fbpx
Tuesday, December 7, 2021
HomePRASEJARAHOrang India Temukan Sebuah Kota Kuno di Dasar laut dengan Peradaban Lebih...

Orang India Temukan Sebuah Kota Kuno di Dasar laut dengan Peradaban Lebih Tinggi dari “Atlantis”?

Sebuah kisah nyata yang membuktikan eksistensi mitos melalui arkeologi. Kisah ini terjadi dari tahun 1970-an hingga tahun 2010-an. 

Lokasi kisah ini terutama terjadi di Gujarat, India sekarang. Kisah ini sangat sederhana, berdasarkan legenda kuno mereka, Mahabharata, orang India menemukan kota prasejarah yang tenggelam oleh banjir, yakni Dwaraka. 

Kejutan dari cerita ini bagi orang India seperti bangsa Tiongkok yang menemukan Kerajaan Huaxu Fuxi dan Nuwa. Sementara dari umat ​​Kristen menemukan Taman Eden berdasarkan Alkitab.

Untuk diketahui Fu Xi dan Dewi Nuwa adalah maharaja suku Huaxia, salah satu dari Tiga Maharaja. Dalam legenda Tiongkok diceritakan sama dengan Dewi Nuwa, bagian bawah badannya berbentuk ular) berdasarkan Shan Hai Jing atau Kitab Klasik Pegunungan dan Samudra, yakni catatan mengenai kekayaan alam, geografi, fiksi, mitologi, ritual dan pengobatan Tiongkok kuno sebelum Dinasti Qin (221-206 SM)

 Krishna

 Tokoh utama dari cerita ini adalah dewa terpenting dalam agama Hindu yang disebut Krishna.

Sampai disini, kita rangkum dulu tiga dewa utama atau biasa disebut dengan trimurti dalam agama Hindu. Pertama adalah Dewa Siwa yang memiliki tugas untuk melebur atau menghancurkan (Pralina) semua ciptaan dewa brahma yang sudah usang jika sudah tiba waktunya. Kedua adalah Dewa Brahma, dewa yang bertugas menciptakan (Utpathi) seluruh alam semesta beserta isinya. Yang terakhir adalah Dewa Wisnu, yang bertugas memelihara (Striti) seluruh alam semesta beserta isinya.

Tokoh utama dalam cerita ini, adalah Krishna, yang merupakan titisan *dewa* Wisnu, yang bertugas untuk menjaga peradaban manusia. Menurut catatan klasik Hindu, Mahabarata. Setelah Krishna membunuh Kamsa (paman dari pihak ibu). Krishna memutuskan untuk memindahkan ibukota dari Mathura ke Dwaraka.

Krishna dan kaumnya, Yadawa meninggalkan Mathura dan tiba di pantai Saurashtra. Mereka memutuskan untuk membangun kota mereka di daerah pesisir Dwaraka, dan membangun kota di atas lahan seluas 96 kilometer persegi tanah dari laut.

 Dwaraka

Dwaraka memiliki arti gerbang menuju surga dalam bahasa Sansekerta. Bentuknya persegi seperti papan catur dan dijaga oleh empat gerbang utama. 

Di kota, seperti sebuah taman raksasa yang dipenuhi cicit burung dan bunga, danau yang bersilangan, dan selalu terdengar nyanyian angsa. Di kejauhan sayup-sayup terdengar deru mesin raksasa, gedung-gedung di luar kota menjulang dari tanah, dan jalanan di dalam dan di luar kota yang tertata rapi menghubungkan setiap sudut kota, dipenuhi dengan taman, jalan komersial, dan rumah. 

Selain itu, Dwaraka juga memiliki 900.000 istana, semuanya dihiasi dengan kristal, emas, perak dan zamrud besar. Di dalam istana tertata rapi furnitur dari emas dan permata yang tak terhitung jumlahnya, di istana inilah tempat tinggal Krishna.

Entah berapa lama sudah Krishna dan orang-orangnya tinggal di sini sampai hal itu dicatat dalam kitab Mahabharata. Perang pecah antara kerajaan Salwa di barat dan kerajaan Krishna. 

Perang ini digambarkan seperti catatan dalam kitab. . . Prajurit Salwa dilengkapi dengan sejenis wahana terbang yang disebut Vimana atau Wilmana, semacam kendaraan dewa yang berupa burung besar. 

Wilmana atau Walimana digambarkan sebagai sosok makhluk bersayap, entah burung atau raksasa. 

Susastra India Kuno mendeskripsikan wilmana sebagai wahana (kapal) terbang, berbentuk bundar atau silinder, dibuat dari besi, raksa, tembaga, dan timbal.Legenda India mengatakan bahwa wilmana mampu mengeluarkan misil dan petir yang dahsyat.

