fbpx
Tuesday, December 7, 2021
HomeTECHNEWSMelihat Kembali Perkembangan Teknologi Kloning

Melihat Kembali Perkembangan Teknologi Kloning

Kloning di sebuah peternakan dekat Urumqi , di Daerah Otonomi Xinjiang 6 Agustus 2003. (AP/ Aini Waer )

Belum lama ini pasangan Laura Jacques dan Richard Remde di Inggris, Sabtu (26/12/2015) menyaksikan kembali Dylan, anjing kesayangan mereka yang sudah mati dua pekan sebelumnya. Lembaga yang bekerja untuk ini yakni Sooam Biotech Research Foundation. Melansir Dailymail, perusahaan ini dikenal spesialis kloning asal Korea Selatan. Lembaga ini juga mengklaim sudah mengkloning 700 ekor anjing peliharaan.

Terkini, rencana besar disebutkan pabrik kloning terbesar akan dibangun di Tiongkok dengan dana 31 juta dolar Amerika Serikat. Pabrik ini nantinya diklaim akan memproduksi kloningan anjing, kuda, dan sapi bahkan disebut sudah siap untuk mengloning manusia. Berbagai sumber menyebutkan, pabrik ini didirikan oleh perusahaan bioteknologi Tiongkok, Boyalife dan Sooam Biotech dari Korea Selatan.

Bahkan beberapa tahun lalu seekor anak kuda hasil kloning yang bernama Prometea telah dilahirkan di Loboratorium Teknologi Reproduksi di Cremona, Italia. Kuda hasil kloning yang sudah berusia dua bulan dan tampak sehat itu dipublikasikan di London. Dengan berhasilnya kloning kuda tersebut, teknologi di bidang rekayasa genetik semakin mantap, pengkloningan manusia pun dianggap keniscayaan.

Harus diakui, perkembangan teknologi kloning sangat pesat. Banyak orang menganggapnya sebagai suatu terobosan penting bagi sejarah umat manusia di bidang teknologi. Sejak dimulainya kloning katak tutul pada 1952 oleh Robert William Briggs dan Thomas J. King dari AS, hingga kloning domba Dolly oleh pakar rekayasa gentika Skotlandia, Ian Wilmut pada 1996, terus berlanjut kloning binatang lain.

Dengan dalih membantu pasangan tidak subur untuk mendapatkan keturunan, bahkan saat ini sedang dilakukan kloning manusia. Baik secara terang-terangan maupun diam-diam, ahli rekayasa genetika di beberapa negara sudah melakukan percobaan itu. Ilmuwan yang terang-terangan sedang mengkloning manusia, antara lain Dr. Severino Antinori, pakar rekayasa genetika dari Italia. Ia menargetkan tahun 2003 ini, sudah harus menciptakan manusia kloning. Perusahaan Clonaid yang beroperasi di Amerika Serikat tahun lalu malah mengumumkan melayani jasa pengkloningan manusia.

Perusahaan bioteknologi Advanced Cell Technology (ACT) Inc. dari Worcester, Massachusetts, mengumumkan keberhasilannya melakukan kloning terapeutik. Dikutip oleh Erabaru.net, Kloning ini bisa menghentikan proses pada tahap embrio untuk diambil sel stem alias sel tunas untuk mengganti jaringan organ tubuh yang sakit. Teknik ini, menurut Wakil Presiden ACT Dr. Robert Lanza, dapat digunakan untuk pengobatan pelbagai penyakit yang mengancam kehidupan, seperti diabetes, stroke, kanker, AIDS serta penyakit parkinson dan alzheimer, dengan mengarahkan perkembangan sel tunas menjadi sel tertentu untuk menggantikan jaringan tubuh yang terserang penyakit.

Dikecam dan Lemah

Terhadap manusia telah menimbulkan kontroversi sejak beberapa tahun lalu hingga sekarang. Pemimpin agama dan negara menyatakan kecamannya terhadap rencana sebuah perusahaan yang melayani jasa kloning manusia, dan mengklaim telah mengklon manusia. Pemuka agama Kristen, Yahudi dan Islam semuanya mengutuk klaim yang diumumkan perusahaan Clonaid, Amerika itu. Vatikan mengatakan klaim itu tidak mengandung “pertimbangan etika dan kemanusiaan” sedikit pun. Sementara kepala Rabbi Israel mengatakan kloning tidak alami dan melanggar semua masalah yang menjadi hak Tuhan. Ulama Muslim di Timur Tengah juga mengutuk.

