Flu Babi Afrika Ditemukan di Tiongkok Barat Daya, Mengonfirmasi Penyebaran di Seluruh Negara

African swine fever (ASF) kini telah menyebar ke seluruh Tiongkok ke bagian barat daya negara itu, kata para pejabat.

Dua wabah baru, diumumkan pada 21 Oktober, terjadi di peternakan di Kabupaten Zhenxiong, di Provinsi Yunnan. Semuanya 545 ekor babi yang dilaporkan telah terinfeksi telah mati, termasuk 298 di sebuah peternakan di Niuchang Town, dan 247 di sebuah peternakan Kota Muxiang.

Yunnan adalah wilayah ke-11 di Tiongkok yang melaporkan wabah virus tersebut, sejak kasus pertama ASF terdeteksi di Tiongkok timur laut pada awal Agustus. Yang lainnya adalah Mongolia Dalam, Liaoning, Heilongjiang, Henan, Jiangsu, Anhui, Zhejiang, Jilin, Shanxi, dan Kota Tianjin (sebuah kotamadya yang diperintah secara langsung).

ASF adalah penyakit yang sangat menular yang menyerang babi dan babi hutan; tidak ada obat atau vaksin. Namun, penyakit ini diketahui tidak berbahaya bagi manusia, bahkan jika produk babi yang telah terinfeksi dikonsumsi.

Sejak perselisihan dagang antara Tiongkok dan Amerika Serikat dimulai, salah satu tindakan balasan yang diberlakukan Tiongkok adalah tarif pembalasan terhadap daging babi AS. Ketika Tiongkok memutuskan untuk membeli daging babi dari negara lain sebagai gantinya untuk meningkatkan pasokan, pecahnya wabah ASF telah terbukti merugikan produksi daging babi domestik.

Impor-impor daging babi asing mungkin telah menyebabkan ASF menyebar ke Tiongkok di tempat pertama. Sumber-sumber alternatif Tiongkok untuk daging babi termasuk Rusia, di mana virus ASF telah menjangkiti populasi babi lokal selama dekade terakhir, menurut situs web Pig Progress, yang dijalankan oleh Proagrica Media, sebuah firma riset pasar pertanian. Rusia telah memusnahkan lebih dari 2 juta babi sejak pecahnya wabah ASF awal di Rusia pada tahun 2007.

Sebelum kasus ASF pertama terjadi pada bulan Agustus, Tiongkok telah berhenti mengimpor daging babi dari Amerika Serikat. Sebaliknya, ia mengimpor 240.000 ton daging babi beku dari Rusia selama bulan Agustus, menurut laporan media pemerintah Tiongkok. Setelah pecahnya wabah ASF, berita tersebut dengan cepat disensor oleh rezim Tiongkok, menurut laporan Radio Free Asia (RFA) yang diterbitkan pada 17 Oktober.

Pada bulan Agustus, para ilmuwan di Organisasi Pangan dan Pertanian AS telah mengatakan kepada jurnal ilmiah Science bahwa penyakit tersebut kemungkinan tiba di Tiongkok melalui produk-produk daging babi impor, dan bahwa analisis genetik menunjukkan bahwa virus yang ditemukan di Tiongkok terkait erat dengan strain (spesies virus) yang beredar di Rusia.

Pusat Kesehatan dan Epidemiologi Kesehatan Nasional Tiongkok mengkonfirmasi setelah sekuensing DNA bahwa virus ASF yang ditemukan di Tiongkok memang strain yang sama dengan Rusia, menurut RFA.

Pihak berwenang Tiongkok telah berulang kali mencoba meyakinkan publik bahwa wabah telah ditangani. Namun, berbagai wilayah terus-menerus melaporkan penyebaran wabah ASF tersebut.

Xu, seorang ahli ASF di Tiongkok yang berpartisipasi dalam pencegahan ASF dan pengendalian penyakit mengatakan kepada RFA dalam laporan yang sama tentang apakah yang ditunjukkan sehubungan dengan kapasitas manajemen atau bioteknologi, Tiongkok tidak dapat menghentikan penyebaran virus ASF tersebut.

Pihak-pihak berwenang Tiongkok telah berulang kali menerbitkan berita menekankan bahwa daging babi yang terinfeksi di Tiongkok masih dapat dimakan karena virus dapat dibunuh dengan memasak selama 30 menit pada suhu tinggi. Namun, Xu mengatakan bahwa meskipun belum ada laporan tentang infeksi manusia, kemungkinan bukan berarti babi yang terinfeksi adalah aman. Seperti halnya virus flu burung, virus ASF mungkin bermutasi, katanya kepada RFA.

Tiongkok juga sangat membatasi pengujian virus. Hanya Pusat Kesehatan Hewan dan Epidemiologi yang diizinkan untuk melakukan pengujian-pengujian; bahkan laboratorium kontrol penyakit tingkat provinsi hanya dapat mengirim sampel-sample, kata Xu.

Ren Ruihong, mantan eksekutif senior di Red Cross Society of Tiongkok, mengatakan kepada RFA bahwa peternak babi mungkin juga menyembunyikan penyebaran penyakit tersebut karena tekanan mencari nafkah, yang kemungkinan akan memperburuk penyebaran virus. (ran)

Rekomendasi video:

Flu Babi Afrika Mewabah di Tiongkok, Peternak Merana

https://www.youtube.com/watch?v=7wqLq_pJ51k