Sunday, December 5, 2021
HomeBERITA NASIONALPertumbuhan Ekonomi Indonesia Mengesankan Tetapi Ketimpangan Meluas

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Mengesankan Tetapi Ketimpangan Meluas

Ilustrasi ketimpangan sosial (Worldbank)

JAKARTA – Laporan Bank Dunia menyebutkan ketimpangan di Indonesia semakin meluas dibanding negara-negara tetangga Asia Timur sehingga menimbulkan kekhawatiran masyarakat. Akar ketimpangan yang mesti diatasi pemerintah adalah ketimpangan peluang, ketimpangan pasar tenaga kerja, konsentrasi kekayaan, dan ketimpangan ketahanan terhadap guncangan.

Kepala Perwakilan Bank Dunia di Indonesia, Rodrigo Chaves saat menyampaikan laporannya mengatakan meskipun pertumbuhan ekonomi dan pengurangan kemiskinan di Indonesia mengesankan, tetapi kesetaraan dalam pertumbuhan lebih sulit tercapai. Dia menambahkan, kalangan mampu maju jauh lebih cepat dari mayoritas masyarakat.

“Indonesia berisiko mengalami pertumbuhan yang lebih lambat serta konflik sosial apabila terlalu banyak masyarakat Indonesia tertinggal. Potensi mereka yang hilang juga merupakan hilangnya potensi Indonesia,” ujarnya dalam keterangan pers Laporan Bank Dunia di Indonesia, Desember 2015.

Menurut survei tahun 2014 mengenai persepsi masyarakat terhadap ketimpangan, sebagian besar responden menilai distribusi pendapatan “sangat tidak setara” dan mendesak pemerintah untuk bertindak mengatasi ketimpangan. Selama 15 tahun terakhir, koefisien Gini – yang mengukur ketimpangan sebuah negara – semakin membesar di Indonesia, naik dari 30 pada tahun 2000 menjadi 41 pada tahun 2013 hingga saat ini.

Ketimpangan berdampak negatif menghalangi potensi pertumbuhan negara dengan resiko meningkatnya ketegangan sosial, menurut laporan Indonesia’ Rising Divide. Catatan Bank Dunia, kekhawatiran mengenai implikasi jangka panjang ketimpangan turut mempengaruhi 60% responden survei, sehingga mereka mengatakan rela jika pertumbuhan ekonomi lebih rendah asalkan ketimpangan juga berkurang.

Namun demikian, sebenarnya tidak harus memilih antara pertumbuhan atau ketimpangan yang mengecil, karena riset terbaru menunjukkan bahwa Gini yang lebih tinggi akan menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah dan kurang stabil.

Empat penyebab ketimpangan

Catatan Laporan Bank Dunia melaporkan, dalam rencana pembangunan jangka menengah, pemerintah telah menetapkan sasaran untuk menurunkan tingkat koefisien Gini, dari 41 menjadi 36 pada tahun 2019.

Bank Dunia menyarankan agar berhasil mencapai sasaran tersebut, Indonesia perlu mengatasi empat penyebab ketimpangan, yaitu:

  • Ketimpangan peluang. Nasib anak dari keluarga miskin terpengaruh oleh beberapa hal utama, yaitu tempat mereka lahir atau pendidikan orangtua mereka.  Awal yang tidak adil dapat menentukan kurangnya peluang bagi mereka selanjutnya.  Setidaknya sepertiga ketimpangan diakibatkan faktor-faktor di luar kendali seseorang individu.
  • Ketimpangan pasar kerja. Pekerja dengan keterampilan tinggi menerima gaji yang lebih besar, dan tenaga kerja lainnya hampir tidak memiliki peluang untuk mengembangkan keterampilan mereka. Mereka terperangkap dalam pekerjaan informal dengan produktivitas rendah dan pemasukan yang kecil.
  • Konsentrasi kekayaan. Kaum elit memiliki aset keuangan, seperti properti atau saham, yang ikut mendorong ketimpangan saat ini dan di masa depan.
  • Ketimpangan dalam menghadapi goncangan. Saat terjadi goncangan, masyarakat miskin dan rentan akan lebih terkena dampak, menurunkan kemampuan mereka untuk memperoleh pemasukan dan melakukan investasi kesehatan dan pendidikan.

Menjawab Ketimpangan

Lead Economist Bank Dunia di Jakarta, Vivi Alatas mengatakan Indonesia dapat memperbaiki infrastruktur di tingkat provinsi agar anak-anak di pelosok provinsi memiliki kesempatan yang sama pada awal hidup mereka. Menurut dia, program ini bisa berupa melalui layanan kesehatan dan pendidikan yang lebih baik. Langkah ini dinilai kelak ikut menentukan peluang mereka dalam kehidupan seterusnya.

Dia menambahkan, ketika anak-anak tersebut mulai bekerja, Indonesia dapat menyediakan pelatihan keterampilan bagi pekerja informal, agar mereka tidak terperangkap dalam pekerjaan upah rendah tanpa peluang mobilitas. “Banyak pilihan kebijakan fiskal yang dapat menambah pendapatan negara dan mengalihkan pembelanjaan ke program-program yang akan berdampak langsung pada masyarakat miskin,” ujarnya.

Bank Dunia dalam laporannya, beberapa pilihan kebijakan lain bagi pemerintah, antara lain:

  • Meningkatkan layanan umum pada tingkat lokal. Kunci perbaikan ketimpangan bagi generasi berikut terletak pada peningkatan pelayanan umum di tingkat desa, kecamatan, dan kabupaten karena hal ini dapat memperbaiki kesehatan, pendidikan dan peluang keluarga berencana secara merata.
  • Menyediakan lapangan kerja yang lebih baik, melalui investasi lebih besar untuk infrastruktur, perbaikan iklim investasi  dan perubahan pendekatan regulasi agar lebih fleksibel dan responsif.

 (Worldbank.org/asr)

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments