Thursday, January 20, 2022
HomeUncategorizedPutranya Meminta Sang Ibu Membantunya Membeli Rumah, Tapi Ditolak, Ia Pun Kesal...

Putranya Meminta Sang Ibu Membantunya Membeli Rumah, Tapi Ditolak, Ia Pun Kesal Hingga Akhirnya Sang Ibu Terpaksa Membuat Keputusan Seperti ini!

Erabaru.net. Nak, kamu pindah saja dari rumah ini!

Nak, hari ini kamu berpura-pura lagi seakan-akan tidak apa-apa tapi menyiratkan pada ibumu dengan mengatakan bahwa harga rumah di kota telah meroket.

Jika tidak segera beli sekarang, mungkin nanti kamu dan pacarmu tidak punya satu tempat pun untuk bernaung.

Ibu memandangmu sejenak dengan hambar, tapi tetap saja tidak sesuai dengan keinginanmu yang berharap “ibu mengatakan akan membelikan rumah untukmu.”

Dan kamu pun diam dalam suasana canggung seperti itu, lalu meletakkan piring makan dan pergi sambil membanting pintu.

Ibu melihat bayangan kepergianmu, tampak kurus, malas, agak sinis dan keras kepala, sampai sekarang kamu masih saja bergantung pada orangtua, tidak pernah mau mencoba berusaha untuk mandiri.

Tapi nak, umur kamu sudah 25 tahun, sebuah pekerjaan yang stabil, seorang pacar yang butuh perhatian, dan dua orang tua yang perlahan-lahan menua, apakah semua ini belum cukup untuk membuatmu (berpikiran) secara dewasa, dan belum cukup untuk memikul tanggung jawab sebagai sesosok orang yang dewasa?

Sejak kecil, kamu sudah terbiasa selau mencari ibu kalau ada sesuatu.

ILUSTRASI. (Internet)

Saat berusia 5 tahun, kamu meminta ibumu membantu merapikan mainan yang kamu lempar dimana-mana sesukanya.

Saat berusia 10 tahun, kamu melihat sepatu teman yang keren, lalu merengek pada ibu membelikan untukmu.

Dan saat menginjak usia 15 tahun, kamu menulis surat cinta untuk seorang gadis di kelas dan berkata, “Ibuku kenal banyak orang. Siapa pun yang mengganggumu, katakan saja kepadaku?”

Ketika berusia 20 tahun, kamu kuliah, dan selalu mengeluh setiap kali menelepon.

Makanan di kantin yang tidak enak dan sebagainya. Mengapa tidak memberi lebih banyak uang untuk biaya hidup?

Usiamu sekarang sudah 25 tahun, dan suatu ketika saat ngobrol bersama teman-teman, kamu dengan bangganya mengatakan pada mereka, “Orang tuaku telah menyiapkan uang untukku membeli rumah, dan meski aku santai juga tetap bisa hidup dengan nyaman.”

Setiap saat seperti itu, ibu hanya tersenyum hambar, lalu lupa.

ILUSTRASI. (Internet)

Ibu selalu berpikir, kelak nanti kalau kami sudah tua, kamu sudah dewasa, dan bisa merawat kami.

Tapi sekarang, setiap hari kamu pulang tinggal makan, dan sering membawa pacar menginap lama di rumah, membuat ibu yang masih bekerja, masih harus bersusah payah menyiapkan tiga kali makan setiap hari untuk kalian.

Akhirnya ibu akui, adalah kesalahan besar ibu yang terlalu memanjakanmu tanpa batas selama lebih dari 25 tahun ini.

Suatu ketika dengan nada canda ibu berkata, bagaimana nanti kalau ibu pergi dulu sebelum sempat melihat kamu menikah?

Kamu pun segera menimpalinya, “Jangan dulu ibu, nanti siapa yang akan mencuci pakaian dan memasak untuk kami, siapa yang menjaga anak kami?”

Saat itu, ibu benar-benar merasakan kesedihan yang tak terkatakan mendengar perkataanmu seperti itu.

ILUSTRASI. (Internet)

Ternyata kami, orangtuamu masih harus terus bekerja untukmu setelah kami tua sampai akhir hayat nanti.

Ibu telah berhenti dari pekerjaan paruh waktu, dan setelah pensiun, ibu juga tidak bisa memberikan waktu senggang untuk terus tersiksa mencari uang membelikan rumah demi kebahagianmu.

Ibu harap, kamu pindah saja dari rumah ini, sewa rumah sendiri dengan gajimu. Maaf nak, tidak seharusnya ibu menyayangimu seperti itu dulunya.

Dan kamu juga seharusnya merasa bersalah yang telah membuat lelah orangtuamu di masa lalu. Marilah kita saling memaafkan dan melepaskan satu sama lain.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Most Popular

TERBARU

CERITA KEHIDUPAN