Asal-Usul Terusan Besar

Sekitar 1.400 tahun silam, berkuasalah Kaisar Sui Yang (605-616) di Tiongkok yang suka hidup bersenang-senang. Sejak naik takhta, dari pagi hingga malam minum arak dan bersenang-senang bersama selir-selirnya, tidak peduli urusan lain.

Suatu saat kaisar merasa bosan, lalu terbayang akan pemandangan Jiangnan (selatan sungai Yang Zhi) nan indah mempesona dan hendak ke sana, bersenang-senang.

Pada saat itu, seorang pejabat tinggi istana yang paling pintar menjilat, mengajukan ide, mengatakan dengan naik perahu ke Jiangnan, tidak saja dapat menikmati pemandangan yang indah, lagi pula sangat enak dan aman. Namun, mana ada sungai yang dari arah utara mengalir ke selatan?

“Tidak ada sungai yang demikian. Namun dapat memerintah orang membuka jalur di atas darat!” ujar penjilat tersebut.

Kaisar serakah dan suka berfoya-foya itu menginstruksikan harus membuka sebuah terusan besar, dari ibukota Luo Yang menembus ke kota Jiangdu di selatan (kira-kira dari Provinsi Henan sampai Provinsi Jiangshu sekarang ini). Bahkan harus menggunakan emas untuk membuat perahu naga yang mewah seperti istana di atas sungai.

Waktu itu, sejumlah besar menteri dengan rasa cemas menasihati, “Paduka, membuka terusan bukanlah seperti menggali selokan, itu harus mengerahkan tenaga dan biaya yang tak terhitung banyaknya, juga bisa menyengsarakan rakyat jelata!”

Namun, kaisar tidak peduli, dan akhirnya dimulailah proyek penggalian sungai yang maha besar itu. Prajurit yang kejam menangkap orang di mana-mana untuk kerja berat, ratusan ribu manusia bagaikan sapi dan kuda dengan susah payah menggali tanah, memindahkan batu, memancang tiang. Sejumlah orang, karena siang malam berlumur lumpur, kakinya membusuk, tetap dipaksa bekerja, dan setiap hari pasti ada sejumlah orang yang jika bukan mati kelelahan, pasti meninggal karena sakit. Terusan ini bagaikan seekor naga jahat, seinci demi seinci membentang ke selatan, dan sesuap demi sesuap menelan banyak orang.

Setelah tergali hingga sampai di Yong Qiu, Provinsi Henan, muncul kejadian aneh. Suatu pagi, seorang mandor dengan perasaan takut melapor pada pejabat pengawas, “Di depan terhalang sebuah kuil kecil, dan di belakang kuil itu ada makam kuno yang telah berusia ribuan tahun. Konon, di dalam makam itu terkubur seorang petapa yang telah menjadi dewa. Lebih baik proyek terusan menjauh dari jembatan kecil dan makam kuno itu, jangan menyentuhnya!”

Pengawas malah berkata, “Perintah Kaisar, siapa yang berani melanggar, peduli amat makam siapa.”

Dengan rasa takut dan terpaksa, para pekerja selama beberapa hari telah merobohkan kuil kecil itu. Ketika akan menggali makam kuno itu, tiba-tiba terdengar suara ledakan dahsyat, makam kuno itu merekah dan tampak sebuah lubang besar, hitam pekat seperti menembus ke pusat bumi, dan berembus angin dari alam lain yang dinginnya bukan main.

Pengawas berpikir: “Jika memang yang terkubur di dalam makam itu adalah petapa yang telah menjadi dewa, siapa tahu masih ada benda pusaka lainnya. Jika bisa dipersembahkannya kepada Kaisar, bukankah kesempatan emas untuk menjadi kaya dan naik pangkat?”

Namun, tidak ada yang mau turun ke dalam. Prajurit mulai mencambuki pekerja, menyuruh mereka turun. Semua berdiri gemetar di depan lubang, tidak berani masuk.

