Sunday, December 5, 2021
HomeFAMILYKELUARGAAwas ! Anak-anak Sedang Meniru Tingkah Laku Anda !

Awas ! Anak-anak Sedang Meniru Tingkah Laku Anda !

Banyak orangtua dalam mendidik anak-anaknya selalu beda antara perkataan dengan perbuatannya. Ada seorang anak berkata “Ayah melarang saya tidak boleh melakukan hal itu, tapi dia sendiri justru melakukannya.” Karena itu, pola pendidikan atau disiplin seperti itu tidak bisa membuat anak-anak yakin dengan Anda, dan karena tidak bisa menerimanya, sehingga anak akan berontak, dan ujung-ujungnya terjadilah konflik antara orangtua dan anak.

Contoh kasus, pada saat makan siang bersama , seorang siswa menyisihkan dulu paha ayam dari kotak nasinya. Ia menghabiskan dulu lauk pauk lainnya baru kemudian menikmati ayamnya, melihat itu, saya pun bertanya padanya mengapa begitu, apa tidak takut nanti kekenyangan lalu tidak bisa menikmati paha ayamnya lagi? Siswa itu merenung sejenak kemudian berkata : “Saya tidak tahu, karena ayah saya juga melakukan seperti itu.”

Sebagain besar orangtua tidak memberikan teladan dengan kelakuannya

Saya merasa banyak pola pendidikan orangtua terhadap anak-anaknya itu beda perkataan dengan perbuatannya sendiri, seperti contoh sebagaimana ulasan sebelumnya di atas. Karena itu, pola pendidikan atau disiplin seperti itu tidak bisa membuat anak-anak yakin dengan Anda, karena meniru adalah kondisi belajar yang paling awal.

Kera di Jepang akan mencelupkan ubi jalarnya ke dalam air untuk dibersihkan kemudian baru menyantapnya, sedangkan kera di tempat lain mungkin tidak bisa seperti itu. Sebab kera di tempat lain tidak ada orang yang memberikan contoh padanya, jika ada seekor kera berbuat seperti itu, maka kera lainnya akan menirunya. monyet lainnya akan mengikuti.

Ajaran lisan tidak dapat menggantikan pendidikan dengan teladan

Pola pembelajaran yang meniru tingkah laku seseorang tergolong pembelajaran implisit, yang pembelajaran eksternalnya tidak sama dengan tempat dan pola perhimpunan saraf. Itulah sebabnya mengapa orang-orang Tionghoa mengatakan, “Gampang mengubah gunung dan sungai, tapi sulit mengubah watak manusia”. Banyak kebiasaan itu berurat berakar. Sekalipun pasien menderita amnesia, dan memori eksternalnya juga telah hilang, tapi ingatan itu tetap masih tersimpan. Jadi, jika kita ingin di kemudian hari anak-anak berbakti kepada kita, maka kita harus berbakti kepada orangtua kita. Ketahuilah bahwa kekuatan pendidikan dengan memberikan teladan itu tidak dapat tergantikan oleh pendidikan secara lisan.

Setelah memahami hal ini, selain memberikan teladan, orangtua juga sebaiknya kurangi menyalakan televisi saat anak-anak berada di rumah. Jangan biarkan pemandangan atau acara di TV yang penuh dengan kekerasan dan acara yang tidak mendidik lainya merasuk ke dalam pikiran anak-anak, sehingga membuatnya berpikir bahwa kekerasan yang dipertontonkan di TV adalah dibenarkan.

Dari hasil penelitian, kita tahu menyaksikan adegan kekerasan yang keji akan kehilangan sensitivitas terhadap pemandangan berdarah, menjadi acuh tak acuh terhadap penderitaan orang lain. Sementara itu, perusahaan televisi setempat member alasan bahwa program vulgar TV mereka itu atas permintaan penonton dan rating. Setelah menyaksikan acara yang vulgar itu membuat mereka berperilaku lebih vulgar, ini adalah lingkaran setan, dan cara yang paling baik adalah dengan tidak melihatnya.

Matikan TV dimulai dari orang dewasa

Saat anak-anak dilahirkan itu bagaikan sehelai kertas putih, banyak perilakunya itu berasal dari perbuatan kita sendiri tanpa disadari. Jika anak Anda suka menyombongkan diri, gemar akan barang bermerk, tidak ada salahnya coba anda instrospeksi sejenak apakah saat ngobrol dengan teman-teman, pembicaraan Anda itu selalu tak lepas tentang barang-barang bermerk ? Jika anda tidak menginginkan anak Anda itu mewarnai rambut meniru “idola”-nya di TV, memasang anting di telinga atau di hidung, mengucapkan kata-kata kotor atau meniru politisi berbohong, berkelahi dan tindakan negatif lainnya, maka matikanlah pesawat televise. Temani anak-anak belajar atau membaca, membuka garis pendangnya, meningkatkan wawasannya, saat Anda masih bisa memberi pengaruh padanya, bimbinglah ia menjadi sesosok manusia yang baik dan jujur.(Jhn/Yant)

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments