fbpx
Thursday, December 9, 2021
HomeBERITA NASIONALBPOM Temukan Pangan Tak Layak Senilai Rp 4,8 Miliar

BPOM Temukan Pangan Tak Layak Senilai Rp 4,8 Miliar

Kepala BPOM saat menunjukkan pangan ilegal (Humas BPOM)

JAKARTA – Menjelang tibanya perayaan Natal 2015 dan Tahun Baru 2015, Petugas Balai Besar/Balai POM (BB/BPOM) di seluruh Indonesia melakukan intensifikasi pengawasan pangan di sarana distribusi. Temuan atas pangan tak layak dan tanpa izin edar secara keseluruhan mencapai Rp 4,8 miliar.

Hingga 21 Desember 2015, pangan kedaluwarsa menjadi temuan terbanyak dalam intensifikasi pengawasan pangan menjelang natal 2015 dan tahun baru 2016. Secara keseluruhan, Badan POM menemukan 3.499 item (121.610 kemasan) pangan TMK dengan nilai keekonomian mencapai lebih dari 4,8 miliar rupiah di sarana retail dengan rincian 34.947 kemasan pangan TIE (28%), 76.156 kemasan pangan kedaluwarsa (63%), dan 10.507 kemasan pangan rusak (9%).

“Temuan didominasi produk kadaluwarsa 63 persen, produk TIE 28 persen, dan produk rusak sebanyak 9 persen,” kata Kepala BPOM, Roy Sparinga di gedung BPOM, Jakarta, Selasa (22/12/2015).

Intensifikasi pengawasan ini dilakukan karena menjelang natal dan tahun baru peredaran produk makanan dan minuman tidak layak seringkali meningkat. Produk yang menjadi target pengawasan adalah pangan tanpa izin edar, ilegal, pangan kedaluwarsa, serta pangan dalam kondisi rusak seperti penyok dan kaleng berkarat.

Jenis pangan kedaluwarsa yang paling banyak ditemukan antara lain mi instan, susu kental manis, bumbu, teh, minuman serbuk, dan makanan ringan. Pangan kedaluwarsa ini paling banyak ditemukan di kota Kupang, Makassar, Jayapura, Manokwari, dan Sofifi.  Temuan pangan Tanpa Izin Edar didominasi oleh minuman serbuk, minuman beralkohol dan permen yang tertulis disebut dari Malaysia, Thailand dan USA. Produk ini banyak ditemukan di kota Medan, Pekanbaru, Batam, dan Bandung.

Sementara temuan terbanyak untuk pangan rusak adalah berupa mi instan, minuman ringan, minuman serbuk, susu steril UHT, susu kental manis, dan ikan dalam kaleng yang banyak ditemukan di Makassar, Jayapura, Mataram dan Manokwari. Razia yang dilakukan oleh petugas Balai Besar/Balai POM (BB/BPOM) di seluruh Indonesia secara serentak dilakukan terhadap sarana distribusi, yaitu gudang importir dan retail, toko, pasar tradisional, supermarket, hypermarket, serta para pembuat dan/atau penjual parsel sejak 30 November 2015.

Kepala Badan POM, Roy Sparringa menjelaskan bahwa temuan intensifikasi pengawasan ini telah diamankan atau dimusnahkan. Selain tindak lanjut terhadap produknya, kepada pemilik sarana yang didapati mendistribusikan produk-produk tidak memenuhi ketentuan tersebut juga diberikan sanksi sesuai peraturan perundang-undangan. Roy meminta agar masyarakat lebih waspada dan teliti dalam memilih dan  membeli produk pangan saat menyambut natal dan tahun baru ini.

Badan POM mengklaim terus melakukan pengawasan Obat dan Makanan untuk menyentuh akar masalah peredaran Obat dan Makanan yang tidak memenuhi syarat, antara lain melalui pengawasan yang lebih ketat di pintu masuk/perbatasan, fokus pengawasan yang lebih diarahkan pada temuan besar dan ke arah hulu.

Langkah lainnya adalah penguatan peran pelaku usaha dalam penanganan produk sesuai cara ritel dan cara distribusi yang baik, juga secara konsisten melaksanakan self regulatory control. Selain itu, sinergi juga terus dilakukan dengan lintas sektor terkait di sepanjang rantai pasokan karena Badan POM menyadari bahwa upaya pengawasan tersebut tentu tidak dapat berjalan maksimal tanpa adanya dukungan dari berbagai pihak. (asr)

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Most Popular