Psikolog : Anak yang Terlalu Penurut Tidak Bahagia Semakin Patuh, Orangtua Harusnya Semakin Khawatir!

Dia menceritakan, sewaktu kecil, dia sering bertengkar dengan adiknya, tapi setiap kali berantem, pasti dia yang selalu dimarahi ayah. Ayahnya selalu memarahinya dengan nada ketus dan jengkel diiringi wajah masamnya : “Bikin kesal saja kamu ini!”, bisa dibayangkan bagaimana perasaan anak itu dimarahi dengan nada ketus seperti itu.

Lama kelamaan, demi menghindari melihat wajah asam ayahnya, dia selalu menekan amarah dan perasaannya untuk tidak bertengkar dengan adiknya, sampai pada akhirnya, dia mengalami kelainan jiwa.

Setiap kali ketika menceritakan tentang kebaikan orang lain, ayahnya juga selalu memperlihatkan ekspresi tidak suka. Ketakutan paling besar pada seorang anak itu adalah takut dikucilkan dan ditinggalkan, jadi secara hati-hati akan melihat raut wajah (ekspresi) orangtuanya yang merasa kerepotan menjaganya.

Lama kelamaan, ia mulai memantau perasaannya, dan berkata pada diri sendiri, rumah adalah tempat yang paling baik di dunia, ayah adalah sosok orang yang paling hebat di dunia.

Lambat laun, ia lupa bagaimana merasakan, karena tidak peduli hal apapun yang dihadapi, ia akan secara terbiasa berpikir dulu bagaimana perasaan orang tersebut sebelum ia mengatakan sesuatu. Perasaannya yang diekspresikan itu bersifat semu, sengaja dibua-buat, imbasnya ia akan kehilangan perasaan hidup yang sebenarnya.

Kata-kata dan gerak geriknya selalu disesuaikan dengan keadaaan yang dibutuhkan, tapi perasaan itu hambar, dalam arti bukan terpancar dari lubuk hati yang sebenarnya, dan memberi kesan palsu. Baca Selengkapnya