fbpx
Wednesday, December 8, 2021
HomePOLITIK TIONGKOKNama Jiang Zemin Sudah Dicoret dari Daftar Mantan Pimpinan

Nama Jiang Zemin Sudah Dicoret dari Daftar Mantan Pimpinan

Baru-baru ini, media resmi Tiongkok secara berturut-turut menerbitkan 3 artikel, isinya menyindir mantan pemimpin PKT (Partai Komunis Tiongkok) Jiang Zemin yang sudah lengser.

Pada 30 Juli, karena menanggapi keruntuhan Guo Boxiong (mantan jendral dan wakil Komisi Militer Pusat), situs caixin.com menerbitkan sebuah artikel panjang yang berjudul “Pasang surut Guo Boxiong”, selama ini sangat jarang terjadi dalam sebuah artikel yang langsung menyebut nama, apalagi nama Jiang Zemin. Hal itu memberi isyarat bahwa Guo dipromosikan dan diangkat sebagai komandan Korps ke 47 oleh Jiang, Guo berjanji setia kepada Jiang. Petinggi militer korup jendral Guo Boxiong dan mendiang jendral Xu Caihou semuanya adalah “Orang-orang ketua Jiang”.

Pada 5 Agustus, thepaper.cn menerbitkan artikel panjang “Media menginventarisasi ‘Tamu Agung’ baru Bei Daihe: Para ahli dari berbagai bidang datang berlibur”, membeberkan satu demi satu pemimpin PKT masa silam yang pernah beraktivitas di Bei Daihe, termasuk Mao Zedong, Deng Xiaoping, Hu Jintao, Xi Jinping, serta Zhu De, Zhou Enlai, Liu Shaoqi dan lain-lain. Hal yang mencolok adalah, dalam artikel panjang yang hampir mencapai 7000 kata ini, sama sekali tidak disebutkan nama Jiang Zemin “Inti Pemimpin Generasi ke 3“ yang pernah berkuasa selama 13 tahun dan berlanjut berkuasa di belakang layar selama 10 tahun. Seperti sedang menjelaskan bahwa nama Jiang Zemin sudah disingkirkan dari jajaran “Pemimpin Partai dan Negara”. Menurut praktek artikel propaganda PKT masa lalu, hal itu melambangkan orang yang akan ‘diganyang’.

Situs caixin.com adalah media di bawah pengaruh Wang Qishan yang merefleksikan niatan Wang Qishan; thepaper.cn adalah media baru yang didirikan atas instruksi Xi Jinping, berpegang pada kehendak Xi Jinping. Jika dikatakan dua media ini hanyalah memanifestasikan niatan pribadi dari Xi dan Wang, kalau begitu “Harian Rakyat” sebagai corong tertinggi Partai, menyusul juga menerbitkan sebuah artikel, hal itu tidak perlu diragukan lagi sebagai pernyataan sikap resmi penguasa sekarang. Pada 10 Agustus, “Harian Rakyat” menerbitkan artikel yang berjudul “Menyikapi secara dialektis ‘orangnya pergi tehnya dingin’ (ungkapan yang bermakna: pensiun total)”.

Artikel itu mengandung makna menggedor, juga berkesan menasehati. Informasi yang dikeluarkan mungkin termasuk: Jiang Zemin masih mempunyai pengaruh tertentu, masih tetap tidak mau melepaskan campur tangan seorang senior dan menjadi penghambat terhadap penguasa sekarang. Xi Jinping sangat antipati dengan hal tersebut. Dihubungkan dengan masa terkini, seiring dengan informasi simpang siur mengenai ada atau tidaknya Rapat Beidaihe tahun ini (rapat non resmi yang digelar setiap tahun oleh para petinggi PKT), mungkin saja Jiang Zemin sedang beraktivitas di Beidaihe, bersilahturahim, mengontak dan berkomplot dengan sebagian politikus gaek atau kekuatan politik tertentu, sedang menggodok gerakan anti Xi lanjutan. Xi Jinping sangat mewaspadainya. Seperti pepatah yang berbunyi: “Pohon ingin diam tapi angin tak henti-hentinya bertiup”.