Tiba-tiba terdengar suara yang nyaring mengatakan, “Jangan cambuk lagi, biarlah saya masuk melihat-lihat!”

Orang yang berkata itu bernama Di Qu Xie, ia berbadan tegap, nyalinya juga besar, biasanya ia sering melawan prajurit-prajurit yang congkak, jahat serta kejam itu, sekarang melihat semua orang kasihan disiksa, maka dengan jantan berani maju ke depan. Para prajurit menggunakan beberapa tali, baru menurunkan Di Qu Xie ke dasar lubang. Oh! Ternyata di dasar lubang ada sebuah terowongan.

Setelah menarik napas, ia kemudian berjalan dengan meraba-raba di tengah kegelapan cukup lama, terdengar suara “cit cit” di depannya, tiba-tiba berkelebat bayangan putih yang sangat besar. Oh, ternyata seekor tikus putih yang besarnya seperti sapi, ia bercicit nyaring, matanya memancarkan sinar kebengisan. Dengan bergegas Di Qu Xie melompat ke belakang, si tikus putih menyambar ke tempat kosong, namun tidak mengejarnya.

Ternyata kedua kaki tikus yang besar itu terikat rantai besi yang besar dan berat, tidak berdaya melepaskannya. Di Qu Xie segera angkat kaki lari, dan tertatih-tatih dalam perjalanan, tiba-tiba memasuki sebuah ruangan yang semuanya tersusun dari batu besar. Di dalam terangnya bukan main, menyilaukan mata.

Dia melihat sebuah rumah, di mana duduk seorang pendeta Tao tua berjubah merah, janggutnya yang seputih salju terjulur hingga beberapa meter di atas lantai. Ketika ia akan maju memberi hormat, pendeta tua tiba-tiba berseru, “Pengawal! Bawa Ahma kemari!”

Bergegas segera ada 4 pendekar yang laksana dewa pengawal, dengan sekuat tenaga membawa masuk tikus putih tadi. Di Qu Xie bergegas bersembunyi di balik tiang batu, menahan napas, memelototkan matanya dan dengan terkejut menyaksikan segalanya.

Pendeta tua berkata lantang, “Siluman tikus terkutuk! Saya melepaskan seluruh bulu kulit kamu untuk menjadi kaisar di dunia manusia, agar supaya kamu mengurus negara dengan baik, namun tak disangka kamu hanya tahu hidup bersenang-senang, dan mencelakai begitu banyak orang.”

Dengan garang tikus putih melotot, lalu menaikkan ekor panjangnya yang bagaikan pentung besi menyapu sembarangan. Pendeta tua dengan sangat marah berkata, “Ahma, saya peringatkan. Jika lain kali sewenang-wenang lagi, menyiksa rakyat yang tidak berdosa, akan kugunakan tali putih menjeratmu hingga mati!”

Setelah selesai berkata, dan begitu kebut ekor kuda yang berada di dalam genggaman tangan pendeta tua diayunkan, segumpal awan putih tiba-tiba menutupi segala yang berada di depan mata.

Tidak berapa lama kemudian, awan putih berpencaran, Di Qu Xie mendapati ia seorang diri berdiri di dalam terowongan yang gelap gulita, dan pendeta tua, tikus putih, atau pengawal yang dilihatnya semuanya telah lenyap. Ia mengusap-usap matanya, tiba-tiba melihat di depannya seperti ada setitik cahaya, lantas merangkak berjalan ke sana, sembari terus memikirkan kejadian aneh yang baru saja terjadi. Ia berpikir, “Ahma? Pernah dengar nama kecil Sang Kaisar juga Ahma, ini sebenarnya apa yang telah terjadi?”

Tanpa disadarinya Di Qu Xie telah berjalan keluar ke sebuah mulut lubang.