Pasukan mereka mengepung Dwaraka dan menghancurkan taman, gedung, observatorium dan area lain di luar kota. Setelah itu, mereka menjatuhkan sejumlah besar proyektil dari wahana Wilmana. Segera setelah itu muncul angin puyuh yang dahsyat dan menyelimuti seluruh area. Sepenggal deskripsi ini dicatat dalam Bhagawatapurana atau Shrimad Bhagawatam. Bukankah ini sangat mirip dengan peperangan modern? Kemudian Krishna akhirnya mengeluarkan senjata pamungkasnya. Senjata itu melesat menuju ke pasukan Salwa, dan bola cahaya yang terang seperti sinar matahari di atas langit itu seketika memusnahkan pasukan Salwa.

Untuk diketahui Bhagawatapurana adalah salah satu kitab Purana dalam agama Hindu yang berisi syair kisah kepahlawanan dan mitologi tentang berbagai awatara, atau penjelmaan Tuhan yang turun ke dunia, yang ditulis dalam bahasa Sanskerta.

Itu tak ubahnya seperti perang nuklir prasejarah. Krishna meninggalkan bumi tidak lama setelah perang nuklir prasejarah itu. Pada hari yang sama, ketika Krishna meninggalkan bumi, Dwaraka akhirnya ditenggelamkan banjir oleh dewa yang marah.

Berdasarkan gerhana bulan, komet, dan fenomena langit lainnya yang tercatat dalam kitab Mahabharata, sejarawan India berspekulasi bahwa perang ini diperkirakan terjadi pada tahun 3090 SM, sementara penganut Hindu lebih percaya bahwa masa ketika Krishna meninggalkan bumi adalah 5.000 tahun yang lalu ketika Mohenjodaro dihancurkan, atau sekitar 9000 tahun yang lalu di masa kini, demikianlah legendanya.

Mohenjo-daro adalah salah satu situs dari sisa-sisa permukiman terbesar dari Kebudayaan Lembah Sungai Indus, yang terletak di provinsi Sind, Pakistan.

 Menuju realita

 Menurut legenda Hindu, Dwaraka sekarang adalah kelahiran kembali Krishna-Dwaraka yang ketujuh. Enam situs pertama terkubur dalam di bawah tanah. Saat ini ada sebuah kuil yang diwariskan dari generasi ke generasi, yang dibangun secara khusus untuk memperingati Dewa Krishna. Tidak peduli berapa kali kota Dwaraka diselimuti, kuil semacam ini akan selalu dibangun di atas jantung tanah kota Dwaraka. 

Pada tahun 1970, Shikaripura Ranganatha Rao atau S.R. Dr. Rao diperintahkan untuk melakukan penggalian arkeologi di kuil Hindu kuno ini.

Selama proses penggalian, ia menemukan ada sebuah kuil kuno di bawah tanah. Dan, ketika menggali lebih dalam ke bawah ditemukan sebuah kuil yang lebih tua dan diperkirakan berusia sekitar 3000 tahun. Ditilik dari sejumlah besar kerang, tembikar, dan besi yang tergali di bawah kuil, tampak di bawah candi terdapat situs demi situs kota yang terus menerus diterjang air laut. Mereka bertumpuk satu demi satu sering berlalunya waktu. Dr. Rao langsung teringat legenda dewa Kṛiṣhṇa, dan tujuh kelahiran kembali Dwaraka. Mungkinkah semua legenda itu benar-benar eksis ! ? 

Mengikuti petunjuk itu, Dr. Rao yang hampir 30 tahun berkecimpung dalam dunia arkeologi, menemukan banyak kota kuno bawah laut yang berusia 3000 hingga 4000 tahun di lautan dekat Dwaraka. Langkah demi langkah, menguatkan bukti keberadaan kota Dwaraka, kota Sang Khrisna yang tenggelam. Tetapi semua bukti ini masih selangkah lagi dari legenda yang membuktikan kota Dwaraka Krishna.

Penemuan Teluk Khambhat yang tak terduga

 Cerita berlanjut pada tahun 2001, ketika pemerintah India menugaskan Institut Oseanografi Nasional untuk melakukan uji pencemaran bawah laut di bagian lain semenanjung Teluk Khambhat, gelombang suara mereka menemukan situs kota seluas sekitar 13 kilometer persegi, ukurannya setara dengan lima situs Mohenjodaro dan 30 Lapangan Tiananmen, skala yang fantastis. Para arkeolog belum pernah menemukan kota kuno berskala besar seperti ini di darat. 

Institute of Oceanography kemudian mengambil beberapa potongan kayu, tembikar, tulang fosil, dan barang antik lainnya dan dikirim ke berbagai laboratorium di seluruh dunia untuk diuji, termasuk Universitas Manipur, India dan Universitas Oxford, Inggris. Hasilnya terdeteksi berusia antara 3500 sampai 9500 tahun.

 Jika masa usia itu benar, maka cukup untuk membuktikan dua hal: 

Pertama, kemungkinan besar ini adalah situs kota Dwaraka Krishna. 

Kedua, situs ini 5000 tahun lebih awal dari situs kota mana pun yang ditemukan. Jika penemuan arkeologi di sini dan penemuan awal Dr. Rao atas beberapa monumen di dasar laut Dwaraka dan penemuan arkeologi Mohenjodaro (Peradaban Lembah Sungai Indus) menjadi rantai buktinya, maka sejarah peradaban umat manusia dapat ditulis ulang. Temuan ini sempat membuat geger di komunitas arkeologi global pada tahun 2000-an, dan pemerintah India juga tidak berani bertindak gegabah. Kemudian pada tahun 2007 dilakukan sonar scan terhadap tempat ini, dan tidak ada lagi informasi lanjut setelah itu.

Pekerjaan arkeologi Dwaraka-Krishna yang telah dijalani Dr. Rao selama lebih dari 30 tahun pun berkahir sampai disini. Seakan-akan ada suara dari langit mengatakan kepadanya untuk tidak menggali lagi. 

Beberapa tahun yang lalu, ketika Dr. Rao ditanya dalam sebuah wawancara, seberapa yakinnya dia bahwa Dwaraka-Krishna ada di bawah sana. Dia menjawab bahwa itu hanya label nama yang hilang. Bukti yang diharapkan Dr. Rao selalu tidak tergali. Pada 2013, dia berpisah selamanya dengan dunia. Sampai detik ini, kota Dwaraka-Krishna mungkin akan tenggelam di lautan selamanya, terendam dalam ingatan kita.

Itu hanya bisa menjadi legenda

 Jika Dwaraka-Krishna dikonfirmasi secara arkeologi, lantas apakah kita harus mempercayai cerita dalam kitab Mahabharata? Apakah harus percaya pada perang nuklir prasejarah? Apakah harus percaya dengan peradaban generasi sebelumnya? Haruskah percaya Krishna dari luar planet bumi? Dan, haruskah percaya pada tiga dewa Siwa, Brahma, dan Wisnu yang menghancurkan alam semesta, membangun kembali peradaban, dan menjaga peradaban? Jadi semua ini hanya bisa menjadi legenda. . .

Anatolia / dekat Timur-Dua Sungai / Mesir-India-Yunani-Roma, ini adalah rantai bukti perkembangan peradaban manusia yang disimpulkan Barat selama ratusan tahun, namun orang India sepertinya sayup-sayup bergumam di telinga kita, bahwa kebenaran dari cerita ini adalah bahwasannya peradaban itu terus menerus dihancurkan dan dilahirkan kembali. 

Gelombang kehancuran terakhir adalah masa Krishna dalam legenda kita, yang telah berlalu antara 13.000 hingga 9.000 tahun silam. Periode ini kebetulan menjadi akhir dari zaman es terakhir di planet kita. Pada saat itu, gletser mencair, permukaan laut naik dengan cepat, dan sejumlah besar kota peradaban di seluruh dunia tenggelam, seperti Atlantis di barat, Dwaraka, Yingzhou (Gunung kramat tempat tinggal makhluk abadi dalam mitologi Tiongkok).

Sang Sadar meninggalkan bumi, dan manusia selamat dari bencana banjir, karena itu, peradaban di seluruh dunia akan memiliki kenangan yang sama tentang banjir yang menghacurkan peradaban. Malaikat Barat membimbing Nabi Nuh dan keluarganya untuk menyelamatkan diri ke dataran tinggi Anatolia, kemudian menghancurkan Menara Babel yang mereka bangun, merampas peradaban dan teknologi mereka.

Sementara itu, Dewa Krishna membimbing kita ke dataran tinggi Lembah Sungai Indus. Kita membangun kembali Harappa dan Mohenjodaro, tetapi kemudian dewa menghancurkannya dan merampas peradaban dan teknologi kita. Lalu mengapa dewa merampas peradaban dan teknologi generasi sebelumnya? Ini adalah pekerjaan yang berulang dari tiga dewa besar Siwa, Brahma, dan Wisnu, dan sama sekali tidak akan terjadi kesalahan.

 Jika demikian halnya, planet kita, peradaban umat manusia seperti materi percobaan para dewa. Mereka meringkas data dan membangun model dalam eksperimen. Lalu apa tujuan mereka dalam semua eksperimen ini? Apakah mereka juga tunduk pada siklus ini? Apakah juga sedang mencari cara untuk memutus siklus ini?

Sampai disini, orang India pun tersenyum dan berkata dengan santai . . Ya, mereka juga tunduk pada siklus ini. Itulah yang Sang Buddha katakan, manusia dan dewa itu sama harus mendalami semua Dharma untuk mencapai paramita (bahasa sansekerta – kesempurnaan), yang memiliki kebijaksanaan tak terbatas, dan mencapai kesempurnaan terlepas dari samsara.

Samsara dalam kepercayaan Budha adalah (kelahiran kembali) yang berulang-ulang tanpa henti. (jon)

Sumber : Berbagaisumber

Video Rekomendasi :

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Most Popular