fbpx
Tuesday, December 7, 2021
HomeSTORYCERITA KEHIDUPANPria 75 tahun Tanpa Tangan dan Kaki Merawat Ibunya yang Berusia 105...

Pria 75 tahun Tanpa Tangan dan Kaki Merawat Ibunya yang Berusia 105 Tahun, “Dia Adalah Ibuku, yang Melahirkan dan Membesarkanku!”

Erabaru.net. Karena sakit di usia muda, dia kehilangan kedua telapak tangan dan kakinya, dia berjalan dengan lututnya selama 70 tahun. Sekarang, di usia 75 tahun, dia tidak hanya menghidupi dirinya sendiri, tapi juga merawat ibunya yang berusia 105 tahun.

Di daeraha Guihuaqiao, Provinsi Sichuan, Tiongkok, Cai Dongfeng, pria cacat berusia 75 tahun telah menjadi populer di Internet,

Di pagi yang cerah, Shi Guilan yang berusia 105 tahun duduk di kursi di serambi rumahnya. Di sampingnya, Cai Dongfeng yang berusia 75 tahun sedang berjuang untuk memotong bambu yang baru saja ditebang.

Memanfaatkan cuaca yang baik, Cai Dongfeng berencana membuat rak untuk kacang merah yang ditanam di ladang sayuran.

Setelah memotong tiga atau empat bambu, Cai Dongfeng meletakkan parang dan melirik arloji di lengan atasnya.

“Oh, sudah hampir jam 12 ”, Cai Dongfeng berjalan dengan lutut beberapa langkah, mendekati ibunya yang sudah tua itu dan bertanya dengan keras,: “Bu, apakah kamu lapar?”

Ibunya yang sudah tua itu tidak menjawab. Cai Dongfeng bergumam,: “Sudah hampir waktunya, saatnya untuk makan.”

Meski tidak ada anggota tubuh, Cai Dongfeng akrab dengan semua pekerjaan rumah. Memetik sayuran, menyuci sayuran, memotong sayuran,dan memasak.

Cai Dongfeng mengisi mangkuk untuk makan ibunya dengan nasi, dan memasukkan banyak daging dan sayuran ke dalam mangkuk.

Duduk di meja persegi kecil, Dongfeng sambil menyuapi ibunya, mereka saling bercakap-cakap.

Kadang-kadang suara Cai Dongfeng sangat keras, dan ibu tua itu menjadi kesal, : “Jangan berteriak!”

Cai Dongfeng tersenyum dan berkata,: “Aku tidak berteriak, aku khawatir kamu tidak bisa mendengarku dengan jelas!”

Setelah makan siang, Shi Guilan pindah untuk duduk di kursi serambi rumah. Cai Dongfeng meletakkan piring dan sumpit, kemudian menuangkan setengah baskom air panas, mencelupkan dua handuk dan memeras, kemudian menyerahkannya kepada ibu tua. “Ayo, cuci muka!” Pinta Dongfeng pada ibunya.

Cai Dongfeng, ketika berusia 4 tahun, nasib buruk tiba-tiba datang. Karena saat itu keluarganya kesulitan keuangan, Cai Dongfeng yang sakit dan tidak dioabti, dan untuk menyelamatkan nyawanya, dia harus diamputasi semua tangan dan kakinya.

Cai Dongfeng tidak dapat mengingat dengan tepat bagaimana dia melalui masa kecilnya. Karena kondisinya, dia mulai belajar di sekolah dasar setempat saat berusia 10 tahun, dan dia juga membantu keluarganya dengan pekerjaan rumah.

Saat Cai Dongfeng baru berusia 12 tahun, dia mengalami pukulan yang sangat berat, ayahnya meninggal dan dia harus putus sekolah untuk menjaga adiknya di rumah.

Cai Dongfeng berkata: “Selalu harus ada seseorang untuk menjaga orang-orang di rumah ini.”

Meskipun cacat dan sekolah tidak sampai lulus Cai Dongfeng secara alami adalah anak yang pinter, dia telah menjadi tukang catat dan bagian keuangan di sebuah pabrik di desanya. Dia telah bekerja selama lebih dari 20 tahun.

Kemudian, dia menanami dua setengah hektar lahannya sendiri, menanam padi di paruh pertama tahun dan sayuran di paruh kedua tahun.

Menurut Cai Dongfeng, dia memakai sepasang sepatu khusus di bawah lututnya, semuanya dibuat sendiri. Umumnya, satu pasang akan menjadi usang dalam tiga atau empat bulan. Sejauh ini, mungkin ada lebih dari 200 pasang sepatu yang sudah usang.

Untuk hidup, Cai Dongfeng telah melakukan hampir segalanya. Karena kondisi fisiknya Cai Dongfeng tidak pernah menikah.

Setelah dua adik perempuannya menikah, hanya dia dan ibunya yang tersisa di keluarganya. Dia mencurahkan seluruh energinya untuk merawat ibunya yang sudah tua.

Cai Dongfeng mengatakan bahwa kedua adik perempuan itu sudah tua, dan dia bisa merawat ibunya dengan baik.

“Dia adalah orang yang luar biasa!” Ketika mengacu pada Cai Dongfeng, tetangganya, Xiao Shufen mengacungkan jempol dan mengatakan bahwa meskipun dia tidak memiliki tangan atau kaki, dia tetap pandai mencuci, memasak, dan bertani, terutama menghormati ibunya.

Namun, seiring bertambahnya usia, Cai Dongfeng juga merasa pekerjaannya tidak sebaik dulu. Ketika ibunya semakin tua, dia sering kehilangan kesabaran. Cai Dongfeng terkadang merasa kesal, tapi, “Aku hanya bisa menahannya dan membujuk, karena dia adalah seorang ibu.”

Mendengar bahwa berita tentang dirinya yang telah merawat ibunya telah tersebar di platform online , Cai Dongfeng tersenyum malu-malu: “Apa yang mau dipromosikan! Dia adalah ibuku, dia melahirkanku dan membesarkanku, jika aku tidak menyayanginya, siapa yang akan menyayanginya !” (lidya/yn)

Sumber: nnewsr

Video Rekomendasi:

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Most Popular