Terangnya matahari membuat ia tidak bisa membuka matanya, dan tidak lama kemudian, ia baru mengetahui secara jelas dirinya berdiri di sebuah puncak gunung. Di sekitar hutan tampak seseorang pencari kayu bakar. Di Qu Xie segera berjalan ke sana dan bertanya padanya tempat manakah ini?

Pencari kayu berkata: “Ini adalah gunung Shao Shi”.

Jarak gunung Shao Shi ke Yong Qiu sekitar ratusan li jauhnya, jika menunggang kuda juga perlu beberapa hari, baru bisa sampai. Ia tidak menghiraukan lagi atas peristiwa aneh itu, dan segera turun gunung, bergegas pulang kembali ke Yong Qiu.

Di perjalanan terlihat sawah ladang dipenuhi tumbuhan liar, sekelompok rakyat mengungsi, orang kurus kering. Sebenarnya apa yang terjadi?

Dalam perjalanan Di Qu Xie kesasar lagi, lalu bertanya pada kakek tua di jalan, “Ke Yong Qiu arah mana?”

Dengan terkejut kakek tua berkata, “Yong Qiu? Yong Qiu sudah lama diduduki perompak, apa kamu mau mati?”

“Tetapi, beberapa jam yang lalu saya masih berada di Yong Qiu menggali terusan, mana ada perompak!” kata Di Qu Xie yang benar-benar tidak mengerti apa sebenarnya yang terjadi.

Namun, kakek tua itu berkata lagi, “Gali terusan apa, apa kamu bermimpi? Beberapa tahun yang lalu, terusannya sudah jadi.”

Kakek tua menggeleng-gelengkan kepala, “Ah, jika membicarakan terusan membuat orang pedih. Tidak tahu Kaisar itu jelmaan dari siluman pengacau apa, jutaan orang telah mati dalam penggalian terusan itu. Terusan telah dapat dibangun, dan ia bisa bermain sepuasnya, namun beberapa tahun, sawah juga tidak ada yang menggarap, di setiap tempat gagal panen, yang kuat menjadi perampok, sedang yang lemah, mengungsi, sangat menyedihkan sekali!”

Ia kembali ke kampung halaman, namun telah berubah menjadi padang belantara, lantas ke hutan terpencil dan menetap di sana. Selama beberapa tahun tinggal di hutan. Suatu malam, Di Qu Xie kedatangan seorang pejalan kaki yang lewat, keduanya lalu berbincang-bincang, tuan rumah manarik napas panjang dan berkata, “Apakah Kaisar masih hidup bersenang-senang? Ia tidak mendapat simpati dan dukungan rakyat, dan saya lihat kekuasaan Dinasti Sui, cepat atau lambat akan hancur!”

Orang itu terkejut, “Dinasti Sui apa, sekarang sudah masanya Dinasti Tang Raya! Kaisar yang tamak dan serakah itu, seluruh rakyat begitu membencinya, bagaimana mungkin negara dapat bertahan lama? Tidak lama setelah terusan selesai (dibangun dalam waktu 6 tahun), pendekar dan ksatria dari segala penjuru angkat senjata melawannya. Tapi ia tak peduli, pergi lagi ke Jiangnan bertamasya dan bersenang-senang. Di tengah perjalanan, seorang bawahan yang berkhianat, dengan menggunakan seutas tali dengan bengis menjeratnya hingga mati, memang pantas dibunuh!”

“Oh! Ternyata waktu itu saya masuk ke dunia kayangan, dan kejadian yang terdengar itu, kini semuanya telah terbukti.”

Di Qu Xie memandangi langit, berkata dengan diri sendiri, “Ternyata Kaisar Sui Yang adalah jelmaan dari siluman tikus putih itu! Ia hanya memikirkan untuk hidup bersenang-senang, menggali terusan besar, dan mencelakai begitu banyak orang. Akibatnya, benar-benar dijerat tali putih hingga mati!” (Sumber: Zhengjian.net)