Monday, December 6, 2021
HomeSERBA SERBIPria Diperintahkan untuk Membayar Mantan Istrinya Lebih dari Rp 1 Miliar untuk...

Pria Diperintahkan untuk Membayar Mantan Istrinya Lebih dari Rp 1 Miliar untuk Pekerjaan Rumah Tangga yang Dilakukan Selama 30 Tahun Pernikahan Mereka

Erabaru.net. Mahkamah Agung Portugal telah memerintahkan seorang pria untuk membayar mantan istrinya 60.000 euro (sekitar Rp 1.045 miliar) sebagai kompensasi atas pekerjaan rumah tangga yang dia lakukan selama pernikahan mereka selama tiga dekade.

Ada suatu masa ketika pekerjaan rumah tangga dianggap sebagai tugas seorang istri, namun masa-masa tersebut sudah lama berlalu, terbukti dengan banyaknya putusan pengadilan yang berpihak pada ibu rumah tangga yang meminta kompensasi dari mantan pasangannya.

Kasus terbaru datang dari Portugal, di mana Mahkamah Agung baru-baru ini memutuskan bahwa seorang wanita berhak atas kompensasi Rp 1,045 miliar dari mantan suaminya karena melakukan kegiatan rumah tangga seperti memasak dan bersih-bersih selama 30 tahun pernikahan mereka.

Putusan yang dikeluarkan pada 14 Januari dan diliput oleh media Portugal pada Februari itu mengakhiri persidangan panjang di mana kedua mantan pasangan itu saling melawan di berbagai pengadilan di sekitar Portugal.

Awalnya, sang istri meminta setidaknya 240.000 euro (sekitar Rp 4,1 miliar) untuk semua pekerjaan yang dia lakukan secara gratis selama pernikahan mereka, tetapi klaimnya ditolak oleh pengadilan di Barcelos, yang memutuskan bahwa dia tidak berhak atas kompensasi finansial apa pun.

“Karena pekerjaan yang dihabiskan di rumah tidak secara hukum diwajibkan di bawah serikat de facto, ketentuannya sebagai kontribusi untuk ekonomi bersama dikonfigurasi sebagai pemenuhan kewajiban alamiah secara spontan,” tulis Hakim di Barcelos dalam keputusan mereka.

Wanita itu mengajukan banding ke Pengadilan Banding, yang kali ini memenangkannya, memberinya kompensasi sebesar 60.000 euro.

Mantan pasangannya menantang keputusan di Mahkamah Agung, yang mempertahankan keputusan sebelumnya dan memerintahkan dia untuk memberi kompensasi kepada mantan istrinya untuk semua pekerjaannya.

Pengadilan memutuskan bahwa meski tetap tidak terlihat, pekerjaan rumah memiliki nilai ekonomi yang jelas, karena diterjemahkan sebagai sesuatu yang memperkayanya dengan menghemat biaya.

“Tuntutan untuk kesetaraan telah lama melekat pada gagasan keadilan, jadi tidak mungkin untuk mempertimbangkan bahwa semua atau sebagian besar pekerjaan rumah di sebuah rumah, dari anggota serikat de facto, sesuai dengan pemenuhan sebuah kewajiban alamiah, yang didasarkan pada kewajiban keadilan, ”bunyi putusan itu.

“Sebaliknya, tugas semacam harusnya dilakukan secara adil dan sama rata, tanpa mengurangi kemungkinan bahwa salah satu dari pasangannya secara suka rela menyetujui jika salah satu dari mereka tidak berkontribusi pada pekerjaan rumah tangga mereka, namun secara logika tetap mengkhususkan kontribusi masing-masing dalam rumah tangga. ”

Terbukti selama 30 tahun pasangan tersebut menikah, sang istrilah yang mengurus rumah dan menyiapkan makanan pasangannya.

Mahkamah Agung berpendapat bahwa hal ini memperkaya pasangannya yang tidak berpartisipasi dalam pekerjaan rumah tangga, karena memungkinkan mereka untuk mendapatkan keuntungan dari hasil kegiatan ini tanpa biaya atau kontribusi.

Pengadilan menetapkan nilai finansial dari pekerjaan rumah tangga yang dilakukan oleh wanita tersebut dengan menggunakan kriteria upah minimum nasional, dikalikan dengan 12 bulan, selama 30 tahun pernikahan. Sepertiga dari jumlah itu dikurangi sebagai pengeluaran wanita selama periode itu.

Beberapa bulan yang lalu, kasus yang sangat mirip tentang seorang wanita di Tiongkok yang diberi kompensasi atas pekerjaan rumah yang dia lakukan selama lima tahun pernikahannya. (lidya/yn)

Sumber: odditycentral

Video Rekomendasi:

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Most Popular