Tuesday, November 30, 2021
No menu items!
HomeBERITA TIONGKOKDemonstrasi anti Rezim Komunis Skala Besar Meledak di Kuba, Apakah Membuat Komunis...

Demonstrasi anti Rezim Komunis Skala Besar Meledak di Kuba, Apakah Membuat Komunis Tiongkok Takut ?

Wang Ziqi/Zhong Yuan  – NTD

Kuba, satu-satunya kediktatoran komunis di Amerika dan negara kepulauan Karibia, banyak warga turut berpartisipasi demonstrasi anti-pemerintah terbesar dalam beberapa dekade. Para pengunjuk rasa juga bersumpah untuk menggulingkan Partai Komunis, aksi yang sangat langka terjadi. 

Peristiwa itu terjadi pada 11 Juli 2021, demonstrasi anti-pemerintah terbesar sejak tahun 1959, meledak di Kuba yang berada di bawah kediktatoran komunis. Menurut laporan, ada 40 demonstrasi yang tersebar di seluruh negeri pada hari itu.

Para Pemrotes Kuba berkata : “Kami mati kelaparan, Havana runtuh. Kami tidak punya rumah untuk ditinggali, kami tidak punya apa-apa, tapi mereka punya uang untuk membangun hotel, dan kami kelaparan.”

Sejak tahun lalu, ekonomi Kuba  menyusut 11% karena pukulan keras dari epidemi dan sanksi AS, penurunan terburuk dalam 30 tahun terakhir. Negara itu juga dilanda kekurangan makanan dan obat-obatan, dan kehidupan masyarakat sangat sulit.

Pada 11 Juli, Kuba melaporkan hampir 7.000 kasus infeksi virus Komunis Tiongkok.

Feng Chongyi, seorang pakar Tiongkok di Australia mengatakan: “Pada awalnya, itu karena masalah pangan dan epidemi, tetapi dengan cepat berubah menjadi protes politik, yang secara langsung menyerukan diakhirinya kediktatoran Partai Komunis.”

Orang-orang Kuba yang marah berteriak, “Turunkan kediktatoran”, “Kebebasan”, dan “ Diaz-Canel mundur.” 

Para pengunjuk rasa bahkan berteriak di depan markas Partai Komunis: “Kuba bukan milikmu!” Mereka bersumpah untuk menggulingkan Partai Komunis.

Pemandangan seperti itu belum pernah terjadi di Kuba.

Chen Weijian, pemimpin redaksi majalah “Beijing Spring”, mengatakan bahwa, setelah Castro bersaudara berkuasa,  Diaz-Canel, yang mengambil alih kekuasaan, setelah melakukan pembukaan ekonomi skala kecil, tetapi sifat kediktatoran partainya tidak berubah.

Pemimpin redaksi majalah “Beijing Spring” Chen Weijian menilai: “Karena situasi ekonominya yang buruk, sulit untuk mempertahankan ekonomi sosialisnya. Orang-orang muda sangat tidak puas, jadi ini memicu protes ini.”

Warga  Kuba di pengasingan juga berdemonstrasi di Florida, Amerika Serikat, Kegiatan tersebut dalam rangka solidaritas dengan rekan-rekan mereka di negara itu.

Ada juga banyak anggota Kongres Amerika yang mendukung rakyat Kuba.

Senator Republik Kuba-Amerika Marco Rubio mengatakan: “(Orang Kuba) Apa yang mereka protes? Mereka telah hidup di bawah tirani selama 62 tahun.”

Senator Kuba-Amerika, Ted Cruz mentweet bahwa rezim Komunis Kuba akan dibuang ke tempat pembuangan sampah sejarah.

Namun, menurut organisasi hak asasi manusia Cubalex yang diasingkan, sejak 11 Juli, setidaknya 100 orang telah ditangkap di seluruh Kuba.

Polisi menggunakan semprotan merica pada para demonstran dan memukuli mereka.

Pemrotes Kuba menuturkan : “Departemen keamanan nasional memukuli saya dan putri saya yang masih di bawah umur. Mereka memukuli kami hanya karena kami sedang berjalan di jalan.”

Pada  12 Juli, jalan-jalan Havana telah kembali tenang, tetapi masih ada sejumlah besar pengerahan polisi.

Untuk mencegah para pengunjuk rasa menyiarkan langsung di jejaring sosial, pihak berwenang Kuba menutup layanan Internet. Saat ini, jaringan seluler telah gagal dari waktu ke waktu.

Pemimpin tertinggi Kuba dan pemimpin Partai Komunis, Miguel Díaz-Canel, menuduh Amerika Serikat sebagai sumber kekurangan pasokan Kuba. Ia menuding aksi protes ini didanai dan dihasut oleh pemerintah AS.

Komentar tersebut menunjukkan bahwa, apa yang dituduhkan rezim komunis di Kuba sama dengan argumen yang kerap disampaikan Komunis Tiongkok, yang tidak dapat dipertahankan.  Semua masalah dalam negeri hingga ketika terjadi protes rakyat terhadap pemerintah, maka selalu dikatakan direncanakan oleh Amerika Serikat.

Chen Weijian menuturkan : “Anda, seperti Kuba, ada lebih dari dua juta orang melarikan diri ke AS. Orang Kuba yang kaya telah melarikan diri ke AS. Setelah setengah abad, mereka memiliki fondasi yang baik di AS. Sekarang Kuba mengalami kegagalan ekonomi, dikatakan sebagai penyebab sanksi AS, sama sekali bukan demikian. Hingga saat ini, imigran Kuba masih dapat mengirim uang ke Kuba.”

Gedung Putih Amerika Serikat membantah klaim Kuba bahwa, Amerika Serikat harus bertanggung jawab atas gangguan publik, dan menganggap ini kesalahan serius.

Presiden AS Joe Biden juga menyatakan dukungan untuk rakyat Kuba pada  Senin 12 Juli. Ia memperingatkan pihak berwenang Kuba untuk tidak menggunakan kekerasan terhadap para demonstran.

Tetapi, senator AS dari Republik, marco Rubio dan Graham masih menganggap Biden lambat bereaksi.

Chen Weijian mengatakan: “Kuba, sebuah rezim komunis di halaman belakang Amerika Serikat, selalu menjadi ancaman bagi Amerika Serikat. Amerika Serikat seharusnya tidak hanya mendukung secara moral, tetapi juga mendukung secara substantif.”

Di sisi lain,  daratan Tiongkok dan media resmi Komunis Tiongkok melaporkan bahwa, mereka mengutuk Amerika Serikat tanpa menyebutkan tuntutan rakyat Kuba yang ingin pengunduran diri rezim Komunis.

Komentator percaya bahwa ini menunjukkan bahwa Komunis Tiongkok sangat ketakutan.

Feng Chongyi menegaskan, “Tentu saja takut. Bahkan di Spring Arab sebelumnya, juga takut akan revolusi warna ini. Ia tidak berani melaporkan slogan dan tuntutan politik untuk menggulingkan Partai Komunis. Itu sangat mengkhawatirkan!”

Chen Weijian mengatakan bahwa, hanya ada beberapa rezim komunis yang tersisa di dunia. Jika Partai Komunis Kuba juga jatuh, maka  menjadi pukulan telak bagi partai Komunis Tiongkok! (Hui)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments