Prasangka, Sebilah Pisau yang Tak Berwujud

ILUSTRASI. (Internet)

Erabaru.net. Satu kata yang cukup untuk menghancurkan sebuah pernikahan yang bahagia: curiga

Peristiwa itu berawal dari perang antar sepasang suami isteri.

Saat itu saya sedang duduk di depan layar TV, tiba-tiba terdengar ketukan pintu.

Saya pun membuka pintu dan terlihat Kevin tetanggaku itu berdiri di luar. Wajahnya tampak kusut, perutnya terlihat turun naik dengan napas tersengal-sengal.

Melihat itu, saya pun seketika membayangkan kodok di kolam dengan isi perut buncitnya yang turun naik.

Kemudian saya melihat lehernya, dan hampir saja saya memuntahkan makanan dari dalam mulut saya.

Pasalnya, terlihat jelas beberapa garis merah bekas cakaran jari tangan dan tak perlu ditebak lagi, pasti hasil karya isterinya.

Kevin menghempaskan pantatnya di atas sofa, kemudian mulai menumpahkan uneg-unegnya, dan menekankan secara berulang tidak tahan lagi hidup seperti itu setiap hari.

Setelah ditanyakan sebabnya, ternyata gara-garanya adalah jepit rambut merah jambu.

ILUSTRASI. (Internet)

Perang urat saraf itu bermula ketika Kevin pulang dari sebuah jamuan malam. Dalam perjalanan pulangnya, tiba-tiba seorang rekan wanita sekantornya menelepon dan mengatakan jepit rambut merah muda hadiah ultah dari suaminya itu tertinggal di restoran.

Meski bukan barang yang berharga, tapi itu sangat penting dan berarti baginya.

Mendengar itu, Kevin pun memutar balik kendaraannya kembali ke restoran itu. Sesampainya di sana, ternyata jepit rambut itu telah disimpan di atas meja kasir.

Kevin pun langsung memasukkan jepit rambut itu ke saku celananya setelah diserahkan petugas kasir.

Namun, sepulangnya ke rumah, Kevin pun lupa dengan jepit rambut di saku celananya saat diajak bicara oleh isterinya.

Saat Isterinya hendak mencuci pakaian, sekalian ia mengambil celana Kevin dan ketika akan dimasukkan ke mesin cuci, kebetulan tangannya menyentuh sesuatu di dalam saku celana Kevin.

Dan dia tak menyangka melihat jepit rambut wanita berada dalam saku celana suaminya. Darahnya pun seketika bergejolak dan perasaannya tak menentu.

Dia mulai curiga dan menduga-duga Kevin suaminya itu pasti selingkuh dengan wanita jalang itu.

Tentu saja Kevin membantah keras tuduhan isterinya, namun, isterinya bersikeras dengan tuduhannya.

Akhirnya keduanya pun mulai bertengkar, dan semakin panas hingga kontak fisik pun tak terhindarkan.

Nada suara Kevin semakin keras dan berapi-api, mengatakan bahwa dia tidak tahan lagi hidup seperti ini.

Saya selaku tetangganya hanya tersenyum sambil menepuk-nepuk pundaknya, kemudian meninggalkan makanan yang belum habis kunikmati, lalu pergi ke rumahnya melihat isterinya.

Tampak isteri Kevin juga sangat emosi, air matanya terus berlinang, rambutnya juga tampak kusut berantakan.

Dan akibat tarik menarik dari pertengkaran tadi, dua kancing piyamanya terlepas. Dia juga terus mengatakan tidak tahan lagi hidup seperti ini, semua laki-laki sama saja, egois, katanya emosi sambil memarahi saya.

Saya menuang segelas air putih dan meletakkan di atas meja Marlina, isteri Kevin, dan mengambilkan beberapa lembar tisu untuknya.

Setelah agak tenang, saya pun bertanya kepadanya.

“Mar, apa Kevin sering lembur, sering pergi menghadiri jamuan, atau selalu pulang larut malam dengan alasan menemani klien?” Tanyaku pada Marlina, isteri Kevin.

“Tidak juga,” Jawab Marlina singkat.

Atau saat pulang Kevin selalu mengendap-ngendap jalannya, melarangmu menyentuh ponselnya, atau selalu menghindarimu saat dia menjawab panggilan telepon, mengirim SMS ?

Marlina menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaanku.

“Tidak juga,” gumamku.

Malah dia sering main game dengan ponsel Kevin.

Saya bertanya lagi, apa Kevin sering mengajakmu kalau ada jamuan, dan memuji-muji kebaikanmu di depan wanita lain? Marlina tampak terkejut mendengarnya. “Kok kamu tahu,” tanyanya heran.

Saya pun tersenyum mendengarnya, waktu kalian bertengkar tadi, apa Kevin menelepon rekan wanita sekantornya, kemudian menyuruh kamu mendengarnya, tapi kamu tolak ya? Marlina mengangguk.

Saya berdiri sambil berkata kepadanya, “Mar, coba kamu renungkan sejenak apa Kevin tipe pria seperti dugaanmu?”

ILUSTRASI. (Internet)

Muka Marlina seketika memerah, ia merasa malu dan bersalah dengan dugaannya yang bukan-bukan.

“Apa benar aku salah telah menuduh Kevin yang tidak-tidak?” Gumamnya.

Saya pun beranjak keluar meninggalkan Marlina, dan melihat Kevin berdiri di koridor. Saat mau bicara, Kevin mengayunkan tangannya berkali-kali, dan mengatakan bahwa dia juga salah, tidak seharusnya terlalu emosi tadi sehingga membuat sobek piyama Marlina, isterinya. Katanya merasa bersalah.

Senang sekali melihat pasangan itu kembali rukun dan tersenyum mesra.

Sementara saya sedang tertawa, saya pun merenung, saat pria dan wanita akan merajut mahligai rumah tangga, tidak cukup hanya sekadar cinta atau jodoh, tapi harus saling percaya.

Ada wanita yang seringkali dikuasai oleh kabar burung di luar, dimana karena takut suaminya selingkuh, jadi kehilangan kepercayaan awalnya, dia mulai meragukan semuanya, mulai dari dugaan, prasangka hingga tuduhan yang berakhir pada keretakan rumah tangga.

Prasangka adalah sebilah pisau yang tak berwujud. Kalau tidak hati-hati, justeru bukan saja melukai hati pria yang mencintaimu, tapi juga memutus urat nadimu sendiri.

Sayangnya, banyak wanita yang sudah menikah, selalu tidak mengerti dengan kebenaran ini, Jelas-jelas tidak tahu apa-apa, tapi berpura-pura mengerti, melihat gelas, tapi yang terbayang ular. (jhn/rp)

soulbay.tw