Sejumlah pemimpin negara seperti Inggris, Perancis, Jerman dan Amerika juga mengecam rencana kloning manusia. Perancis dan Jerman menyerukan kepada PBB agar melarang kloning manusia dalam suatu perjanjian internasional. Juru bicara Gedung Putih beberapa tahun lalu mengatakan bahwa presiden AS menentang adanya manusia kloning. Dia berpendapat, masalah moral dan etika yang ditimbulkan oleh manusia kloning adalah sangat mendalam, sekalipun tujuan penelitian tak lain demi riset ilmiah. Upaya itu akan membawa risiko pada ibu maupun generasi selanjutnya. Sebuah tim yang terdiri para dokter, sarjana, dan pakar etika AS juga mengusulkan pelarangan kloning manusia, hanya saja mereka meminta kloning sel tunas (stem cell) manusia untuk tujuan pengobatan tidak dilarang.

Di luar itu, makhluk hasil kloning memang banyak kelemahannya. Pakar rekayasa genetika hampir sepakat bahwa bayi hasil klon kesehatannya rentan. Perintis kloning mamalia besar, Dr. Ian Wilmut mengakui, domba hasil kloning yang diberi nama Dolly yang mati belum lama ini, ternyata menderita penyakit persendian. Lebih jauh diakui, untuk menciptakan seekor domba klon yang relatif sehat, diperlukan puluhan bahkan ratusan percobaan. Juga belum diketahui, apakah bayi hasil kloning akan berumur panjang ataukah sebanding dengan umur sel induknya. Intinya proses kloning merupakan rangkaian eksperimen yang rumit dan memerlukan faktor keberuntungan.

Kecemasan Terpendam

Memang, kalau ditinjau dari aspek intelektual atau ilmu pengetahuan, maka umat manusia sungguh mempunyai kemajuan yang pesat, tapi di dalam proses kemajuan ini, apakah ada tersimpan kecemasan yang tidak diketahui orang? Jawabannya, pasti! Dampak langsung teknik kloning itu justru adalah pukulan terhadap moral dan etika yang bertalian langsung dengan hakikat manusia itu sendiri.

Ditinjau dari aspek perkembangan umat manusia, maka peradaban yang jaya, faktor utamanya pada kesejahteraan sosial, justru sering bertalian erat dengan standar moral pada umat manusia, namun masalah etika lebih merupakan mata rantai yang tidak boleh lebih rendah dari moral itu. Bukankah cendekiawan Konfusius pernah mengatakan bahwa manusia itu pasti ada bedanya, kalau dia itu raja adalah raja, menteri adalah menteri, ayah adalah ayah, serta anak adalah anak. Begitu muncul manusia kloning, apa jadinya hubungan antara yang dikloning dengan yang mengkloning? Berasal dari satu orang yang sama, sang “ayah” sekaligus berpredikat sebagai “anak“. Jadi pasal “ayah tidak anak pun bukan” segera menjadi kenyataan, dan secara otomatis urutan susunan manusia telah menjadi buyar.

Makna keberadaan umat manusia, tidak bisa disamakan dengan benda organik atau benda nonorganik lainnya. Satu hal yang utama, manusia harus memiliki kesadaran moral serta etika sosial. Jikalau hanya diukur dari konsep eksistensi materi secara umum pada manusia, maka manusia bisa saja di-“fotokopi” atau di-“reproduksi” seenaknya seperti benda lainnya, jadi secara tidak sengaja akan merusak tatanan manusia. Orang kuno berkata: “Budi pekerti yang baik, menunjukkan kehidupan yang mapan, makna penting perbaikan status (kehidupan yang mapan), diletakkan pada urutan setelah (budi pekerti yang baik) yang juga merupakan tingkah laku moral manusia.

Perkembangan manusia dan masa depannya, bukan ditentukan oleh majunya peradaban materi, melainkan oleh kestabilan sosial yang diperoleh dari kelanggengan moral umat manusia, barulah menganugerahkan makna terhadap perkembangan peradaban materi itu sendiri. Kalau tidak, dalam dunia yang penuh gejolak serta tak beretika ini, apalah artinya suatu ilmu pengetahuan? Itu hanya mempercepat pemusnahan terhadap peradaban umat manusia. Belajarlah dari sejarah kemusnahan manusia. Banyak sekali peninggalan peradaban prasejarah yang tergali telah membuktikan semua ini. (Berbagai sumber/fadjar/asr)

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Most Popular