fbpx
Tuesday, December 7, 2021
HomeNEWSINTERNATIONALKematian Lansia yang Pulih dari COVID-19, Tetapi Meninggal Dunia Setelah Divaksin Menimbulkan...

Kematian Lansia yang Pulih dari COVID-19, Tetapi Meninggal Dunia Setelah Divaksin Menimbulkan Pertanyaan

oleh Sharyl Attkisson

Dua kelompok kecil kematian setelah vaksinasi COVID-19,  dilaporkan terjadi di antara panti-panti jompo di negara bagian AS, Kentucky dan Arkansas.

Di Kentucky, empat orang yang berusia lanjut meninggal pada hari yang sama setelah menerima vaksinasi pada (30/12/2020). Tiga dari empat orang yang meninggal dunia itu, dilaporkan sudah pernah terjangkit Coronavirus sebelum divaksinasi.

Di Arkansas, empat orang yang berusia lanjut, meninggal dunia di sebuah fasilitas perawatan jangka panjang sekitar seminggu setelah menerima vaksinasi. Mereka semua dinyatakan positif menderita COVID-19 setelah menerima vaksinasi.

Kematian dilaporkan dalam sebuah basis data federal AS yang disebut VAERS – the Vaccine Adverse Event Reporting System atau Sistem Pelaporan Efek Samping Akibat Vaksin.

Kematian setelah vaksinasi, tidak selalu berarti vaksin yang harus disalahkan. Dari mereka yang menerima vaksin Coronavirus, banyak yang sudah tua dan lemah, atau sudah menderita penyakit serius, yang itu mempersulit untuk mengetahui apakah ada hubungannya.

Kematian di Panti Jompo di Kentucky

Menurut laporan Sistem Pelaporan Efek Samping Akibat Vaksin AS, kematian di Kentucky terjadi pada 30 Desember setelah menerima vaksinasi dengan vaksin Pfizer-BioNTech. Seorang wanita berusia 88 tahun yang sakit  “14+ hari pasca menderita Covid” diberi suntikan vaksin Pfizer-BioNTech saat ia “tidak responsif di ruangan[nya].” Ia meninggal dalam waktu satu setengah jam. Seorang yang berusia 88 tahun yang “15 hari pasca menderita Covid” mendapat vaksinasi, dipantau selama 15 menit kemudian, dan meninggal dalam waktu 90 menit. 

Laporan ketiga mengatakan, seorang wanita berusia 88 tahun yang “14+ hari pasca menderita Covid” muntah-muntah selama empat menit, itu setelah menerima suntikan vaksin, menjadi sesak napas, dan meninggal dunia pada malam itu. Dan, seorang wanita berusia 85 tahun divaksinasi pada pukul 17.00 “ditemukan tidak responsif” kurang dari dua jam kemudian, dan meninggal dunia tidak lama kemudian.

Menanggapi pertanyaan mengenai kluster Kentucky, seorang juru bicara Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit AS mengatakan, para ahli Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit mencatat, “tidak ada pola…di antara kasus-kasus [Kentucky] yang akan menunjukkan kepedulian akan keamanan vaksin COVID-19.”

Para ilmuwan berbeda pendapat mengenai apakah orang yang menderita Coronavirus, seperti pasien-pasien Kentucky, harus menerima vaksinasi COVID-19. 

Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit menegaskan bahwa, hal tersebut adalah aman untuk orang-orang yang telah pulih dari COVID-19 untuk mendapatkan vaksinasi. Bahkan, tidak ada interval minimum yang dianjurkan antara infeksi dengan vaksinasi.

“Vaksinasi tersebut seharusnya ditawarkan kepada orang-orang tanpa memandang riwayat gejala sebelumnya atau infeksi SARS-CoV-2 asimtomatik [virus yang menyebabkan COVID19],” kata sang juru bicara.

Namun demikian, para ilmuwan lain mengatakan memvaksinasi orang-orang yang sudah dianggap kebal setelah  infeksi COVID-19 yang alami, membuang dosis-dosis vaksin yang berharga jika ada kekurangan. Dan penelitian  Pfizer maupun Moderna tidak menunjukkan manfaat apa pun dari memberi vaksinasi pada pasien yang sudah pernah terinfeksi sebelumnya.

Para pasien Kentucky divaksinasi segera setelah Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit menyebarkan informasi palsu pada titik ini. 

Penelitian yang diklaim menunjukkan bahwa vaksin adalah efektif untuk orang-orang yang pernah menderita COVID-19. Informasi sesat yang diberikan di situs web Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, dalam dan Laporan Mingguan Morbiditas dan Kematian dan dalam sebuah instruksi webinar untuk profesional medis.

Dalam webinar tersebut, Dr. Sarah Oliver dari Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit secara keliru menyatakan, “Data dari kedua uji klinis menunjukkan bahwa orang-orang dengan infeksi sebelumnya masih mungkin mendapat manfaat dari vaksinasi.”

Di bawah tekanan dari Senator Partai Republik Thomas Massie, yang pertama kali menandai informasi Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit adalah tidak benar pada Desember lalu, Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit baru-baru ini mengeluarkan sebuah koreksi, tetapi menggunakan kata-kata yang masih menyiratkan penelitian-penelitian secara keliru menunjukkan bahwa vaksin tersebut membantu orang yang sebelumnya terinfeksi COVID-19.

Sementara itu, hasil awal dari sebuah penelitian yang disusun bersama sebuah tim yang terdiri lebih dari dua lusin peneliti mencatat, bahwa orang-orang yang terinfeksi COVID-19 di masa lalu “mengalami efek samping yang sistemik dengan frekuensi yang jauh lebih tinggi, ” setelah menerima vaksinasi dibandingkan yang lain.

Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit AS, memastikan bahwa pihaknya memantau laporan bahwa orang-orang yang pernah terjangkit COVID-19, tampaknya menderita efek samping yang lebih sering atau lebih parah setelah menerima vaksinasi, atau “reaktogenisitas,” dibandingkan orang-orang yang tidak menderita COVID-19.

“Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit mengetahui laporan mengenai peningkatan reaktogenisitas (seperti demam, menggigil, dan nyeri otot) pada orang-orang yang pernah terjangkit COVID-19,” kata seorang juru bicara.

Kematian-Kematian di Panti Jompo di Arkansas

Empat kematian di panti jompo di Arkansas terjadi setelah menerima vaksin Moderna. Keempat pasien dinyatakan positif COVID-19 setelah vaksinasi, menurut laporan Sistem Pelaporan Efek Samping Akibat Vaksin. Tetapi, tidak ada indikasi apakah mereka mengandung Coronavirus pada saat mereka divaksinasi atau didapat setelah suntikan.

Seorang pria berusia 65 tahun (kasus 921547-1) yang menerima vaksin Moderna pada tanggal 2 Januari 2021, meninggal dua hari berikutnya, di mana laporan Sistem Pelaporan Efek Samping Akibat Vaksin mencatat bahwa sang pria menderita COVID-19. 

Tiga orang lanjut usia lainnya di Arkansas lainnya meninggal sekitar seminggu setelah menerima vaksin Moderna pada tanggal 22 Desember 2020. Orang yang melaporkan kematian seorang pria berusia 82 tahun (kasus 917117-1) enam hari setelah disuntik vaksin mengatakan bahwa ia  divaksinasi dalam upaya untuk “mengurangi risikonya” dan bahwa “ini adalah tidak berhasil dan  pasien meninggal.” 

Laporan Sistem Pelaporan Efek Samping Akibat Vaksin mencatat, “Setelah vaksinasi, pasien dinyatakan positif menderita COVID-19.”

Dua wanita yang berusia lanjut, yaitu berusia 90 tahun (kasus 917790-1) dan berusia 78 tahun (kasus 917793-1), divaksinasi pada hari yang sama dengan seorang pria berusia 65 tahun dan juga diuji positif menderita COVID-19 sekitar seminggu setelah suntikan vaksin dan meninggal dunia. 

Menurut orang yang tidak disebutkan namanya yang melaporkan kematian wanita yang berusia 90 tahun itu, “vaksin tidak punya cukup waktu untuk mencegah COVID 19” dan “tidak ada bukti bahwa vaksinasi menyebabkan kematian pasien. Tidak ada waktu untuk menyelamatkan nyawanya.” Orang yang melaporkan kematian pria berusia 78 tahun itu mengklaim pria tersebut meninggal dunia “akibat COVID-19 dan  kondisi kesehatannya yang mendasari, dan bukan sebagai akibat dari vaksin.”

Menanggapi pertanyaan mengenai kluster Arkansas, Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit AS berkata, “Data pengawasan hingga saat ini tidak menunjukkan kematian yang berlebihan di antara pasien yang berusia lanjut yang menerima vaksinasi COVID-19.”

Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit  AS mengatakan, secara keseluruhan jumlah kematian di fasilitas perawatan jangka panjang setelah  vaksinasi COVID-19 adalah tidak lebih tinggi dari yang diharapkan terjadi secara alami.

Pasien-Pasien yang lemah

Secara terpisah, Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit sedang memantau dampak vaksin pada pasien-pasien yang sudah lemah,  seperti pasien  yang menderita penyakit kronis di panti jompo.

Di Norwegia, diperingatkan saat 23 orang meninggal tidak lama setelah menerima vaksinasi. Setelah menyelidiki 13 kematian, Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Norwegia menyimpulkan efek samping yang umum terjadi dengan vaksin Pfizer-BioNTech dan vaksin Moderna, seperti demam, mual, dan diare, “mungkin telah berkontribusi pada hasil yang fatal pada beberapa pasien yang lemah.”

“Ada kemungkinan efek samping yang umum ini, yang tidak berbahaya pada pasien yang bugar, pasien yang lebih muda dan pasien tidak biasa divaksin, dapat memperburuk penyakit yang mendasari orang-orang yang berusia lanjut,” kata Steinar Madsen, direktur medis Badan Obat Norwegia.

Sebuah panel ahli Organisasi Kesehatan Dunia  tidak setuju. Panel tersebut mengatakan kematian “adalah sejalan dengan tingkat kematian yang diharapkan, semua penyebab dan penyebab kematian pada sub-populasi yang lemah, orang-orang yang berusia lanjut, dan informasi yang tersedia tidak memastikan sebuah peran kontribusi untuk vaksin dalam peristiwa fatal yang dilaporkan.”

Tetapi, satu pertanyaan yang tidak terjawab adalah apakah pasien-pasien yang lemah dan sudah pernah menderita COVID-19, mungkin menderita pukulan ganda yang menempatkan mereka pada risiko lebih besar saat divaksinasi. Pertama, mereka yang pernah terinfeksi COVID-19, lebih cenderung  menderita efek samping setelah vaksinasi, menurut laporan-laporan ilmiah. Kedua, kelemahan orang-orang yang berusia lanjut, mungkin membuat mereka kurang mampu menangani efek samping, seperti yang ditemukan oleh Badan Obat Norwegia pada beberapa pasien.

Di Amerika Serikat, laporan-laporan Sistem Pelaporan Efek Samping Akibat Vaksin memuat banyak kasus orang-orang yang berusia lanjut, orang-orang yang lemah lainnya yang menderita COVID-19, divaksinasi, dan meninggal dunia.

Seorang wanita di Ohio berusia 96 tahun dinyatakan positif COVID-19 pada bulan November, mendapatkan vaksin Pfizer pada 28 Desember 2020, di sebuah fasilitas rehabilitasi setelah jatuh, dan meninggal sore itu (kasus 915920-1).

Seorang pria Michigan berusia 94 tahun di sebuah fasilitas panti jompo yang menderita COVID-19 dan penyakit lainnya, menerima vaksin Moderna pada tanggal 2 Januari 2021, dan meninggal karena serangan jantung dua hari kemudian (kasus 918487-1).

Seorang wanita di Michigan berusia 91 tahun yang menderita Alzheimer dan penyakit lain di sebuah fasilitas panti jompo yang diuji positif COVID-19 menerima vaksin Moderna pada tanggal 30 Desember, 2020. Ia meninggal empat hari kemudian ( kasus 924186-1). Seorang wanita di California berusia 85 tahun menderita  Alzheimer dan gangguan lainnya di sebuah fasilitas panti jompo, menerima vaksin Pfizer BioNTech pada tanggal 5 Januari 2021, dan ditemukan meninggal pada hari yang sama. Setelah ia menerima vaksinasi, uji COVID-19 sebelumnya dari tanggal 3 Januari kembali positif, walaupun ia tidak menderita gejala apa pun (kasus 924456-1).

Dalam kasus lain, pasien-pasien yang berusia lanjut dan lemah, dinyatakan positif COVID-19 tidak lama setelah menerima vaksinasi.

Seorang wanita berusia 104 tahun di New York menerima vaksin Pfizer pada  30 Desember 2020. Hari berikutnya, uji COVID-19 dilakukan dan hasilnya adalah positif. Ia jatuh sakit hari berikutnya dan meninggal dunia pada tanggal 4 Januari 2021 (kasus 920832-1).

Dan, seorang pria di New York berusia 71 tahun menerima vaksin Moderna pada 21 Desember 2020, menderita demam dan gangguan pernapasan, dan dinyatakan positif COVID-19. Ia diberi obat Remdesivir. Ia meninggal setelah 6 hari (kasus 922977-1).

Sebuah subkomite keamanan vaksin Organisasi Kesehatan Dunia,  meninjau laporan kematian di antara orang-orang tua yang lemah setelah menerima vaksin Pfizer-BioNTech. Para anggota subkomite tersebut memutuskan, dua minggu lalu, tidak ada yang  memprihatinkan. 

“Keseimbangan manfaat-risiko [vaksin Pfizer-BioNTech] BNT162b2 tetap menguntungkan pada orang-orang yang berusia lanjut, dan tidak menyarankan revisi apa pun, saat ini, untuk anjuran seputar keamanan vaksin ini,” kata pejabat Organisasi Kesehatan Dunia itu.

Tanggapan Pfizer, Moderna, dan Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit AS

Menanggapi pertanyaan untuk laporan ini, Pfizer mengeluarkan pernyataan yang mengatakan: 

“Kami mengambil efek samping yang yang berpotensi terkait dengan vaksin COVID-19 milik kami, BNT162b2, dengan sangat serius. Kami memantau dengan cermat semua efek samping tersebut dan mengumpulkan informasi yang relevan untuk dibagikan dengan  pihak berwenang pengatur global. Berdasarkan tinjauan keamanan berkelanjutan yang dilakukan oleh Pfizer, BioNTech dan pihak berwenang kesehatan, BNT162b2 mempertahankan sebuah profil manfaat-risiko yang positif untuk pencegahan infeksi COVID-19.”

Pfizer mengatakan bahwa jutaan orang telah divaksinasi dan “efek samping yang serius, termasuk kematian yang tidak terkait dengan vaksin, sayangnya cenderung terjadi di  tingkat yang sama seperti pada populasi umum.”

Pfizer tidak menjawab, apakah pihaknya telah menyimpulkan bahwa kematian-kematian itu mungkin terkait dengan vaksinasi.

Pfizer juga tidak menjawab apakah pihaknya telah melihat kluster-kluster kematian, atau mencatat pola  atau bidang apa pun yang menjadi perhatian. Dan, Pfizer tidak akan mengatakan apakah pihaknya menganjurkan orang-orang yang baru-baru ini atau saat ini terinfeksi COVID-19, mendapatkan vaksinasi.

Moderna tidak menjawab pertanyaan atau permintaan informasi dan komentar dari kami. Saat ini, Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit AS menganjurkan vaksinasi untuk orang-orang yang pernah menderita  Coronavirus.

Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit AS, tidak secara langsung menjawab pertanyaan apakah aman bagi orang-orang untuk mendapat vaksinasi saat mereka menderita infeksi COVID-19 yang aktif. 

Seorang juru bicara Pusat  Pencegahan dan Pengendalian Penyakit AS mengatakan,  menunda vaksinasi adalah disarankan dalam kasus tersebut, tetapi tidak disebutkan apakah hal tersebut karena masalah keamanan.

“Vaksinasi orang-orang dengan infeksi SARS-CoV-2 saat ini harus ditunda sampai orang-orang tersebut telah sembuh dari penyakit akut tersebut (jika mereka menderita gejala) dan mereka memenuhi kriteria untuk menghentikan isolasi,” kata Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit. 

“Anjuran ini berlaku untuk orang-orang yang menderita infeksi SARS-CoV-2 sebelum menerima dosis vaksin apa pun serta mereka yang menderita infeksi SARS-CoV-2 setelah dosis pertama vaksin tetapi sebelum menerima dosis kedua vaksin.” (Vv)

Sharyl Attkisson adalah penulis buku terlaris New York Times “Stonewalled”, pemenang Emmy Award lima kali, dan pembawa acara program televisi investigasi nasional Sinclair “Full Measure with Sharyl Attkisson”

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Most Popular