Namun, jika hanya sekedar menasehati, mengapa tidak dilakukan Xi Jinping secara pribadi? Apalagi diumumkan di corong resmi pemerintah, hal ini lebih mirip dengan membangun opini publik, menjelaskan kepada seluruh jajaran Partai dan militer: Ada politisi senior gaek yang tidak kunjung sadar, tidak menaati aturan, tua mentang-mentang dan bertingkah tidak menyenangkan, jika memaksa saya (Xi) untuk turun tangan tapi jangan salahkan kalau tidak mengenal ampun. Kemungkinan yang tidak bisa diabaikan adalah, artikel itu merupakan semacam tindakan pemanasan bagi Xi, pra propaganda dan pembentukan landasan bagi opini publik.

‘Demokrasi internal partai’ dalam tubuh PKT sama sekali tidak eksis.

Xi Jinping berniat membentuk status diri sendiri dalam sejarah, agar bisa sejajar dengan Mao Zedong dan Deng Xiaoping, tapi bermodalkan apa?

Mao menggulingkan sebuah kekuasaan lama dan mendirikan pemerintahan baru serta menyapu bersih semua faksi internal partai. Lalu garis/jalur ekonomi Mao dikudeta oleh Deng dan ia menjalankan reformasi dan keterbukaan dalam bidang ekonomi dan meraih popularitas tinggi. Xi Jinping hanya mengandalkan menangkap beberapa mantan anggota komite atau komite tetap Politik masih belum cukup untuk mendirikan kewibawaan, jika bisa mengatasnamakan program anti korupsi dan menangkap mantan pemimpin tertinggi partai dan negara, Jiang Zemin, tetua politik ambisius itu, baru bisa menciptakan efek mengguncangkan yang sebenarnya, sehingga dapat menegakkan otoritas diri yang tiada duanya di dalam partai.

Artikel yang dimuat di “Harian Rakyat” itu menunjukkan dua sebab si Politisi Gaek yang terus ikut campur tangan dalam kebijakan politik: 1. Nafsu kekuasaan. 2. KKN.

Sebenarnya masih ada sebab ke 3 yang tidak diutarakan yakni mencegah langit berubah (perubahan kekuasaan). Ini adalah salah satu motif utama Jiang Zemin ingin terus menggenggam kekuasaan dan campur tangan dalam kebijakan politik. Hu Jintao suksesor lintas generasi yang ditunjuk Deng Xiaoping, sejak mulai menjabat sebagai Wakil presiden sudah dimonitor oleh Jiang Zemin, bahkan pemerintah AS yang mengatur Wakil presidennya untuk bertemu 4 mata dengan Hu Jintao juga dikacaukan oleh andalan faksi Jiang Bernama Li Zhaoxing yang ketika itu menjabat sebagai Wakil Menteri Luar Negeri, ia menerobos masuk ke dalam ruang pertemuan, duduk bercokol sehingga menggagalkan pertemuan. Hu Jintao yang pernah diolok-olok sebagai ‘Han Xiandi (seorang kaisar boneka dalam dinasti Han 189-220)’ oleh Bo Xilai, menghadapi pejabat setingkat wakil menlu yang mengacau dan berbuat kurang ajar, Hu hanya bisa melihat dengan mata terbelalak saja, sama sekali tidak berani marah.

Ada yang mengkritik Xi Jinping menolak orang tua turut campur politik adalah demi menuju kediktatoran pribadi, mengapa tidak menerapkan demokrasi internal partai saja?

Ia layak dikritik lantaran menumpuk kekuasaan demi kediktatoran. Namun perlu diketahui, Hu Jintao awalnya pernah mengusulkan “Demokrasi di dalam partai” adalah lantaran situasinya terjepit, dilecehkan, dengan status mirip penguasa boneka, jadi lebih mencari argumentasi bagi diri sendiri.

Berbicara tentang “Demokrasi di dalam partai” jika pernah ada sedikit percikan yakni di rentang waktu 1976-1989 pada zaman Hua Guofeng, Hu Yaobang dan Zhao Ziyang sebagai pimpinan PKT, yang pasti bukan di zaman Hu Jintao (2002-2012). Karena pada masa itu “demokrasi di dalam partai” mencerminkan kelonggaran masyarakat dalam taraf tertentu. Sepanjang Partai Komunis berkuasa selama 60 tahun lebih, hanya di era tahun 1976-1980an yang memiliki ciri khas seperti itu. Sayang hanya muncul sekejap. Walaupun pada saat itu di dalam tubuh PKT masih bercokol seorang super diktator yang memegang kekuasaan mutlak yakni Deng Xiaoping. Sebagai pemimpin tertinggi simbolik, Hua Guofeng, Hu Yaobang dan Zhao Ziyang yang berniat mencoba “demokrasi di dalam partai” pada akhirnya semuanya tumbang di bawah tangan besi Deng.

Secara serius dapat dikatakan bahwa “demokrasi internal partai” dalam tubuh Partai Komunis sama sekali tidak eksis. Prinsipnya sangat sederhana, pemikiran otokrasi dan kediktatoran memiliki sifat konsisten, mana ada logika di luar partai dan di dalam partai? Jika tidak ada demokrasi di luar partai, maka tidak akan ada demokrasi di dalam partai, bagaimana bisa dibayangkan, seorang penguasa dari sistem totaliter, yang menindas rakyatnya tapi berdemokrasi terhadap kameradnya?

Ada yang beranggapan, dibandingkan dengan manifestasi Xi Jinping pada hari ini, nampaknya kepemimpinan Jiang Zemin dan Hu Jintao lebih beradab dan lebih moderat?

Sebenarnya, asalkan pola atau system otoritas satu partai tidak berubah, semua pemimpin PKT adalah diktator dan penindas. Dalam masa jabatan Xi Jinping, melakukan penangkapan secara besar-besaran terhadap sejumlah besar pengacara HAM dan pembangkang cyber di seluruh negeri serta melanjutkan penindasan terhadap suku Uighur dan suku Tibet. Diawal Jiang Zemin masih menjabat, tidak hanya menutup rapat-rapat fakta Pembantaian 4 Juni 1989 (kasus Tiananmen),ia juga menciptakan dosa besar penindasan terhadap Falun Gong; dimasa Hu Jintao menjabat, ia menindas provinsi Tibet dan Xinjiang (yang dihuni etnik Uighur) dengan tangan besi, berulang-ulang menciptakan kasus berdarah yang mengejutkan. Perwujudannya berbeda tetapi watak hakiki otoriternya sama sekali tidak berbeda.

Jiang Zemin menghimbau “menjadi kaya diam-diam”, berupaya mengkontaminasi seluruh partai berperilaku korup dan berkepentingan sehingga tercapai persatuan seluruh partai; Hu Jintao mengusulkan ‘masyarakat harmonis’, sesungguhnya dengan niatan mempertahankan keharmonisan dalam partai dan mempertahankan status diri sendiri. Kalau diperbandingkan, Xi Jinping menyingkap arus pasang ‘memberantas korupsi’ dan ‘memukul harimau’, walaupun itu bersifat selektif tetapi memiliki daya gempur ekologi tertentu dalam partai, mengandung makna pemecahan situasi yang sudah seperti air mati.

Perubahan Tiongkok hari ini, jika dilakukan dari bawah ke atas, dari luar partai hingga ke dalam partai, bukan tugas yang mudah. Tetapi, dari atas ke bawah, dari dalam hingga ke luar partai, relatif agak lebih mudah. Hanya dengan memecahkan keadaan serba sulit di dalam partai, baru bisa memecahkan kerunyaman di luar partai. Hanya dengan demikian, baru bisa menjadikan suatu perubahan situasi bagi masyarakat Tiongkok dan menciptakan suatu kemungkinan. Si penguasa belum tentu berniatan seperti itu akan tetapi begitu perubahan situasi terbentuk, maka perubahan itu tidak akan bergeser sesuai dengan niatan manusia. Betul-betul seperti sebuah ungkapan: Situasi lebih kuat daripada manusia, situasi tidak dikarenakan manusia. (Chen Pokong/lin/whs/rmat)

 

 

 

 

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Most Popular