera akhiri perdebatan, jika ia mulai menggerutu, sebaiknya Anda pergi saja. Biasanya, mereka tidak akan mengikuti Anda. Tapi, jika mereka mengikuti, sebaiknya abaikan saja. Kecuali mereka punya alasan khusus untuk berdiskusi.

6. Jangan membalas jika mereka bereaksi keras

Pembelaan diri adalah satu hal di satu sisi, tetapi jika anak sudah berlaku keras secara fisik, adalah dua hal yang berbeda. Memang cukup sulit untuk menanganinya jika terjadi kondisi seperti in. Jika usia anak Anda masih kecil, gendonglah dia seperti biasa, biarkan dia duduk dipangkuan Anda, dan katakan dengan tegas : “Jangan pukul ayah lagi ya!” Tingkatkan secara wajar nada suara Anda. Sebaliknya jika usia anak anda sudah agak besar seperti anak remaja. Ketika terjadi perselisihan, carilah bantuan. Jangan membalas, tapi Anda bisa membela diri jika diperlukan. Intinya, Anda boleh menjatuhkan hukuman badan padanya, tapi tidak boleh memukulnya.

7. Pahami sejenak apakah ia juga tidak menghormati orang lain

Misalnya, seperti guru atau pelatih. Jika benar, beritahu mereka tentang sikap dan tingkah laku anak Anda, dan hadapi anak-anak dalam memecahkan masalah. Ini perlu waktu yang tepat untuk mengemukakan masalahnya dan diselesaikan. (Jhn/Yant)

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Most Popular