Monday, December 6, 2021
HomeNEWSINTERNATIONALDunia Sedang Alami Kekurangan Chip, Ahli Imbau Agar Jalur Produksi Dibawa Kembali...

Dunia Sedang Alami Kekurangan Chip, Ahli Imbau Agar Jalur Produksi Dibawa Kembali ke AS

oleh Emel Akan

Pemerintah Barat telah mendapat pelajaran dari pengalaman menyakitkan akibat terputusnya produksi, sehingga terdorong untuk membentuk rantai pasokan yang lebih fleksibel dan beragam. Presiden AS, Joe Biden berjanji untuk secepatnya mengambil tindakan, mungkin akan memberikan perlakuan istimewa bagi produsen chip dalam negeri.

Permintaan produk elektronik konsumen meningkat tajam selama epidemi, menyebabkan  chip semikonduktor berkurang. Khususnya produsen mobil yang paling terpukul akibat situasi ini. General Motors dan Ford Motor, telah menutup sementara beberapa pabrik sebagai tanggapannya.

Membangun pabrik semikonduktor baru adalah proses yang sangat kompleks dan mahal, inilah hal yang mempersulit produsen chip untuk secara cepat memperluas skala kapasitas produksi baru.

“Pandemi COVID-19 telah mengganggu pola penawaran dan permintaan di banyak industri, dan kita mulai melihat akibatnya”, kata Stephen Ezell, Wakil Presiden Information Technology and Innovation Foundation (ITIF).

Stephen Ezell kepada Epoch Times menuturkan : “Karena permintaan chip untuk mobil pulih lebih cepat dari yang diharapkan, jadi pembuat mobil pada musim panas tahun lalu tidak membuat pesanan chip yang cukup untuk persedian. Sedangkan periode jeda antara pesanan dan pengiriman chip, mencapai 26 minggu. Produsen mobil sekarang menemukan bahwa pihaknya kesulitan chip”.

Stephen menjelaskan bahwa inti permasalahannya adalah industri otomotif membutuhkan chip yang dibuat dengan wafer 200mm, sedangkan wafer 200mm adalah generasi yang lebih tua dari wafer 300mm. Pembuat mobil lebih memilih chip yang lebih matang dan biaya yang sedikit lebih rendah. Namun demikian, banyak perusahaan semikonduktor lebih berfokus pada produksi chip canggih yang lebih menguntungkan. Hal ini, menyebabkan kekurangan pasokan untuk pembuat mobil.

Sekretaris Pers Gedung Putih Jen Psaki mengatakan bahwa, pemerintahan Biden telah mengumumkan rencana untuk mengambil tindakan secepatnya untuk menyelesaikan masalah ini. Namun demikian, pertama-tama akan melakukan “tinjauan komprehensif” terhadap industri pasokan utama.

“Pemerintah saat ini sedang mengidentifikasi dimana tempat penyumbatan dalam rantai pasokan itu terjadi”, kata Psaki kepada wartawan pada 11 Februari.

Biden diperkirakan akan menandatangani perintah eksekutif dalam beberapa minggu mendatang, yang meminta pemerintah untuk meninjau celah dalam rantai pasokan AS.

Psaki menambahkan, setelah peninjauan tersebut, pemerintah dapat mempertimbangkan berbagai opsi kebijakan, termasuk mendorong produksi dalam negeri dan bekerja sama dengan sekutu untuk mengembangkan rencana terkoordinasi, itu guna mengatasi potensi gangguan pasokan yang mungkin terjadi di masa mendatang.

Beberapa laporan media mengklaim bahwa kebijakan era Trump telah memperburuk kekurangan chip di AS. Pemerintahan Trump telah memasukkan produsen chip Tiongkok SMIC ke dalam daftar hitam ekspor pada  Desember 2020.

Namun, Stephen Ezell menjelaskan : “Sanksi AS terhadap SMIC tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan kekurangan chip di AS”.

“Kalau ditanya intinya, merkantilisme komunis Tiongkok di bidang inovasi sedang merajalela, mengganggu kekuatan inovasi industri chip dan merusak kemampuan industri untuk terus berinovasi dengan kecepatan tinggi. Kalau mengatakan bahwa sanksi AS terhadap SMIC adalah bagian dari masalah, itu sebuah kekeliruan”.

