fbpx
Tuesday, December 7, 2021
HomeBERITA TIONGKOKPakar Politik : Xi Jinping yang Disebut Bannon Sebagai Kaisar Terakhir Tiongkok...

Pakar Politik : Xi Jinping yang Disebut Bannon Sebagai Kaisar Terakhir Tiongkok Sedang Mempertaruhkan Nyawanya

Secret China 

Hubungan antara Washington dengan Beijing, menurut pernyataan Steve Bannon baru-baru ini, bahwa Xi Jinping akan menjadi kaisar Tiongkok yang terakhir. Tahun depan, Xi Jinping akan menghadapi Kongres Nasional ke-20  Partai Komunis Tiongkok dan tantangan apakah dirinya masih akan terus menjabat sebagai Sekjen PKT atau digulingkan ? Bagaimana mengamati masalah ini ? 

Ming Juzheng, seorang pakar politik asal Taiwan mengatakan, bahwa kandidat yang paling berpotensi untuk menggantikan Xi Jinping dalam Kongres Nasional ke-20 Partai Komunis Tiongkok , tak lain adalah Xi Jinping sendiri. 

Inti dari perebutan kekuasaan di Kongres ke-20 tahun depan adalah soal apakah Xi Jinping akan dipertahankan atau dilengserkan. Karena itu, apakah Xi menjadi kaisar Tiongkok yang terakhir ? Mari kita pantau bersama.

Dalam acara TV ‘年代向钱看’ (dibaca : Nian dai xiang qian kan) Ming Juzheng mengatakan, sesuai jadwal yang ditetapkan PKT, Kongres Nasional ke-20 harus diadakan antara bulan September hingga November 2022. Dan, Xi Jinping wajib menyerahkan tongkat kepemimpinan untuk ditentukan siapa penggantinya. Namun, apakah tongkat akan diserahkan ? Apakah Xi mau menyerahkan tongkat ? 

Sejauh ini kontroversial masih terjadi. Banyak orang mungkin akan mengatakan bahwa hal ini sebaiknya dibicarakan pada tahun depan saja. Bertanya, apakah tidak terlalu dini untuk membahasnya sekarang ? 

Ming Juzheng mengatakan : “Tidak ! Setiap kali PKT menghadapi pergantian pemimpin atau perubahan kekuasaan yang sangat menentukan kepentingan kelompok seperti ini, umumnya konfrontasi sengit antar kelompok sudah mulai terjadi 1 atau 2 tahun sebelumnya”.

Ming Juzheng mengambil contoh artikel yang dimuat oleh media resmi Beijing ‘Majalah Qiushi’ yang berjudul ‘Perlunya menjaga persatuan dan sentralisasi kepemimpinan yang menentukan sukses tidaknya partai’. 

Penulisnya adalah Zhang Qingli, Wakil Ketua Konferensi Konsultatif Politik Rakyat Tiongkok yang juga merangkap jabatan Wakil Sekretaris Partai. Sudah jelas bahwa, penulis adalah pejabat yang dengan tegas ingin mempertahankan status sentral Xi Jinping dalam Komite Sentral Partai, ingin tetap menjaga otoritas Komite Sentral Partai dengan kepemimpinan yang terpusat dan terpadu. Tulisannya persis sama seperti keinginan Xi Jinping yang kerap diucapkan dalam berbagai kesempatan.

Ming Juzheng juga menyinggung soal 2 orang pemimpin dalam PKT di masa lalu yang sengaja digambarkan sebagai figur negatif oleh penulis artikel tersebut, satu adalah Zhang Guotao dan yang lainnya adalah Wang Ming, karena mereka pernah menentang Komite Sentral Partai yang ingin menempatkan individu di atas kepentingan Komite Sentral. 

Kita semua tahu bahwa PKT biasa menggunakan kejadian di masa lampau, untuk mencerminkan situasi yang sedang dihadapi sekarang. Jadi, tulisan ini mencerminkan bahwa sedang ada perpecahan dalam tubuh PKT.

Ming Juzheng menjelaskan : Pertama, Xi Jinping mungkin saja tidak ingin lengser, sedangkan PKT selalu memberikan perhatian besar pada panduan opini dan pemikiran publik. Oleh karena itu, sebelum terjadinya sebuah peristiwa besar, pembimbingan terhadap opini publik akan berjalan terlebih dahulu, itu diharapkan bisa membuka jalan pikiran dan opini bagi publik. Kedua, untuk menunjukkan kepada publik bahwa ada orang jahat dalam partai dan militer yang berusaha menghalang-halangi Xi Jinping terpilih kembali.

