Tukang Pos Ini Membuat Satu Keputusan Penting Setelah Tersandung “Batu”, Dia Menyelesaikan Impiannya yang Menakjubkan Ditengah Tertawaan dan Cibiran Orang-orang

Ia selalu mengambil batu-batu itu pada malam hari, bermodalkan penerangan dari lampu minyak, dan ia menghabiskan 20 tahun waktunya hanya untuk mengerjakan dinding luar istana !

Ferdinand hanya lulusan sekolah dasar, tidak pernah mengecap pendidikan tinggi, dan tentu saja tidak pernah belajar tentang seni artistik, lalu bagaimana ia membangun istana ?

Imajinasinya berasal dari pemandangan eksotis negara lain dari kartu pos yang dikirimnya setiap hari seperti kuil di India, Masjid dan semacamnya. Semua gaya arsitektur yang tidak sama ia gunakan untuk istana.

Usianya sudah 78 tahun ketika istananya selesai dibangun.

Ferdinand berharap bisa dimakamkan di bawah istana hasil karyanya setelah meninggal, namun undang-undang terkait pada masa itu tidak membolehkan orang meninggal dikubur di halaman rumahnya sendiri.

Jadi dia menghabiskan delapan tahun lagi waktunya untuk mendirikan istana makamnya sendiri di pemakaman yang diatur oleh undang-undang tersebut.

“Saya sangat beruntung masih cukup sehat untuk menyelesaikan makam keabadian saya sebelum meninggal.” kata Ferdinand.