Dia Iri Melihat Pria di Sampingnya Bisa Melihat Pemandangan di Luar Jendela, Suatu Hari Saat Dia Pindah ke Pinggir Jendela Itu, Ternyata !

Pria di jendela menggambarkan secara detail pemandangan di luar jendela, sedangkan pria di sudut selalu menutup mata mendengarkan dan membayangkan pemandangan yang tampak hidup itu.

Pria di sudut jendela menggambarkan segalanya, sehingga terbesit pikiran yang egois dalam benak pria tersebut,

“Mengapa dia bisa menikmati pemandangan di luar jendela, sedangkan aku tidak bisa? Ini tidak adil.” Gumamnya.

Awalnya ia merasa malu dengan pemikirannya seperti itu, dan hari demi hari pun berlalu, ia melewatkan begitu banyak keindahan yang bisa dinikmati, sehingga rasa iri pun merasuk ke dalam hatinya.

Ia tidak senang, hatinya dipenuhi dengan kebencian, dan akibat dari pikirannya yang kacau, ia pun tidak bisa tertidur.

“Seharusnya saya yang tidur di samping jendela,” pikirnya.

Suatu hari pada saat larut malam, pria itu tidak bisa tidur dan melamun sambil menatap langit-langit, sementara pria di samping jendela mulai batuk-batuk tanpa henti.

Cairan di paru-paru membuatnya sulit bernapas. Ia melihat temannya itu sedang berjuang menekan tombol emergenci, tapi pria itu diam saja, tidak mau membantunya menekan tombol di atas ranjangnya sendiri, juga tidak memanggil perawat.