fbpx
Tuesday, December 7, 2021
HomeNEWSNATIONALMenggelitik Pilkada DKI Jakarta 2017 Rasa Pilpres

Menggelitik Pilkada DKI Jakarta 2017 Rasa Pilpres

JAKARTA – Mengapa ramai dikatakan Pilkada DKI 2017 rasa pemilu presiden? Ini dikarenakan  pelaksanaan Pilkada pada 100 daerah lainnya nyaris tertelan dengan Pilkada DKI Jakarta. Bahkan petinggi dan tokoh partai politik “turun gunung” untuk memutuskan bakal calon Gubernur dan Wakil Gubernur.  Bak drama, pertemuan petinggi parpol ini diekspose dalam skala luas oleh media massa.

Bahkan sebelum penetapan bakal calon Gubernur dan Wakil Gubernur, Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono sempat berkelakar kepada wartawan di rumah kediamannya di Ciekas, Bogor, Jawa Barat. ““Ini Pilpres Apa Pilgub ya?” tanya SBY, Rabu (21/9/2016).

Pengamat Politik Indo Barometer, Mohammad Qodari mengatakan pilkada DKI Jakarta hadir dengan tiga pasangan calon yang sangat menarik. Pasalnya, tak hanya calon bagus dan berkualitas, namun para ‘resi’ dan ‘suhu’ turun gunung dalam pertarungan politik Pilkada DKI Jakarta.

Menurut Qodari, sosok yang berada di belakang para calon merupakan tokoh politik seperti Megawati, Jokowi, Surya Paloh, Zulkifli Hassan, Muhaimin Iskandar, SBY dan Prabowo Subianto. Oleh karena itu, peristiwa ini menjadikan Pilkada DKI Jakarta lebih menarik dibandingkan pilkada 2007 dan 2012 lalu. Bahkan pertarungan politik saat ini bisa dilihat sebagai simulasi dan cerminan menuju pilpres 2019 mendatang.

“Pilkada rasa pilpres ini proksi menuju pertarungan pada 2019 akan datang,” kata Qodari dalam diskusi di Cikini, Jakarta, Sabtu (24/9/2016).

Budayawan Betawi, JJ Rizal menilai hal yang perlu diperhatikan bahwa Pilkada tak berhenti ketika pilkada usai. Justru pada saat itu pertarungan baru dimulai terkait wujud nyata janji dan kontrak politik yang dibuat oleh para calon sebelum terpilih sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur.

Menurut dia, partai politik serta para pendukungnya hanya serangkaian gelombang pendek. Ada pun gelombang panjang dari perangkat politik ini adalah oligarki dan konglomeratisasi. JJ Rizal melihat dengan fakta yang terjadi, ketika kandidat yang dipilih justru lawan politik atau orang dekat maka menandakan masih memperkokoh sistem oligarki.

JJ Rizal mempertegas bahwa sisitem oligarki yang terjadi terlihat terang benderang yakni pihak-pihak yang berada di ballik para bakal calon yang ditunjuk. Bahkan pertarungan dan pemain masih memakai orang lama. Hingga demikian, kata Rizal,  rasa pilpres pada saat ini bisa dipahami adalah  rasa pilpres model lama.  “Bukan rasa pilpres baru, mungkin rasa pilpres baru karena pemainnya tak ada lagi, itulah hakikat oligarki,” katanya.

Lebih jauh JJ Rizal berkata bahwa pertarungan politik pada saat ini yang belum terlihat justru soal konglomerasi. Oleh karena itu, persoalan sebenarnya setelah usai pilkada dalam wujud jangka panjangnya demokrasi untuk Jakarta. Termasuk pada persoalan Jakarta yang tak pernah tuntas dalam jangka panjang soal keadilan sosial dan pemberdayaan warga hingga terus menjadi pekerjaan rumah di Jakarta. (asr)

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Most Popular