Para eksekutif dan ahli industri menyerukan, alih-alih menghapus sanksi terhadap komunis Tiongkok, lebih baik menerapkan dan mendanai sepenuhnya “Chip Act”, yang termasuk dalam Undang-Undang Pertahanan Nasional 2021 yang ditandatangani pada bulan Januari. RUU tersebut memberi wewenang kepada pemerintah federal untuk memberikan tindakan preferensial kepada produsen chip domestik di Amerika Serikat.

Kepala eksekutif perusahaan semikonduktor besar AS, mengirim surat kolektif kepada Biden pada 11 Februari, mendesak pemerintahannya memberikan insentif yang substansial dalam bentuk subsidi federal dan atau keringan pajak, tak lain kepada produsen chip domestik dan penelitian dasar dan terapan semikonduktor di Amerika Serikat.

“Kami percaya bahwa pemerintah perlu mengambil tindakan yang berani untuk memenuhi tantangan yang sedang dihadapi. Biaya dari tidak berbuat sesuatu adalah tinggi”, kelompok itu mengingatkan.

Menurut isi surat tersebut, pangsa Amerika Serikat dalam industri manufaktur semikonduktor global, telah turun dari 37% pada tahun 1990 menjadi 12% saat ini. Ini terjadi, terutama karena banyaknya insentif dan subsidi yang diberikan oleh pemerintah lain yang berhasil menurunkan  daya saing Amerika Serikat.

Taiwan, negara besar produksi chip 

Kekurangan chip otomotif di dunia telah meningkatkan kepentingan strategis Taiwan bagi pemerintah Barat. Industri semikonduktor Taiwan adalah industri semikonduktor terbesar kedua di dunia dalam hal perputaran setelah Amerika Serikat. Pembuat chip kontrak terbesar di dunia, Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC) dan perusahaan Taiwan lainnya, telah mulai meningkatkan produksi chip penting untuk mengatasi masalah kekurangan chip global.

Meskipun diisolasi oleh pemerintah komunis Tiongkok secara diplomatis, Taiwan telah berhasil menempatkan diri sebagai pusat keahlian, kekayaan intelektual, dan pentingnya industri semikonduktor global, kata Rupert Hammond-Chamber, ketua Dewan Bisnis AS-Taiwan kepada Epoch Times.

Dia mengatakan bahwa, Amerika Serikat dapat melihat hasil dari inisiatif ekonomi baru yang dimulai pada tahun terakhir pemerintahan Trump dan dialog positif dengan Taiwan.

Pada Mei 2020, TSMC mengumumkan bahwa mereka akan membangun pabrik pembuatan chip 5-nanometer paling canggih di dunia di Negara Bagian Arizona, AS. Ini merupakan langkah penting dalam membawa produksi dan lapangan kerja ke Amerika Serikat.

“Dibandingkan dengan TSMC, skalanya kecil, tapi masih relatif besar. Produsen chip Taiwan lainnya juga sudah mengumumkan akan datang ke Amerika Serikat untuk membangun pabrik. Jadi ada efek domino”, kata Hammond-Chambers.

Kekurangan chip telah memengaruhi banyak merek mobil lain, termasuk Volkswagen, Toyota dan Nissan. Menurut para ahli, kekurangan pasokan chip justru datang tepat pada saat dimana industri otomotif sedang bekerja keras untuk menutupi semua kerugian dalam produksi tahun lalu. Sekarang, mereka sedang dalam situasi permintaan konsumen mobil global sedang meningkat.

Paul Eisenstein, penerbit majalah online otomotif ‘The Detroit Bureau’ mengatakan bahwa, kekurangan chip dapat berlanjut hingga akhir bulan September tahun ini.

“Semua orang (di industri otomotif) menjadi ‘gila’ sekarang, perang sengit penawaran harga di antara produsen di seluruh dunia dan di berbagai pasar sedang terjadi”, kata Paul kepada New Tang Dynasty. (sin)

Video Rekomendasi :

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Most Popular