Tuesday, November 30, 2021
No menu items!
HomeBERITA TIONGKOKFinancial Times: Bukan Ekonomi tetapi Politik Tiongkok yang Lebih Mengkhawatirkan

Financial Times: Bukan Ekonomi tetapi Politik Tiongkok yang Lebih Mengkhawatirkan

Crash Pasar saham Tiongkok dan melemahnya pertumbuhan ekonomi berdampak terhadap pasar global. (Mark

Crash Pasar saham Tiongkok dan melemahnya pertumbuhan ekonomi berdampak terhadap pasar global, membuat dunia semakin khawatir tentang ‘situasi baru’ akibat pelambanan pertumbuhan ekonomi Tiongkok. Namun, Financial Times melaporkan bahwa sesungguhnya yang menimbulkan kekhawatiran itu adalah situasi politik bukanlah ekonomi Tiongkok.

Laporan menyinggung soal 3 pertanyaan besar tentang situasi politik Tiongkok. Pertama, seberapa besar efektivitas dari reformasi ekonomi yang dipimpin oleh rezim otoriter negara komunis itu ?

Selama bertahun-tahun sebagian orang menilai bahwa Tiongkok yang memiliki pemerintahan otokratis lebih mampu untuk mengambil keputusan yang cepat dalam pelaksanaan suatu reformasi dibandingkan dengan negara-negara demokrasi yang hanya bisa berdebat di atas kertas. Perlu diamati, apakah pendapat tersebut mengandung nilai kenyataan kecuali tindakan penggusuran secara kekerasan dan sewenang-wenang ketika lahan milik para warga akan digunakan untuk pembangunan rel KA tinggi atau bandara baru.

8 tahun silam, Perdana Menteri Tiongkok Wen Jiabao waktu itu pernah mengucapkan bahwa pertumbuhan ekonomi Tiongkok “tidak stabil, tidak seimbang, tidak terkoordinasi dan tidak berkesinambungan”. Dunia luar berharap Tiongkok mau melakukan penggeseran dari pola investasi di bidang yang sudah padat dan kotor ke pola investasi di bidang teknologi tinggi serta yang berorientasi pada kebutuhan konsumen.

Namun 8 tahun telah lewat tanpa ada perubahan yang berarti. Polusi udara dan air di Tiongkok terjadi makin parah. Jika ada orang berpikir bahwa kinerja biro pengawasan dan pengendalian lingkungan hidup sudah lebih baik, maka ledakan bahan kimia berbahaya di Tianjin itu semestinya bisa menyadarkan mereka.

Pergeseran pola itu memang tidak gampang. Tetapi, apa yang diucapkan oleh Wen Jiabao pada 2007 itu bukanlah tidak bercontoh sebelumnya. Jepang di era 70-an dan Korea Selatan di era 90-an juga berada dalam situasi yang sama. Pergeseran pola ekonomi jelas akan melukai beberapa kelompok kepentingan, termasuk meningkatnya jumlah pengangguran. Di sanalah keterampilan para pimpinan politik dibutuhkan untuk melakukan penyesuaian-penyesuaian guna menengahi antar kepentingan, menjaga kepercayaan publik dan kohesi sosial.

Di Jepang, itu semua bisa terlaksana karena adanya demokrasi. Tetapi di Daratan, Partai Komunis Tiongkok (PKT) ingin mengubah pola ekonomi melalui pengetatan kontrol politik. Sampai sejauh ini, penilaian masyarakat terhadap kinerja pemerintahan otoriter dan demokrasi dalam hal mengatasi masalah ekonomi masih lebih memihak pada pemerintahan demokrasi karena hasil reformasi yang dijanjikan pemerintahan otoriter tidak sesuai, jadi tidak efektif.

Kedua, bila crash pasar saham di Tiongkok membawa konsekuensi domestik, maka investor saham ritel yang mengalami rugi memendam api kemarahan yang paling besar. Kobaran api kemarahan masyarakat masih datang lagi akibat ledakan bahan kimia berbahaya di kota Tianjin, meningkatnya jumlah pengangguran dan lain sebagainya. Ketidak-puasan publik terhadap pemerintah yang terus memuncak itu jelas mengkhawatirkan pemerintah Tiongkok komunis.

Pertanyaannya adalah, seberapa tingginya ketidak-puasan publik terhadap pemerintah? Dan bila situasi menjadi sangat serius, bagaimana PKT akan bereaksi?

Ketiga, sejauh mana tekanan ekonomi mempengaruhi perilaku Tiongkok terhadap negara-negara tetangga.

Ini mungkin adalah alasan terbesar kekhawatiran masyarakat dunia. Negara-negara Asia yang memiliki hubungan dagang dengan Tiongkok sudah mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi. Tetapi yang lebih negara tetangga takuti mungkin adalah nasionalisme yang dipompakan oleh PKT dalam menanggapi tekanan ekonomi, sehingga frekuensi sengketa teritorial dengan Jepang, Vietnam, Filipina dan lainnya di Laut Timur maupun Laut Selatan menjadi lebih tinggi.

Bila hal demikian sampai terjadi, maka tingkat kecemasan dunia bisa jauh lebih tinggi daripada kecemasan akibat jatuhnya harga saham. (Qin Yufei/sinatra/rmat)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments