Tuesday, November 30, 2021
No menu items!
HomeBERITA TIONGKOKKomputasi Awan, Ajang Persaingan Baru AS dengan Komunis Tiongkok

Komputasi Awan, Ajang Persaingan Baru AS dengan Komunis Tiongkok

oleh Lin Yan

Justin Sherman, seorang peneliti dan pakar urusan internasional di lembaga pemikir Amerika ‘Atlantic Council’ mengatakan  bahwa komputasi awan adalah bidang yang dilirik oleh komunis Tiongkok dan Amerika Serikat dan akan menjadi front persaingan baru dalam beberapa tahun mendatang. 

Investasi besar komunis Tiongkok di dalam dan luar negeri telah menjadikannya pemain dalam persaingan merebut hegemoni komputasi awan.

Kasus terbaru adalah pada akhir tahun 2020, grup telekomunikasi terbesar di negara-negara Teluk ‘Saudi Telecom’ telah mengumumkan kerja sama dengan Alibaba Cloud dari Tiongkok untuk membantu Arab Saudi membangun infrastruktur komputasi awannya.

Menurut data yang dikumpulkan oleh lembaga riset ‘Canalys’ bahwa komunis Tiongkok telah menjadi pasar komputasi awan terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat. 

Pada tahun 2020, pengeluaran komputasi awan mereka telah mencapai USD. 19 miliar, yang menyumbang sekitar 13% dari total pengeluaran komputasi awan global pada tahun 2020. Sedangkan pengeluaran komputasi awan  Amerika Serikat menyumbang 46% dari total pengeluaran global.

“Beijing sangat ambisius, menganggap komputasi awan sebagai masa depan”

Tidak seperti pengeluaran komputasi awan Amerika Serikat yang sebagian besar bergantung pada kekuatan perusahaan dan jalur pengembangan swasta, tetapi pengeluaran komputasi awan komunis Tiongkok sebagian besar bergantung pada kekuatan pemerintah, pendanaan pemerintah. 

Pada  Mei tahun lalu, pemerintah komunis Tiongkok menyatakan bahwa berdasarkan rencana untuk merealisasikan “infrastruktur baru”, pemerintah komunis Tiongkok akan mengalokasikan USD. 1,4 miliar ke platform teknologi untuk mengembangkan layanan komputasi awan domestik.

Winston Ma, penulis buku ‘Digital War : How China’s Tech Power Shapes the Future of AI, Blockchain, & Cyberspace’  atau Perang Digital : Bagaimana Kekuatan Teknologi China Membentuk Masa Depan AI, Blockchain, & Dunia Maya” berkomentar soal ini.

Dia mengatakan kepada ‘Financial Times’ bahwa konsep dari “infrastruktur baru” itu sangat luas, setara dengan investasi Tiongkok dalam perkeretaapian cepat pada tahun 2007. Ini adalah sarana untuk merangsang pertumbuhan ekonomi selama krisis.

Alibaba Cloud, Tencent Cloud, dan Baidu Netdisk semuanya mendapat manfaat dari pendanaan komputasi awan dari pemerintah komunis Tiongkok. Namun, perusahaan asing pada dasarnya tidak diperbolehkan masuk dan tidak dapat menikmati hak yang sama dengan yang dinikmati perusahaan Tiongkok di luar negeri.

Selain itu, Beijing memiliki rencana untuk memperluas pengaruhnya ke luar negeri dengan mencari bisnis di Asia Tenggara, Afrika, Australia, Eropa, dan Amerika Serikat.

Wenhong Chen dari Departemen Radio, Film dan Televisi dan Departemen Sosiologi di Sekolah Komunikasi Universitas Texas mengatakan kepada ‘Financial Times’ bahwa dalam hal komputasi awan, komunis Tiongkok selalu sangat ambisius. Mereka memandangnya sebagai masa depan. 

Menurut Wenhong Chen kebijakan pemerintah komunis Tiongkok yang memprioritaskan perusahaan mereka telah menyulitkan pesaing dari negara asing seperti Amazon dan Google untuk memasuki pasar Tiongkok, meskipun jika mereka telah mencoba yang terbaik.

