Monday, December 6, 2021
HomeUncategorized3 Proses Bagaimana Nutrisi Dihancurkan

3 Proses Bagaimana Nutrisi Dihancurkan

 

Salah satu kekhawatiran terbesar terhadap pasokan makanan pada saat ini adalah, toksisitas dan miskin¬nya nutrisi. Dimulai dari fase pembenihan, lalu media tanah di mana benih tersebut ditanam, diiringi dengan cara perawatan selama fase pertumbuhan tanaman. Tapi ternyata hal tersebut tidak berhenti sampai disitu saja, degradasi lebih lanjut terjadi di antara masa panen hingga makanan tersaji di atas piring.

Berikut kita akan membahas tiga metode penghancuran nutrisi paling menonjol dalam asupan makanan Anda sehari-hari.

Pengolahan

Kategori makanan yang paling sering dimakan dan diproses bisa dibilang adalah biji-bijian. Mereka sering kali mengalami serangkaian pemrosesan yang membuatnya kehilangan sebagian besar nutrisi bila dibandingkan saat awal panen. Biasanya dilakukan untuk menghasilkan berbagai jenis produk tepung.

Untuk memulai proses ini, bagian yang sangat bergizi, yakni kulit ari biji-bijian dan sekam yang mengandung banyak serat dihilangkan, hanya menyisakan endosperm berwarna kuning muda, yang hampir semuanya terdiri dari zat pati dengan nilai gizi yang sangat sedikit dan peringkat indeks glikemik tinggi.

Setelah itu, dalam rangka untuk memerlambat proses penuaan dan menambah waktu penyimpanan, serta menjaga agar warna tetap putih bersih, maka endosperm dihancurkan dan diproses dengan klorida untuk membuatnya menjadi putih seketika. Sebuah produk sampingan dari proses tersebut adalah aloksan, yang digunakan untuk menginduksi diabetes pada hewan laboratorium untuk pengujian medis.

Jadi, apa yang tersisa dalam bahan pangan tersebut hanyalah nilai gizi yang sangat minim bila dibandingkan dengan aslinya.

Pemanasan

Cara lain penghancuran nutrisi dalam makanan adalah melalui pemanasan. Berbagai fitonutrien, enzim, probiotik, dan vitamin tidak dapat bertahan melalui proses pemanasan, menguras nutrisi makanan yang menunjang kehidupan.

Salah satu proses pemanasan yang terjadi sebelum makanan disalurkan ke toko-toko adalah pasteurisasi. Biasanya proses ini dilakukan pada produk susu untuk menghilangkan bakteri jahat yang mungkin ada selama proses panen. Sayangnya, setelah dipasteurisasi, semua nutrisi halus dan bermanfaat seperti enzim dan bakteri baik hilang seluruhnya, padahal mereka sangat penting untuk pencernaan dan kesehatan.

Praktek yang sangat umum lainnya adalah memasak makanan dalam oven dan kompor pada suhu yang tinggi dan dalam waktu yang lama, sehingga menghancurkan berbagai macam nutrisi.

Microwave merupakan cara terburuk untuk memasak makanan, karena ia merangsang molekul air di dalam bahan makanan yang dimasak, menyebabkan panas terbentuk dari dalam ke luar. Hal ini mengakibatkan proses penghancuran sel-sel pada makanan, sehingga nyaris total terjadi dekomposisi molekul vitamin dan fitonutrien yang dapat mempromosikan penyakit.

Makanan yang dihasilkan pemasak microwave, hampir benar-benar mati, tanpa meninggalkan apa-apa selain berupa kalori kosong, serat, dan mineral. Hampir setiap vitamin dan konten phytonutrisi telah dihancurkan.

Iradiasi

Proses ini adalah memaparkan makanan pada bahan radioaktif, seperti cesium-137 dan kobalt-60, untuk membunuh serangga, bakteri, jamur, kapang, dan mencegah berkecambah, serta memerpanjang waktu penyimpanan.

Sayangnya, makanan yang telah diiradiasi kehilangan banyak nilai gizinya. Iradiasi dapat menghancurkan antara 5 – 80 persen vitamin dan nutrisi yang ditemukan dalam berbagai makanan, termasuk di antaranya vitamin esensial A, B kompleks, C, E, dan K. Sebagai contoh, telur yang telah iradiasi akan kehilangan 80 persen vitamin A, dan jus jeruk akan kehilangan 48 persen beta karoten.

Meskipun pemanasan dan proses iradiasi sering dilakukan oleh organisasi pemerintah untuk mengurangi risiko penyakit dalam makanan, namun secara tidak langsung telah menciptakan sebuah kebijakan yang meningkatkan jumlah orang yang terbunuh oleh infeksi dan penyakit kronis akibat kerusakan probiotik, enzim, dan nutrisi lain yang membantu tubuh melawan dan menghancurkan infeksi dalam tubuh.

Jadi intinya adalah, makanan yang dikonsumsi lebih utuh, mentah, dan segar, akan semakin menyehatkan sistem kekebalan tubuh dan detoksifikasi yang menghancurkan patogen berbahaya tersebut. (Fdz/yant)

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Most Popular