Sunday, December 5, 2021
HomeHeadlineHilangnya Sunspot di Permukaan Matahari, Pertanda Zaman Es Tiba?

Hilangnya Sunspot di Permukaan Matahari, Pertanda Zaman Es Tiba?

Sejak akhir Juni 2016, sunspot atau bintik hitam matahari sudah tak terlihat lagi selama beberapa hari ini. Mungkinkah ini pertanda aktivitas matahari semakin berkurang? Matahari akan segera memasuki masa tidur? dan bumi akan memasuki “zaman es” babak baru?

”Zaman es” akan segera tiba ?

Bintik hitam matahari adalah tanda dari tingkat aktivitas matahari. Baru-baru ini, seiring dengan terus menurunnya tingkat aktivitas matahari, bintik hitam matahari terlihat semakin kosong di permukaannya, sebelumnya masih bisa dihitung dengan jari. Tetapi sekarang, bahkan selama beberapa hari sejak akhir pertengahan Juni lalu, tidak terlihat lagi sunspot atau bintik hitam matahari di permukaannya. Matahari terang benar-benar tampak kosong.

Apa yang terjadi jika tidak ada bintik hitam matahari?

Menurut catatan, pada 1646 hingga 1715, Maunder minimum terjadi dan mengakibatkan bumi diterjang “zaman es kecil.” Akibatnya kawasan Eropa mengalami cuca dingin ekstrim dalam sejarah, banyak sungai-sungai membeku, bahkan sungai Themes di Inggris dikatakan telah membeku total saat itu. Jumlah hasil tanaman pertanian dalam lingkup global menurun drastis, dan banyak yang mati kelaparan di sejumlah besar tempat di belahan dunia.

Matahari yang sunyi senyap sekarang kembali akan memasuki kondisi tidur lagi?  Sejarah akan berulang kembali, yakni bumi akan lebih cepat memasuki “zaman es” seperti di masa lalu?

Laporan terbaru menyebutkan, aktivitas matahari semakin berkurang selama lebih satu abad terakhir ini. Artinya matahari sedang ‘mendingin’ dari kondisi biasanya.

“Tidak ada sunspot (bintik hitam matahari) terlihat di permukaannya. Dan untuk kedua kalinya dalam bulan ini, matahari sudah benar-benar kosong,” kata Paul Dorian, ahli cuaca dari Vencore Weather.

Menurut Dorian, matahari yang kosong merupakan tanda bahwa kita mendekati siklus solar minimum. Di mana jumlah sunspot, solar flares (lidah api), dan badai geomaknetik menjadi jauh berkurang. Dan hal ini akan semakin meningkat selama beberapa tahun ke depan.

Awalnya, kekosongan ini berlangsung hanya beberapa hari, kemudian akan terus berlanjut selama berminggu-minggu. Dan akhirnya berlangsung selama berbulan-bulan pada saat siklus sunspot mencapai titik terendah.

“Siklus solar minimum berikutnya kemungkinan berlangsung sekitar 2019 atau 2020,” kata Dorian.

Dalam konferensi National Astronomi yang diadakan awal Juli lalu, seorang profesor bernama Valentina Zharkova mengungkapkan hasil penelitiannya yang begitu mengejutkan dunia. Hal ini dikarenakan hasil penelitiannya menjelaskan akan adanya kembali zaman es pada 2030.

Menurut penelitian Valentina, zaman es akan kembali melanda bumi pada 2030 dikarenakan siklus matahari yang kacau, dan berdampak pada bumi kita. Matahari memiliki 11 siklus tahunan, dimana saat siklus itu terjadi matahari akan mencapai puncaknya, atau bahkan sebaliknya “tertidur.”

Menurut sang profesor, kacaunya siklus matahari tersebut dikarenakan tidak seiramanya gerakan lapisan luar matahari dengan lapisan dalamnya. Ketika Maunder Minimum terjadi, kedua lapisan tersebut akan saling mengganggu. Akibatnya matahari tidak bisa mengeluarkan energi seperti biasanya. Bahkan saat Maunder Minimun yang terjadi 370 tahun silam, dikatakan jika bintik-bintik matahari sempat hilang sama sekali.

“Siklus solar minimum berikutnya kemungkinan berlangsung sekitar 2019 atau 2020,”dan akan berlansgung sekitar  11 – 12 tahun,” kata Dorian.

Apa yang telah di ungkapkan oleh penelitian profesor Valentina ini masihlah sekedar dugaan. Kita berharap Maunder Minimum atau zaman es itu tidak kembali melanda bumi. Karena Bumi dan kehidupan akan menjadi kacau jika zaman es kembali datang, meski kecil sekalipun. (Secretchina/joni/rmat)

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Most Popular