Ming Juzheng melanjutkan : Akankah Xi Jinping mundur atau terpilih kembali ? Sebenarnya, sejak Xi berkuasa, ia telah melanggar banyak konvensi yang telah ditetapkan oleh partai, jadi tidak mengherankan jika ia kembali melanggar konvensi lain. 

Tetapi, alasan topik tersebut dimunculkan sekarang adalah karena Xi telah melanggar konvensi penting di Kongres Nasional ke-19 Partai Komunis Tiongkok, yaitu setelah Insiden 4 Juni 1989, demi menstabilkan situasi waktu itu, Deng Xiaoping memutuskan untuk membentuk suksesi dan beberapa aturan terkait, yang intinya adalah Sekjen PKT hanya menjabat paling lama 2 periode atau 10 tahun.

Namun, kata Ming Juzheng bahwa rumor yang beredar di kalangan warga sipil pada waktu itu adalah Sun Zhengcai, yang berpotensi ditunjuk menggantikan kedudukan Xi Jinping dan Li Keqiang. Namun setelah ia dilengserkan, Xi tidak lagi menunjuk penerus baru. Hal ini jelas melanggar konvensi partai. Semua orang mulai berspekulasi bahwa itu mungkin Li Qiang atau Chen Miner atau yang lain, tetapi setelah “tengok sana tengok sini” tidak menemukan kandidat yang cocok. Mungkin Xi Jinping berpikir : Biarlah orang yang bernama Xi Jinping sajalah yang menerima tongkat estafet kepemimpinan Xi Jinping. 

Tetapi bagaimana caranya ?  Cara pertama adalah merevisi langsung konstitusi partai dengan menghapus batasan lebih dari dua periode. Cara kedua adalah menyediakan jabatan ketua yang memiliki wewenang lebih besar dari sekretaris jenderal, kemudian Xi yang menduduki jabatan ketua tersebut.

Ming Juzheng juga mengatakan bahwa dalam pertemuan Kongres Rakyat Nasional dan CPPCC tahun 2018, masa jabatan ketua dan wakil ketua diperpanjang sesuai keinginan Xi Jinping dengan menghilangkan sistem tenurial yang sudah ditetapkan partai, sehingga semua orang mengatakan Xi Jinping mau menjadi kaisar Tiongkok. 

Padahal, dalam sistem pemerintahan komunis Tiongkok, jabatan ketua dan wakil ketua tidak begitu penting. Yang penting adalah posisi sekretaris jenderal partai dan ketua komite militer. Jadi, saat ini Xi belum bisa dijuluki Kaisar, tetapi jika Xi terpilih kembali tahun depan, maka julukan itu bisa disandangkan.

Ming Juzheng percaya bahwa sedikitnya ada 4 kelompok orang yang anti-Xi Jinping. Dan kelompok ketiga adalah yang paling berbahaya, yaitu kelompok barisan dari para generasi kedua dan ketiga dari mantan petinggi PKT, di masa lalu yang sudah sukses di bidang bisnis, memiliki kekuatan dana, relasi kekuasaan, ruang gerak yang relatif lebih besar dan bebas. 

Inilah kelompok yang lebih ditakuti dan perlu secepatnya diatasi. Mereka-mereka ini seperti Wu Xiaohui, Xiao Jianhua, Wang Jian, Jack Ma, Liu Chuanzhi, Wang Xing dan sebagainya.

Menurut analisis Ming Juzheng, di satu sisi, Xi Jinping menggunakan pembasmian korupsi sebagai senjata, manipulasi pajak untuk melemahkan pengaruh mereka. Di sisi lain, perang dagang membutuhkan dana. Ketiga, inti masalahnya adalah Xi Jinping percaya, bahwa mereka-mereka ini paling berpotensi membuat gangguan bahkan menggulingkan rencananya. 

Jadi, rasa tidak aman Xi Jinping sebagian besar karena orang-orang ini. Itulah sebabnya, Xi memilih untuk membedah mereka dengan menyita uang mereka, tetapi yang lebih penting adalah memenangkan perebutan kekuasaan.

Ming Juzheng menyimpulkan bahwa, perebutan kekuasaan akan terjadi pada waktu menjelang atau sesudah berlangsungnya Kongres Nasional ke-20 tahun depan. Masalahnya sekarang bukan soal apakah Xi Jinping akan tetap menjabat kedudukan kepala negara atau dilengserkan. 

Tetapi, masalah yang tidak kalah penting adalah apakah Xi Jinping dapat bertahan secara politik, atau bahkan menyelamatkan nyawa sendiri pun sulit. Jadi, apakah ia akan menyandang predikat kaisar Tiongkok terakhir ? Mari kita pantau bersama. (sin)

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Most Popular