Menjadi bagian penting dari mengekspor “One Belt One Road” dengan harga rendah

Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa penyedia komputasi awan Tiongkok berharap dapat mencapai tujuan mereka melalui persaingan harga (yang merupakan faktor kunci di Eropa dan Australia serta transaksi kesamaan budaya, sebuah hal penting bagi pelanggan di Asia Tenggara.

Penulis buku ‘Perang Digital’ Winston Ma mengatakan bahwa ekspansi Beijing ini adalah bagian penting dari Inisiatif One Belt One Road – OBOR mereka. Inisiatif One Belt One Road selain dimanfaatkan untuk mengekspor proyek infrastruktur ke dunia luar, tetapi juga merupakan inti dari kebijakan luar negeri pemimpin Tiongkok, Xi Jinping.

“Komputasi awan dapat mendigitalkan negara-negara yang berpartisipasi dalam proyek One Belt One Road dan membangun hubungan perdagangan yang kuat dengan Tiongkok,” kata Winston Ma.

Selain itu, langkah ini akan memberikan kemungkinan bagi komunis Tiongkok untuk berpartisipasi dalam pengembangan standar industri terkait komputasi awan di negara tuan rumah, yang nantinya dapat memengaruhi aturan internasional di masa mendatang untuk berbagi awan dan perlindungan data.

Winston Ma menilai jika sampai di kemudian hari terkait dengan standar aturan internasional, maka dampaknya sangat besar.

Rencana ekspansi komputasi awan komunis Tiongkok menghadapi lebih banyak hambatan

Rencana ekspansi komputasi awan komunis Tiongkok mengalami peningkatan hambatan. Para ahli mengatakan bahwa meskipun Gedung Putih yang sekarang dipimpin oleh Joe Biden telah menyingkirkan bahasa keras era mantan presiden Donald Trump, Amerika Serikat masih bertekad untuk menolak masuknya Beijing ke komputasi awan.

Dipengaruhi oleh ketegangan perdagangan antara komunis Tiongkok dengan Amerika Serikat, persaingan geopolitik, dan pasar domestik Tiongkok yang relatif kurang berpengalaman, menjadi faktor-faktor yang menghambat ambisi pengembangan komputasi awan Beijing. Lebih penting lagi, penyedia layanan awan Tiongkok belum matang seperti Amazon dan tidak dapat menyediakan layanan homogen dan mendapatkan kepercayaan.

“Kebijakan dan pengoperasian awan telah menjadi masalah kontroversial dalam hubungan bilateral Amerika Serikat dengan Tiongkok. Perselisihan sebenarnya berkaitan dengan siapa yang akan menjadi pemenang dari pengembangan teknologi mutakhir generasi berikutnya,” kata Wenhong Chen. 

Pada  Agustus tahun lalu, Mike Pompeo, yang saat itu menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Amerika Serikat mengusulkan tindakan keras terhadap perusahaan teknologi Tiongkok yang mencuri data Amerika Serikat, termasuk membatasi grup komputasi awan Tiongkok yang mungkin beroperasi di Amerika Serikat. Pompeo juga mendorong negara lain untuk menindaklanjuti dan bersama-sama memboikot perusahaan teknologi Tiongkok dikendalikan oleh pemerintah komunis Tiongkok.

Menurut Wenhong Chen, langkah ini merupakan bagian dari strategi pemerintahan Trump. Tujuannya adalah untuk menarik partisipasi sekutu Eropa dan memungkinkan Australia dan Kanada untuk melarang jaringan 5G Huawei di pasar nasional masing-masing, termasuk menargetkan penyedia komputasi awan.“Meskipun ucapan Biden tidak sekeras Trump, tetapi kebijakan (yang membatasi pergerakan komunis Tiongkok) masih terus berjalan,”kata Wenhong Chen. 

Selain itu, ketegangan antara India dengan komunis Tiongkok karena masalah perbatasan menyebabkan New Delhi memasukkan puluhan aplikasi yang dikembangkan Tiongkok ke daftar hitam dan membatasi investasi terkait komputasi awan.

“Pemerintah India berharap perusahaan domestiknya juga dapat mengembangkan teknologi cloud sendiri. India dan negara-negara lainnya juga menganggap ekspansi komunis Tiongkok  ini sebagai kolonialisme digital,” kata Justin Sherman dari wadah pemikir ‘Atlantic Council’ Amerika Serikat. (sin)

 

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments