Lautan Api Berkobar, Gadis Kecil Itu Dimasukkan ke dalam Guci Air oleh Orangtuanya, Lalu Digelindingkan…. Saat Guci Terhenti, Dia Menyelinap Keluar, Matanya Berkunang-kunang Nyaris Pingsan. Saat itulah Dia Melihat Pemandangan yang Tak Pernah Terlupakan Selama Hidupnya…

Tapi nyala api yang membara, dan kepulan asap tebal, membuatnya tak bisa menemukan jalan keluar lagi.

Sementara di sekeliling terdengar jeritan putus asa, dia terkejut melihat pemandangan itu, dan menangis saking takutnya.

Ayahnya mengamati sebentar, lalu menyerahkan Li Na ke dalam pelukan sang ibu, kemudian menerobos ke guci di halaman.

Dia mengambil seember air lalu menyiram ke kepala si ibu dan anaknya.

Li Na yang masih bocah ketika itu pun berteriak kaget oleh tindakan tiba-tiba ayahnya.

Kemudian sang ayah menuang seember airnya ke badannya, lalu menjatuhkan guci hingga airnya menngalir keluar.

Sang ayah memasukkan Li Na ke dalam guci dan berkata, “Bagaimana pun jangan keluar dari guci ini!”

Dia meringkuk di dalam guci, dan tiba-tiba merasakan gucinya berguling.

Dia pun berguling-guling mengikuti guci yang menggelinding.

Untuk sesaat dia merasa kepalanya pusing, lalu memejamkan matanya sambil menempelkan kakinya di dinding guci.

Tak lama kemudian dia merasa semakin panas, dinding gucinya juga perlahan mulai panas, sementara air yang disiramkan di tubuhnya telah menjadi uap putih.

Dia membuka matanya dan memandang dari mulut guci, ia melihat lautan api dimana-mana.

Dia terkejut dan memejamkan matanya, ia merasa gelindingan guci yang membawanya semakin pelan.

Dia hampir tak tahan lagi, lalu berteriak memanggil ayah dan ibunya, tapi tidak terdengar sahutan.

Entah berapa lama sudah, ia ditarik orang keluar dari dalam guci.

Dia merasakan udara sejuk menerpanya, dan perlahan-lahan mulai sadar, lalu menangis sambil berteriak memanggil ayah dan ibunya.

Tiba-tiba ia melihat pemandangan yang tak terlupakan olehnya.

Guci itu masih ada disana, sementara kobaran api masih menyala tidak jauh dari area kebakaran.

Ayah-ibunya, tampak berdiri di belakang guci, empat tangan mereka masih menempel di guci dengan posisi mendorong!

Mereka… sudah tewas terbakar! Dia langsung mengenali mereka, ayah-ibunya.

Dihadapkan dengan pemandangan itu, orang-orang yang ada di tempat kejadian pun tak tahan meneteskan air mata!

Sampai di sini, air mata Li Na pun berlinang, dengan lembut dia meraba guci itu, dan berkata, “Bisa saya bayangkan bagaimana ayah-ibu menahan sakit dari bara api yang membakar tubuh mereka, sepanjang jalan mereka mendorong guci ini… mereka… ayah-ibuku yang telah mengorbankan nyawa mereka untuk keselamatanku.. “

Dia menangis tersedu-sedu. Dan tanpa bisa ditahan air mata kami pun menetes.

ILUSTRASI. (Internet)

Melihat guci ini, saya seakan-akan melihat lautan api yang mengerikan itu.

Inilah kasih sayang terhebat di dunia, mereka yang bisa memberikan harapan hidup itu kepada kita pada saat yang paling kritis, bahkan tak segan-segan mengorbankan nyawanya sendiri adalah orang tua kita! (jhony/rp)

Sumber: goodtimes.my