Kisah Doktor dari Kanada : Dulu Skeptis Soal Uighur, Kini Terkejut Usai Buktikan Secara Langsung Kamp Konsentrasi di Xinjiang

Menyaksikan Sendiri pelanggaran HAM yang Dilakukan Komunis Tiongkok 

Anggota dari delegasi sebagian besar adalah para jurnalis. Mereka terutama berasal dari Asia Tengah dan Timur Tengah. Rombongan itu menghabiskan 3 hari pertama di kota Urumqi, ibukota Daerah Otonomi Xinjiang. Di sana mereka mendengarkan berbagai ceramah yang diselenggarakan oleh pejabat pemerintah setempat.

Jazexhi mengatakan, para pejabat-pejabat itu mengklaim bahwa warga etnis Uighur adalah imigran di wilayah bersejarah etnis Han ini. Usai mendengar penjelasan, ia masih tidak berani percaya bahwa otoritas komunis Tiongkok berupaya menekan etnis minoritas secara terencana. Akan tetapi, itu mungkin hanya merupakan manifestasi dari Islamofobia dalam dirinya. Hal demikian ia rasakan saat itu.

Kemudian, anggota kelompok yang berkunjung mendatangi bangunan yang digunakan sebagai Pusat Pelatihan Kejuruan. Jazexhi mengatakan bahwa dari kejauhan, gedung itu tampak seperti sebuah penjara di tengah-tengah padang pasir.

Di awal kunjungan itu, rombongan jurnalis disuguhi tontonan tarian dengan diiringi musik khas Tiongkok yang diperankan oleh “siswa-siswi” warga etnis Uighur. Namun, Jazexhi bersikeras untuk mengunjungi fasilitas di bagian dalam. Setelah masuk ia melihat di perhentian pertama ada sebuah kamar kecil yang dalamnya berisi 10 buah tempat tidur susun. Juga disertai dengan toilet gaya Asia yang berjajar di sampingnya.

Tiba di perhentian kedua, Jazexhi bertanya kepada seorang pengajar atau guru, masalah apakah penghuni dapat melakukan sholat 5 waktu di sini ? Jawabannya adalah : “Tidak boleh !” karena hukum komunis Tiongkok melarang orang berdoa, bersembahyang di dalam tempat pendidikan.

Ia bertanya lagi kepada guru tersebut, kesalahan apa yang membuat para warga etnis Uighur tersebut dibawa ke tempat itu ? Guru tersebut menjawab dengan sebuah percontohan, seperti warga yang melakukan perkawinan tanpa melalui Kantor Catatan Sipil atau hanya melalui cara keagamaan, itu melanggar peraturan pemerintah.

 Ketika mengunjungi tempat pemberhentian lainnya, Jazexhi bertanya kepada beberapa siswa mengenai mengapa mereka sampai dimasukan ke dalam kamp itu. Jazexhi mengatakan bahwa para siswa itu hanya berbicara bahasa Mandarin dan tidak berbicara bahasa Uighur. 

Jawaban mereka perlu diterjemahkan oleh pejabat yang berada di sana. Dengan kata lain bahwa mereka dimasukkan ke dalam “Pusat Pendidikan” karena tidak mampu berbahasa Mandarin kecuali Uighur.

Seseorang menjawab : Dirinya telah mengunduh sebuah video di mana orang-orang Uighur yang yang berkiblat pada komunis Tiongkok itu, bukan Muslim sejati. Seorang wanita mengatakan, bahwa ia telah mengikuti pengajaran Al-Qur’an di kelas yang dinyatakan “ilegal” di universitas dan “memaksa” ibunya untuk berdoa di dalam rumah. Seorang pria lain mengatakan : Ia menonton sebuah video tentang anti-Komunis Tiongkok. Seorang pria lain mengatakan : Ia mengunduh beberapa informasi yang mengatakan bahwa Muslim sejati harus melakukan sholat 5 waktu.

Ketika Jazexhi membuka dialog dengan mengucapkan as-salāmu ‘alaikum, mereka berulang kali menjawab dengan bahasa Mandarin ‘Ni Hao’ yang artinya baik, baik-baik saja. Usai kunjungan Jazexhi menyimpulkan : “Jika Anda menggunakan bahasa Anda sendiri … Jika Anda menunjukkan sedikit tanda-tanda memiliki kepercayaan agama, Anda akan dikirim ke kamp konsentrasi”.

Dalam sebuah wawancara yang berlangsung pekan lalu, Jazexhi mengatakan bahwa tujuan dari komunis Tiongkok mengundang para jurnalis untuk mengunjungi Xinjiang itu adalah ‘Mari kita jual cerita palsu kepada dunia. Tujuannya juga memberitahukan kepada dunia bahwa di situ tidak ada kamp konsentrasi.’ Akan tetapi apa yang dilihat di sana membuat orang-orang terkejut, ia hampir tidak mempercayai apa yang dilihat oleh dirinya sendiri.

Jazexhi selain memposting video kunjungannya ke kamp konsentrasi di YouTube, tetapi juga menghadiri seminar di Universitas Concordia di Montreal dan Universitas McMaster di Hamilton untuk berbagi pengalaman perjalanannya di Xinjiang, Tiongkok.  (Sin/asr)

Video Rekomendasi :